My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Di Persimpangan


__ADS_3

Mereka menyusuri jalanan jakarta yang lengang karena sudah begitu larut. Semuanya berjalan lancar hingga mereka sampai dikawasan kemayoran, kawasan ini cukup sepi.


Alia segera memberitahu Santoso apa yang ada dalam benak pikirannya. Tak lupa ia juga menyiapkan senjata dan menghubungi para pengawalnya yang harusnya tidak terlalu jauh dariny.


“Kemana orang-orang kita? Kenapa tidak ada yang menjawab satupun?” tanya Alia. Santoso lalu memeriksa semua anak buahnya.


“Celaka Nona, mereka diserang dan hanya ada beberapa yang tidak terluka.” Ucap Santoso.


“Kenapa mereka tidak mengabari kita?” tanya Alia.


“Maaf Nona, ini kecerobohan saya, saya tidak menghubungkan mereka dengan kita.” Ucap Santoso.

__ADS_1


Alia langsung mendengus keras karea merasa Santoso begitu ceroboh dan mengabaikan keselamatan mereka. Kejadian yang menimpanya semalam membuat Alia begitu sensitif dan waspada kepada hal yang seperti ini.


Saat yang tidak diharapkan kini malah terjadi. Di persimpangan yang mengarah ke daerah Jakarta Utara dari kemayoran, mereka disergap dari segala arah. Walau ada gang Tornado yang mengawasi tetap mereka kalah jumlah. Alia sudah meminta tambahan orang dari markas Gang Tornado yang berada di pabrik kosong tempat Jaya disekap waktu itu, mereka akan tiba dalam lima belas menit karena jaraknya tidak jauh da ada beberapa anggota yang sedang patroli diluar.


“Tugas kita adalah bertahan selama mungkin, dan lari kalau memungkinkan.” Ucap Alia. Santoso mengangguk setuju dengan perkataam Nonanya.


Punggawa Wijaya yang terluka langsung mengabari markas pusat mereka di Semarang, tepatnya di kediaman Wijaya tentang penyerangan ini. Alia menyelipkan sebuah pisau di pinggangnya dan menenteng pistol semi otomatis.


“Serang!!!!” tanpa basa basi mereka saling menyerang. Santoso terus berada di sisi Alia hingga suatu ketika ada seseorang yang hendak menebas kepala Dedi dari belakang sehingga Santoso harus menolongnya dan menjauh dari Alia.


Dan dari sini pula celah Alia terbuka begitu lebar karena dia dikeroyok beberapa orang. Bertarung satu lawan satu dengan berhadapan dengan beberapa orang sekaligus benar-benar berbeda. Ia harus ekstra hati-hati karena mereka semua bersenjata dan begitu lihai menggunakannya.

__ADS_1


CRASSSHH!! Seseorang mengayunkan goloknya ke arah Alia dan berhasil mendaratkannya ke punggung Alia dengan mulus. Darah segera merembes dari balik kemeja yang ia gunakan. Alia memegangi lengan kanannya yang juga terluka dan merasakan kali ini lukanya begitu panjang mungkin sekitar 25 cm panjangnya karena separuh lebar punggung sampai lengan kanannya terluka. Santoso bergerak secepat mungkin kearah Nonanya karena melihat beberapa orang memanfaatkan kesempatan ini untuk menghabisi Alia.


Semangat Punggawa Wijaya kembali tersulut bersama rasa emosi yang membakar jiwa mereka karena melihat Nona mereka dilukai. Dedi sebenarnya marah kepada Santoso karena meninggalkan nonanya demi menyelamatkan dirinya. Entah apa yang akan mereka terima dari Tuan Besar setelah mendengar kebenaran ini.


Alia segera ditarik mundur oleh Santoso. Ada beberapa orang yang mengejarnya namun Dedi dan yang lainnya langsung menahan mereka.


Alia memejamkan matanya karena menahan perih luar biasa dan Santoso mengira Alia pingsan.


“Nona, sadarlah! Sadarlah!” teriak Santoso ditelinga Alia yang langsung dijawab dengan sebuah tamparan.


“Berhenti bersikap bodoh! Aku tidak akan mati semudah itu!" pekik Alia yang kesal setengah mati. Dirinya sedang berusaha untuk tetap tenang malah Santoso berteriak di telinganya dan sontak menyulut emosinya.

__ADS_1


__ADS_2