My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Digempur!!!


__ADS_3

"Sial!!!!" Pekik komandan Ucok.


Dirinya segera menekan tombol bantuan.


Jaya segera meresponnya.


"Tim sniper sudah berjarak 500 meter lagi, bertahanlah." ucap Jaya.


Mobil SUV yang ditumpangi Jaya dan timnya juga tidak terlalu jauh.


Pihak lawan memblokade jalan hingga menyebabkan kemacetan dari segala arah. Jaya dan timnya keluar dari mobil dan hanya menyisakan si sopir yang mengendarai mobil. Mereka berusaha tiba di lokasi penyerangan secepat mungkin.


Mobil yang ditumpangi oleh Pak Broto dan komandan Ucok digempur dengan tembakan dari segala sisi. Komandan Ucok mulai khawatir karena bantuan tak kunjung datang.


Tak lama kemudian suara tembakan berhenti. Komandan ucok menarik Pak Broto keluar dari mobil.


"Bruakh!!!" Komandan Ucok mulai menghajar orang orang yang berani menyerangnya. Dan benar saja, mereka dari geng Tornado.


Sreettth!! Salah seorang anggota geng Tornado berhasil mengoyak lengan kanan komandan Ucok.


"Shitt!!" Pekik komandan Ucok.


Dirinya kini mulai diberondong peluru dari segala arah, dan untung saja pelurunya masih tertahan dirompinya.


Alhasil kini rompi tahan pelurunya terasa semakin berat dan menyulitkan pergerakan komandan Ucok.

__ADS_1


"Gawat,, mereka digempur." Ucap Jaya.


Tim sniper mulai mencari posisi yang aman.


Untung saja lokasi penyerangannya berada di lereng bukut jadi tim sniper bisa dengan mudah berkamuflase.


Shuut!! shoot shoot,,


Baru saja bersiap, pasukan musuh sudah berhasil melumpuhkan tim sniper Satya Yudha. Dan parahnya dua diantaranya tewas ditempat.


Sebuah pukulan keras untuk Jaya dan rekan rekannya.


"Kalian tunggu disini, aku akan maju sendiri. Kalian waspadalah dan awasi pergerakan disekitar sini." ucap Jaya.


Jalanan yang tadinya macet kini sudah mulai sepi karena para pengguna jalan yang memilih putar balik karena takut terkena peluru nyasar.


Kondisi Pak Broto juga tidak terlalu baik. Jiwanya begitu tertekan karena berada ditengah medan pertempuran.


Walaupun dirinya seorang mantan detektif tapi dirinya tidak pernah baku tembak secara langsung.


Terdapat luka tembak di bahu kiri Pak Broto, menyebabkan pendarahan hebat yang membuat Pak Broto begitu lemah.


Komandan Ucok juga sudah pasrah karena dirinya kini semakin terdesak.


"Argh!!" Teriak Komandan Ucok putus asa.

__ADS_1


Disaat komandan ucok mulai dikepung para anggota Tornado, Jaya dengan begitu berani dan percaya diri mulai melumpuhkan musuh dengan menembak kedua kakinya.


Yang awalnya gang Tornado ingin bersenang senang dengan menyiksa Komandan Ucok terlebih dahulu, kini mereka berubah pikiran dan mulai menghujani Komandan Ucok dengan tembakan.


Ada 4 peluru yang berhasil menembus rompinya, tali hanya dua yang benar benar dalam.


Walau sendiri tapi Jaya begitu mahir dan efisien dakam menggunakan senjata. Apalagi persediaan amunisinya cukup banyak.


Dalam sekejap, hampir semua anggota gang tornado sudah terkapar. Jaya tak mau menunda lagi dan segera menuntaskannya.


Jaya mendekati Komandan ucok yang sedang berusaha melepas rompinya.


Jaya lalu membantunya, namun komandan ucok meminta Jaya untuk mencari Pak Broto.


Ternyata Pak Broto berada di tiang sandaran jembatan, dan kondisinya mulai kritis. Jaya langsung berlari mendekatinya.


Pak Broto mulai ter engah engah.


" Anak muda,,,,, akuh,,, aku percayakan,,," belum selesai Pak Broto berkata, dirinya mengeluarkan sebuah hard disk. Jaya langsung menyimpannya di saku jas bagian depannya.


"Bertahanlah,,,"


Slurppp!! Ada yang menembak Pak Broto dan tepat mengenai perutnya. Pak Broto langsung tumbang dan terjatuh dari jembatan.


Jaya langsung menangkapnya.

__ADS_1


"Arghhhh!!!"


__ADS_2