My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Meyakinkan


__ADS_3

Tiga hari sudah Pak Eko dirawat di kediaman Wijaya, kondisinya kini sudah jauh lebih baik.


Ada suatu hal yang mengganjal dipikiran Pak Eko. Saat Ayahnya sedang memeriksa kondisinya, Pak Eko mengungkapkan isi pikirannya.


"Ayah, aku mau mengatakan sesuatu." ucap Pak Eko.


" Ada apa?" tanya Pak Surya.


"Aku mau ikut seleksi Satya Yudha." ucap pak Eko.


Dirinya khawatir kalau sampai Ayahnya tidak mengizinkannya.


"kapan?" tanya pak Surya lagi. Kini dahinya yang sudah berkeriput semakin berkerut.


"Tiga hari lagi." Jawab pak Eko


"hmmmm,,, apa kamu yakin?" Pak Surya memastikan Putranya sudah menimbang nimbang apa yang akan dia lakukan.


"Aku yakin, Ayah." jawab Pak Eko yakin.


"Ayah perlu pembuktian." balas Pak Surya. Dirinya tidak mau putranya terlalu memaksakan diri.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Pak Eko pada Ayahnya.


"Coba berdiri, dan ikut ayah." tantang Pak Surya.


Pak Eko mempersiapkan dirinya, lalu mulai bangun. Lukanya terasa nyut nyutan tapi Pak Eko tahan.


Kini pak Eko dalam kondisi berdiri.


Pak Surya mengarahkan Putranya agar berjalan keluar kamar menuju halaman belakang.

__ADS_1


"Tesnya apa saja?" tanya Pak Surya


"Lari, berenang, naik gunung, pull up, sit up, push up, back up." Ucap Pa Eko.


"Baiklah, kalau kamu mau meyakinkan Ayah, lakukan semuanya masing masing lima kali saja. Kalau kamu sanggup akan Ayah izunkan, tapi kalau tidak ya sudah, lain kali saja kalau ada peluang lagi." Ucap Pak Surya.


Pak Eko membelalakan matanya, Tidak percaya kalau Ayahnya akan melakukan hal ini.


"Kamu tidak sanggup?" ucap Pak Surya memastikan.


" Aku akam berusaha sebaik mungkin." ucap Pak Eko semangat.


Pak Eko mulai melakukan pemanasan. Dirinya kali ini harus memaksa sampai batas kemampuannya.


"Anak ini entah gigih atau keras kepala. Mungkin ini salah satu sifatku yang menurun padanya. Kadang aku kagum akan kegigihannyan namun keras kepalanya serung membuat kepalaku sakit." Batin Pak Surya.


Pak Surya ikut deg degan saat putranya akan melakukan push up.


"Arghhh!!!" teriak Pak Eko di push up hitungan kelimanya.


Keringat dingin mulai bercucuran, bukan karena lelah namun karena menahan sakit yang amat sangat.


"Masih mau lanjut?" tanya pak Surya


Pak Eko hanya mengangguk sembari mengatur nafasnya.


Pak Eko kembali berdiri dan mulai memegang tiang Pull up.


****


"Papa kemana, Eyang?" tanya Adel ke Bu Santi.

__ADS_1


"Eyang juga tidak tau, coba ditaman belakang." jawab Bu Santi. Adel lalu pergi ke taman belakang.


Adel dan Bu Santi begitu terkejut ketika melihat papanya sedang Push up dan juga terlihat kesakitan. Adel segera bertanya ke Eyang kakungnya tentang apa yang sedang dilakukan oleh papanya.


"Eyang, papa kok push up?" tanya Adel kebingungan.


Pak Surya hanya tersenyum.


Melihat putranya sudah selesai push up, Pak Surya segera mendekatinya.


"Masih mau lanjut?" tanya pak Surya. Pak Eko hanya mengangguk.


Beberapa menit kemudian Pak Eko berdiri dan hendak melakukan Pull up ketika tiba tiba Adel meraih tangannya.


"Apa yang papa lakukan? Jangan memaksakan diri, pa. Jangan siksa diri papa seperti itu." Ucap Adel. Adel tidak mau kalau sampai terjadi apa apa ke Papanya.


Pak Eko memegang bahu Adel, lalu mendekatkan mukanya ke muka putrinya. Pak Eko mulai mengatakan sesuatu.


"papa harus melakukan sesuatu. Eyang butuh pembuktian kalau Papa itu kuat, Papa tidak lemah, kamu harus dukung Papa, Del." Ucap Pak Eko menggebu gebu.


Pak Eko melepaskan genggamannya dari bahu Adel, lalu mulai melakukan pull up.


"Yaarrrghhbb!!" teriak pak Eko.


Adel berlari ke arah eyang Kakungnya.


"Eyang, hentikan papa, nanti dia semakin parah, Adel mohon." ucap Adel ke Eyangnya, mata Aeel mulai memerah,, air matanya mulai pecah.


Pak Surya tidak tega melihat cucunya menangis.


"Eko, cukup!!!" teriak Pak Surya. Pak Eko langsung berhenti.

__ADS_1


__ADS_2