
"Bagaimana, Pak?" tanya Jaya ke Pak Perwira.
" Semuanya sudah siap, ayo berangkat." ucap Pak Perwira sembari membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
"Baiklah,," jawab Jaya.
Mereka berdua menuju Jakarta d3ngan menggunakan mobil mercy hitam milik Jaya.
"Bagus juga mobil kamu, Jaya." puji Pak Perwira.
Jaya hanya tersenyum menanggapi pernyataan Pak Perwira.
"Apa usaha sampingan kamu, Jay?" tanya Pak Perwira penasaran.
Walau gaji Satya Yudha cukup besar namun harga mobil Mercy juga cukup mahal dan Jaya baru bergabung di Satya Yudha selama beberapa bulan.
"Alhamdulillah ada sedikit, Pak." Jawab Jaya sulingkat dan masih fokus menyetir mobilnya.
Pak Perwira tidak bertanya lebih jauh walau masih penasaran karena merasa Jaya tidak ingin diketahui latar belakangnya.
Pak Perwira mencoba mengalihkan topik pembicaraan dengan menanyakan kondisi Jaya.
"Bagaimana kondisi lukamu, Jay?" tanya Pak Perwira.
"Alhamdulillah sudah membaik, Pak. Sekitar 80 persenlah." Jawab Jaya.
__ADS_1
"Bagaimana tangan kamu bisa sembuh secepat itu?" tanya Pak Perwira lagi.
"Saya menggunakan berbagai macam cara untuk sembuh. Saya cukup kesulitan mengandalkan tangan kiri karena memang basic nya saya bukan left handle." jawab Jaya terus terang.
"Jaya,,," ucap Pak Perwira pelan. Kata katanya seperti tidak ingin dilanjutkan lagi.
Jaya menengok ke arah Pak Perwira.
"Iya, Pak?" tanya Jaya yang masih menatap Pak Perwira.
"Kamu tahu kenapa kamu saja yang saya libatkan dalam kasus ini?" tanya Pak Perwira.
"Tidak, memang kenapa, Pak?" ucap Jaya. Jawabannya sekaligus mengandung pertanyaan untuk Pak Perwira.
"Karena saya percaya kamu." ucap Pak Perwira. Jaya menanggapinya dengan mengangguk paham.
Sheet!!! mobil tiba tiba berhenti membuat Pak Perwira terkejut.
"Ada kucing lewat." ucap Jaya santai dan tersenyum melihat ekspresi Pak Perwira tadi waktu terkejut.
"Fiurhh,,," Pak Perwira menghela nafas lega.
"Terima kasih anda sudah percaya ke saya." ucap Jaya.
"Apa hanya itu alasan Anda melibatkan saya?" lanjut lagi dan kali ini membuat Pak Perwira terkejut.
__ADS_1
"Hmmm,,, sepertinya kamu mulai nebak nebak sesuatu." ucap Pak Perwira mencoba mengelak.
"Ini hanya pikiran saya ya pak. Saya rasa itu alasan yang masuk akal namun tidak cukup kuat."Ucap Jaya lagi.
"Baiklah, saya akan jujur." ucap Pak Perwira dengan berat hati.
Pak Perwira menghela nafas panjang sebelum memulai penjelasannya.
"Kasus ini terlalu besar dan terlalu berbaha_" ucap Pak Perwira. Jaya langsung memotongnya.
" Jadi bapak mau menempatkan saya dalam bahaya?" Jaya iseng memancing Pak Perwira.
"Tidak,, tidak seperti itu. Justru kamu yang menyerwt saya dalam semua ini." ucap Pak Perwira gugup. Jaya tertawa melihat tingkah laku atasannya.
Ditempat lain, tepatnya di kedai kopi, dua orang sedang membicarakan sesuatu yang terdengar penting.
"Bagaimana? Apa tuan Fred mengabarimu?" tanya orang yang satu.
"Baru mengabari bahwa ada yang masih hidup." ucap yang satunya lagi.
"Apa tuan Fred meminta kita membereskannya?" tanya orang pertama.
"Tidak, Tuan Fred hanya meminta kita menunggu dan mengirim semua informasi terbaru." ucap Orang yang satu.
Orang pertama mengangguk lalu berjalan keluar.
__ADS_1
Mereka menuju ke mobil polisis yang terparkir berdampingan. Ternyata mereka adalah dua dari banyak polisi yang korup.
Tidak hanya polisi, masih banyak juga pejabat pemerintah yang mementingkan diri sendiri dan berpihak pada para mafia.