
Pagi-pagi sekali Pak Surya sudah ke kamar Santoso untuk memeriksa kondisinya.
“Walau menggunakan ramuan ini sekalipun ternyata kamu masih belum layak tanding. Jangan memaksakan diri, Santoso.” Ucap Pak Surya.
“Saya tidak ingin mempermalukan Nona Alia, Tuan Besar.” Jawab Santoso.
“Tapi kondisimu tidak memungkinkan.” Ucap Pak Surya lagi.
“Saya yakin bisa bertahan dan memenangkan pertandingan ini. Doakan yang terbaik untuk saya Tuan Besar.” Balas Santoso.
“Kalau itu memang keputusan kamu, saya hanya bisa pasrah. Yang jelas kamu harus ekstra hati-hati dan gunakan perban yang cukup tebal.” Perintah Pak Surya.
Santoso lalu mengambil segulung perban dilacinya dan meletakannya di atas tempat tidur.
Santoso juga mengambil beberapa ramuan yang diberi oleh Pak Surya kemarin. Pak Surya segera menawarkan diri untuk membantu Santoso mengoleskan ramuan-ramuan herbal tersebut.
Santoso duduk di hadapan Pak Surya lalu melepas kaos yang dikenakannya. Pak Surya membersihkan luka Santoso dengan air hangat lalu mengoleskan ramuan herbal tersebut ke luka Santoso.
Santoso meringis menahan perih dan mencoba untuk tetap tenang. Pak Surya membalut luka Santoso dengan perban.
“Tuan, Saya pasti bisa, anda jangan khawatir.” Ucap Santoso.
“Kamu sudah seperti cucu saya sendiri, saya menyayangi kamu dengan tulus.” Ucap Pak Surya lalu memeluk Santoso. Santoso begitu terharu karena ini pertama kalinya Pak Surya memeluknya.
“Selamat berjuang!” ucap Pak Surya dibalas dengan anggukan mantap oleh Santoso.
Pak Surya meninggalkan Santoso sendirian di kamar.
Pak Surya menuju rooftop rumahnya dimana tempat tersebut akan dijadikan tempat pertandingan yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi. Setelah melihat semua persiapan dan dinilai cukup, Pak Surya turun menuju meja makan untuk sarapan bersama.
Sudah ada Alia, Taufik, dan Mona yang sudah menunggunya di meja makan.
Pak Surya duduk di kursinya. Bu Mona segera mengambilkan nasi beserta lauk pauk ke piring Pak Surya. Setelah itu mengambilkan untuk Taufik, Alia, dan terakhir untuk dirinya.
Pola sarapan Pak Surya memang benar-benar seperti orang Indonesia dimana mereka langsung memakan nasi atau makanan berat lainnya untuk sarapan.
__ADS_1
Sedangkan Alia yang sudah bertahun-tahun hidup di Jakarta dan menjalani pola makan yang ketat tidak terbiasa dengan sarapan yang berat namun seiring berjalannya waktu dirinya mulai bisa beradaptasi.
Bisa saja Bu Mona menyiapkan roti atau sereal untuk Alia tapi Pak Surya tidak senang dengan hal itu.
Setelah selesai makan, mereka ngobrol santai selayaknya keluarga pada umumnya.
“Al, Jonathan ganteng, kenapa kamu nggak mau?” tanya Taufik kepo.
“Dia manja, aku tidak suka. Lagipula aku juga sudah memiliki kekasih, Om.” Ucap Alia.
“Benarkah? Siapa?” tanya Taufik lagi. Bahkan sekarang wajahnya terlihat sangat penasaran.
“Dia sekarang sedang sekolah militer, dia cerdas tapi ingin jadi tentara, aku akan menunggunya.” Ucap Alia santai, namun wajahnya memancarkan rasa rindu mendalam.
Alia tertunduk lesu mengingat Jaseth. Liburan masih lama, dia bingung bagaimana cara agar bisa bertemu dengan kawannya, atau,,, pujaan hatinya.
“Di Magelang?” tanya Pak Surya. Alia mengangguk.
“Eyang punya rekan di sana.” Ucap Pak Surya.
“Walau Eyang punya rekan di sana, itu tidak menjamin aku bisa bertemu dengannya.” Jawab Alia lesu.
“Pertandingan nanti bagaimana, Ayah?” tanya Taufik. Dirinya hanya berada di dalam kamar selain makan atau keperluan mendesak lainnya karena harus cepat pulih, jadi tidak tahu sejauh mana persiapan mereka sudah selesai.
“Hampir semuanya sudah siap, yang akan jadi wasit master J.” Ucap Pak Surya yang begitu mengejutkan Alia.
“Master J?” tanya Alia memastikan.
“Iya, kemarin Eyang sudah konfirmasi, nanti jam setengah empat bakal udah di sini, tapi waktu luangnya Cuma satu jam. Eyang juga sudah memastikan bahwa nanti sore Pak Andreas, victor sama Jonathan datang tepat waktu.” Jelas Pak Surya.
“Terima kasih eyang, sudah menyiapkan semuanya.” Ucap Alia.
“Tentu saja.” Jawab Pak Surya.
“Kenapa Pak Andreas dan Viktor juga datang?” tanya Taufik.
__ADS_1
“Nanti kalau Jonathan pulang babak belur bisa-bisa mereka menyangka kita tidak adil kalau tidak melihatnya sendiri." Jawab Alia.
Taufik hanya bisa oooooooo.
“Kalau Santoso kalah bagaimana, Al?” tanya Bu Mona yang membuat Alia tersedak nafasnya sendiri.
“Ya tuhan, semoga Santoso menang. Kalau dia kalah maka aku akan mengatakan kepada Pak Andreas bahwa aku sudah punya lelaki idaman, dan meminta Pak Andreas harap memakluminya.” Ucap Alia nyerocos tak berhenti.
Dia tidak bisa membayangkan berpacaran dengan anak manja, yang selalu sok jagoan, tengil, songong, walau lebih ganteng dari Jaseth sekalipun, Alia tidak akan terpincut.
Jaseth memang kalah ganteng tapi dia lebih manis dari siapapun.
Bu Mona yang mendengar jawaban Alia langsung tertawa diikuti oleh Pak Surya dan Taufik yang malah lebih terpingkal.
“Baiklah, apa sudah puas menggoda aku?” tanya Alia sebal.
“Belum,,” ucap Taufik yang masih tertawa. Alia reflek menepuk punggung Taufik dan membuat taufik menjerit kesakitan.
“Jangan main tepuk aja dong, sakit nih.” Gerutu Taufik sebal.
“Om dulu yang mulai.” Jawab Alia.
Mungkin ini yang disebut karma instan. Punggung Alia terantuk sandaran kursi dan menyebabkan Alia juga memekik kesakitan.
Pak Surya yang sudah mulai bosan melihat tingkah mereka berdua memilih meninggalkan meja makan.
Alia juga pergi ke kamarnya untuk memeriksa lukanya bersama Bu Mona.
Taufik berjalan menuju gazebo di mana dirinya sebenarnya sangat suntuk berada di rumah terus seperti ini.
“Ternyata ini alasan Mas Eko tidak mau berbisnis. Sungguh membosankan.” Gerutu Taufik.
Dulu saat dirinya mengajar di dojang (tempat latihan Taekwondo) dirinya bisa menikmati alam bebas sesukanya. Dia tidak seperti Rahmat kakaknya yang bisa menikmati rutinitas barunya menjalankan bisnis yang ada di Bandung.
Mereka bahu membahu saling membantu dalam pekerjaan agar tidak terlepas satu sama lain.
__ADS_1
Taufik menyalakan musik lewat ponselnya dan dengan perlahan menyenderkan bahunya di kursi yang ia duduki .
Tak terasa dirinya malah terlelap di gazebo tersebut tanpa ada orang yang ingin mengganggu tidurnya.