My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Cemas


__ADS_3

Di Ruang Medis, Santoso sedang meronta kesakitan.


Pak Surya hendak melepas perbannya namun Santoso malah memberontak.


“Aarrggghhhh!!!” Teriak Santoso.


Alia terkejut karena baru pertama kalinya dia mendengar Santoso seperti itu.


“Al, kamu boleh keluar sekarang atau di sini tapi jangan kaget.” Ucap Pak Surya mengigatkan.


“Ada baiknya keluar saja, Al.” Saran Bu Mona.


“Enggak, Ma. Ini juga salah aku.” Ucap Alia terlihat meŕasa bersalah.


“Ya sudah, tapi jangan keluar-keluar.” Ucap Pak Surya memperingatkan.


“Iya Eyang.” Jawab Alia.


“Dedi dan Andre, pegang Santoso kuat-kuat.” Ucap Pak Surya.


Dirinya yakin kalau Santoso begitu kuat dan jika terus meronta maka akan sangat merepotkan.


“Baik, Tuan Besar. “ jawab Dedi.


Dedi langsung memegang tangan kanan serta bahu kanan Santoso, sementara Andre memegang tangan kiri dan bahu kiri Santoso. Kedua kaki Santoso juga sudah terikat.


“Maaf,” lirih Pak Surya sebelum dirinya menarik perban yang melekat di luka Santoso dengan paksa.


Perban tersebut adalah perban tahan air dan terdapat lem di tepinya. Luka Santoso semakin melebar sampai ke bagian yang terdapat lemnya.


Jika ditarik dengan perlahan maka Santoso akan merasa sakit dalam waktu relatif lama.


“Argghhh!!!” teriak Santoso kesakitan.


Alia membungkam mulutnya dengan tangan kirinya, tak tega sekaligus merasa salah terhadap Santoso.


Pak Surya menuang alkohol ke atas luka Santoso, lalu menyekanya hingga berulang kali.


Setelah darahnya tidak keluar lagi, Pak Surya mengeluarkan 3 buah kapsul berwarna merah hitam, lalu membuka kapsul tersebut dan menuangkan isinya ke piring kecil yang sudah berisi getah gangga cair karena dipanaskan.


Pak Surya mengaduk obat tersebut hingga merata lalu kembali memanaskannya hingga gelembung-gelembung kecil keluar karena ramuan tersebut sudah mendidih.


Pam Surya memberi kode agar Santoso dipegang lebih erat.


Pak Surya menuang seluruh ramuan tersebut ke luka Santoso yang menganga, membuat pemuda tersebut menggelinjang menahan sakit.


Alia mendatangi Santoso dan membelai wajahnya dengan air mata berlinang. Santoso juga sudah menangis dari tadi karena rasa sakit yang mendera.


Namun Santoso berusaha tenang agar Nonanya juga tenang.


Bu Mona menutup luka Santoso dengan kasa tipis agar lukanya cepat mengering.


Dedi dan Andre juga melepaskan cengkraman mereka dan menyeka keringat yang menetes di dahi mereka.


“Al, ayo, Santoso harus istirahat.” Ajak Bu Mona.


“Aku mau di sini dulu, Ma.” Ucap Alia. Alia bersikukuh ingin menemani Santoso.

__ADS_1


“Sudahlah, biarkan mereka berdua.” Ucap Pak Surya.


“Terima kasih, Eyang.” Ucap Alia.


Semua orang pergi kecuali Alia dan Santoso.


Keheningan terjadi cukup lama sebelum Alia memecahnya.


“Kenapa kamu tidak bilang?” tanya Alia marah.


“Nona, tolong jangan marah, lukaku masih sangat sakit,” ucap Santoso memelas.


“Aku tidak peduli.” Ucap Alia sebal.


Santoso hanya tersenyum tipis. Saat marah Alia terlihat lebih menggemaskan, pikirnya.


“Nona, kenapa tidak istirahat.” Tanya Santoso.


“Kamu mau usir aku?” Alia menatap Santoso tajam.


“Tidak nona, bukan seperti itu.” Ucap Santoso.


“Anda juga sedang terluka, saya khawatir terhadap kesehatan anda.” Ucap Santoso lagi.


“Kamu mengkhawatirkan orang lain namun mengabaikan diri sendiri, orang macam apa kamu ini?” jawab Alia ketus.


“Argh,,, “ rintij Santoso.


“Apa benar-benar sakit?” tanya Alia yang kini mulai melunak.


Amarahnya memuncak bukan berarti dia membenci Santoso namun dirinya marah karena Santoso tidak jujur.


“Istirahatlah hingga benar-benar pulih, jangan memaksakan diri.” Ucap Alia.


Santoso begitu senang karena Alia memperhatikannya.


“Nona, kenapa kau begitu khawatir? Luka ini tidak seberapa, bahkan anda tidak sekhawatir ini saat Tuan Muda Taufik terluka.” Tanya Santoso.


“Kalau kamu sakit siapa yang membantuku?” Jawab Alia.


“Aku tetap bisa menyelesaikan tugasku, nona. Walau dari atas tempat tidur.” Ucap Santoso.


Santoso kembali meringis kesakitan karena lukanya.


Alia meniup luka Santoso agar lebih baik.


“Nona, istirahatlah.” Bujuk Santoso.


Santoso tidak ingin Alia malah tidak sembuh-sembuh.


“Tidak, kamu yang harus istirahat.” Balas Alia.


“Bagaimana aku mau istirahat? Kalau nona tetap disini aku tetap tidak bisa tidur.” Ucap Santoso.


“Benarkah? Kenapa?” tanya Alia penasaran.


“Aku pengawalmu dan harusnya menjaga anda nona, tidak seharusnya anda berada di sini.” Ucap Santoso.

__ADS_1


“Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja, aku merasa tidak enak karena kamu terluka seperti ini karena aku.” Balas Alia.


“Tidak, Nona. Tidak sama sekali. Luka ini memang sudah begitu parah dari awal. Ramuan dari Tuan Besar yang membuat luka ini begitu cepat pulih.” Jelas Santoso.


“Kenapa Eyang tidak mengatakannya padaku?” gumam Alia.


“Saya yang memintanya. Kalau Nona tau saya sedang terluka anda tidak akan mengizinkan saya bertarung dan itu akan membuat saya malu, Nona.” Jelas Santoso.


“Nona, maaf jika aku tidak sopan, tapi aku ingin benat-benar sendiri.” Ucap Santoso memelas.


“Hm,, baiklah.” Jawab Alia singkat sebelum dirinya melangkahkan kaki meninggalkan kamar Santoso.


Alia menemui Master J di ruang tamu.


Terlihat master Theo juga duduk di samping Master J.


“Hallo master.” Sapa Alia.


“Hallo, Al, siapa yang membuatmu seperti ini?” tanya Master J.


“Sekawanan preman.” Jawab Alia dengan senyum menyungging dibibirnya.


“Saya baik-baik saja, Master.” Ucap Alia lagi.


“O iya, pengawal kamu hebat juga.” Puji Master J.


“Kalau pengawalku orang lemah itu hanya membuatku susah, Master.” Jawab Alia.


Master J tertawa pelan mendengar ocehan Alia.


Menurutnya memang masuk akal orang yang tidak pandai bertarung hanya akan menyusahkan Alia apabila ada masalah.


“Aku tidak menyangka bahwa pengawalmu sedang terluka seperti itu, cara dia bertarung sungguh profesional.” Puji Master Theo.


“Aku bahkan tidak tahu kalau dia sedang terluka, Master.” Jawab Alia.


“Hm,, cukup mengejutkan. Oiya Al, saya harus ada pertemuan dan seharusnya sudah telat, maaf jika tidak bisa ngobrol terlalu lama.” Ucap Master J pamit.


Master J dan Master Theo lalu pamit pergi. Alia mengantar mereka sampai gerbang depan.


Setelah itu Alia kembali ke kamarnya.


Di tangga dirinya berpapasan dengan Pak Surya, Alia langsung menghentikannya.


“Eyang kenapa tidak memberitahuku?” tanya Alia.


“Tanya pada Santoso, dia yang minta.” Jawab Pak Surya singkat lalu kembali menuruni anak tangga dan berjalan ke arah ruang medis. Alia hanya tertunduk lesu dan kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya.


Bu Mona sudah menunggu Alia di kamar, Alia segera tersenyum kepada mamanya.


“Al, besok harus cabut benang ya, jam 7 malam.” Ucap Bu Mona mengejutkan Alia.


“Kok besok, Ma?” tanya Alia.


“Iya, kan sudah 4 hari, kalau tidak segera dicabut maka akan meninggalkan bekas yang sulit dihilangkan.” Jawab Bu Mona.


“Dimana Ma?” tanya Alia lagi.

__ADS_1


“ Di sini, dokter Nur besok ke sini lagi.” Ucap Bu Mona.


Alia hanya menghela nafas membayangkan besok harus cabut benang.


__ADS_2