My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Serangan Fajar


__ADS_3

Rahmat menginap di asrama ipda Agus, pagi harinya dia segera meluncur ke Jakarta di kaeala oleh selusin punggawa Wijaya.


“Kenapa hidupku serumit ini?” Gumam Rahmat.


Setahun ini selama dirinya mengelola bisnis keluarga Wijaya begitu banyak serangan yang ia terima. Apakah selama ini Ayahnya juga sering di teror seperti ini atau baru sekarang saja.


Saat dirinya masih remaja dulu dan hanya mengelola dojang Taekwondo keluarganya, dia tidak seperti ini, pergi kemana-mana dikawal banyak orang.


“Heru, apa selama ini keluarga Wijaya selalu mendapat teror seperti ini?” tanya Rahmat kepada salah satu pengawalnya.


“Tidak, Tuan Muda. Selama ini Tuan Besar tidak sering keluar rumah, sehingga tidak mendapat gangguan. Namun saat kedua Tuan Muda mulai mengelola bisnis keluarga dengan aktif, banyak pihak yang menganggap kita itu gangguan. Dan juga Tuan Besar menjalankan bisnis dengan begitu rapi dan cenderung tertutup.” Jelas Heru. Dirinya sudah ikut Pak Surya selama 12 tahun, sebelum akhirnya dua tahun yang lalu dirinya diminta menjadi asisten Rahmat.


“Oohh,, sungguh tidak terduga.” Gumam Rahmat.


Rahmat tidak menduga bahwa bisnis legal juga mempunyai ancaman seperti ini. Yang ia tahu persaingan seperti ini hanya ada di dunia hitam para mafia, sekarang dirinya baru sadar kenapa Ayahnya begitu jarang pergi ke kantor dan membuka pengobatan tradisional sebagai kedok usahanya.


Benar-benar licin.


Shiitt!!! Jbreeed!!


Sebuah mobil box menghantam konvoi Rahmat, mobil yang berada di depan mobil Rahmat langsung ringsek karena dihajar dari samping. Mobil yang ditumpangi Rahmat pun terkena imbasnya. Benturan keras di sisi kiri mobil tempat Rahmat duduk membuat mobil itu penyok di sisi kirinya.


“Yarghh!!” Pekik Rahmat di dalam mobil.


Karena benturan yang begitu keras menyebabkan bahunya mengalami dislokasi.


Heru segera menarik tubuh Rahmat keluar mobil. Beberapa Punggawa Wijaya yang tidak terluka segera mengamankan Rahmat.


Darah mengucur deras dari kepala Rahmat karena kepala bagian belakangnya mengalami robek yang cukup lebar.


Rahmat memegangi tangan kirinya yang berasa lepas karena keluar dari poros bahunya.


“Aldi, kamu bisa betulkan dislokasi bahu?” tanya Heru mulai cemas.


“Bisa,” jawab Aldi singkat lalu mendekati Rahmat.


Dalam sekali gerakan Aldi membetulkan posisi bahu Rahmat.


“Arghh!!” Pekik Rahmat. Namun beberapa saat kemudian rasa sakitnya berkurang.

__ADS_1


Disisi lain, beberapa anggota Punggawa Wijaya sedang menyelamatkan rekan-rekan mereka dari mobil yang ringsek. Masih ada tiga orang yang terjebak didalam mobil.


“Sebagian bawa Tuan Muda ke rumah sakit!” Perintah Heru. Beberapa orang segera mengangguk dan memapah Rahmat menuju mobil pengawal yang tidak rusak.


Banyak orang berkerumun menyaksikan kejadian tersebut. Ada beberapa yang menolong tapi sebagian besar malah mengabadikan momen tersebut untuk di jadikan story social media.


Heru, Aldi, Tono, dan Ade mengawal Rahmat ke rumah sakit sementara lima anggota yang lain mengurus sisa kejadian ini. Mungkin akan ada polisi sebentar lagi hingga mereka harus membereskan semuanya.


“Apakah tempatnya jauh?” tanya Rahmat.


“Tidak Tuan Muda, sebentar lagi kita akan sampai.” Jawab Heru.


Dalam kondisi seperti ini sekalipun Heru tetap tenang karena dirinya harus tetap berfikir jernih. Pengalaman memang membuktikan semuanya. Pengalamannya ikut keluarga Wijaya hingga sudah beberapa kali dia mengalami situasi seperti ini.


Dodoodododododododododoodododrrrr! Mobil mereka dihujani peluru dari segala sisi. Heru reflek menarik Rahmat agar merunduk lalu melindunginya dengan tubuhnya.


“Arghh!arghh!!” Terdengar jelas rintihan dari dalam mobil yang membuat jantung Rahmat berdebar. Rahmat mendapati Heru sudah mengeluarkan banyak sekali darah dari mulutnya.


“Tuan Muda,, kau,, ha,,rus,, hi-dup!!” ucap Heru dengan terbata-bata sebelum akhirnya memejamkan matanya.


Rahmat memeriksa nafasnya, tidak ada. Heru menghembuskan nafas terakhirnya dengan memeluk Rahmat demi melindunginya.


Seluruh pengawal yang ikut dalam mobil itu telah tewas.


Rahmat melihat ada beberapa orang yang menggunakan pakaian serba hitam mendatanginya. Orang-orang tersebut berwajah dingin dan menyeringai ketika melihat Rahmat madih hidup.


“Bawa dia!” perintah salah seorang dari beberapa orang yang datang.


Rahmat ditarik keluar dengan paksa lalu diseret dan dipaksa berlutut.


“Siapa kalian?” tanya Rahmat penuh emosi.


Walau dirinya belum tahu darimana mereka berasal tapi setidaknya dia tahu bahwa mereka yang sudah membunuh para pengawalnya.


Orang yang tadi memerintahkan agar menarik Rahmat keluar sekarang membungkuk dan mengulurkan tangannya ke depan. Meraba lengan Rahmat dan mulai menelusurinya.


Grabb!! Orang tersebut meremas bahu kiri Rahmat yang belum sembuh benar.


“Argghhhh!!” teriak Rahmat. Orang tersebut menarik Rahmat hingga Rahmat berdiri lalu terus menariknya sampai ke tepi jembatan.

__ADS_1


Orang tersebut menghempaskan tubuh Rahmat hingga menabrak pembatas jembatan. Dengan sigap Rahmat langsung berpegangan pada besi pegangan agar tidak jatuh ke aliran sungai yang cukup deras.


Dor!! Tanpa ba bi bu be bo lagi orang yang tadi menghempaskan Rahmat mengeluarkan pistol dari balik pinggangnya dan menembak bahu kiri Rahmat.


Rahmat yang terlalu terkejut dengan hal tersebut tidak sempat menghindar dan pasrah bahu kirinya tertembus peluru.


Byuurr!! Rahmat jatuh ke sungai yang cukup deras dan tenggelam.


Orang-orang tersebut lalu pergi meninggalkan lokasi tersebut tanpa memastikan apakah Rahmat sudah mati atau belum.


Setelah berhasil mengevakuasi semua Punggawa Wijaya, mereka ber-8 segera menyusul Rahmat dan rombongan karena tiga punggawa wijaya yang terjepit tadi juga mengalami luka yang cukup parah.


Mereka mengatakan kepada polisi akan memberikan kesaksian setelah mengobati rekan mereka.


Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat mobil dengan nomor polisi 1504 MFG sedang dikerumuni oleh banyak orang. Itu adalah mobil yang ditumpangi oleh Rahmat dan rombongan.


Mereka segera menepi dan melihat apa yang terjadi.


Begitu terkejutnya mereka karena mendapati mobil tersebut sudah penuh lubang bekas peluru.


Indra segera memeriksa ke dalam mobil. Tak ada kata-kata yang keluar selain air mata kesedihan dan amarah.


Empat orang yang mengawal Rahmat adalah orang yang sudah cukup lama menjadi Punggawa Wijaya, sehingga Indra merasa begitu kehilangan.


Namun saat Indra sudah mendapat kembali akal sehatnya, Indra segera memeriksa lagi dan menemukan hanya ada empat orang, dan dia tidak menemukan Rahmat.


Indra segera memberitahukan penemuannya pada teman-temannya dan mengabarkan bahwa Rahmat tidak termasuk korban.


Redi dan Adit melapor ke kediaman Wijaya dan meminta bantuan.


Pak Surya yang mendengar kabar ini begitu terkejut namun dirinya tetap tenang dan meminta beberapa anggota Wira Yudha yang sedang di sekitar Jakarta maupun Jawa Barat menjadi tim bantuan.


Indra melakukan penelusuran dan menemukan jejak darah yang ia yakini sebagai darah Rahmat.


“Kemungkinan besar Tuan muda tercebur ke sungai.” Ucap Indra.


“Kita berdua langsung terjun ke sungai aja. Kondisi Tuan Muda tadi membuatku cemas.” Usul Aryo.


Yang lainnya hanya mengangguk setuju.

__ADS_1


Indra dan Aryo segera melipir ke tepi sungai dan melakukan penelusuran.


__ADS_2