
**Hallo semuanya,,,,,
Untuk Chapter kali ini Author nulisnya juga sama deg
degan bgt soalnya Author lagi ada dirumah sakit.
Sebenernya waktu itu Author udah sempet berobat, cuma waktu banjir kemarin, ada kecelakaan yang buat Kuku kaki Author remuk alhasih harus dicabut deh,,,
Sambil nunggu nomor antrian Author nulis jadi mohon maaf kalo ada typo ya,,
Doain biar Author cepet sembuh ya readerku🤣🤣🤣**
***************
Jaya memutar balik mobilnya dan mencari rute yang sepi.
Der Der Der Der
Mobil Jaya terus ditembaki oleh orang orang di mobil SUV yang mengejar mereka.
Jder!!!!!
Mobil Jaya menabrak pembatas jalan yang menyebabkan mobilnya mengeluarkan asap cukup tebal dari kap depan mobil.
Jaya keluar dari mobilnya dengan Pak Perwira dan membawa semua senjatanya.
Disisi lain Pak Perwira sedang menghubungi semua yang bisa membantunya. Baik dari Satya Yudha maupun kepolisian.
Jaya terus menembaki orang orang yang berusaha menembaki dirinya dan Pak Perwira.
"Pak!!!" teriak Jaya.
__ADS_1
Pak Perwira menengok ke arah yang ditunjuk Jaya.
Ternyata orang yang sedang bersiap melemparkan granat ke Pak Perwira.
Tak menunggu lama lagi Pak Perwira berlari sekencang mungkin dari tempat persembunyiannya.
"Duar!!!!" granat tersebut meledak dan menimbulkan efek kejut yang cukup besar, menyebabkan Pak Perwira terhempas.
Jaya menyusul ke arah Pak perwira dan berusaha menyadarkannya karena saat ini Pak Perwira terlihat linglung.
"Jaya awas!!!" teriak Pak Perwira.
"der!!!" sebuah peluru bersarang di punggung Jaya walau tidak dalam karena tersangkut di rompi.
"Urghhh,," ucap Jaya.
"Apa menembus?" tanya Pak Perwira khawatir.
"Tidak dalam, hanya menggores tapi tetap terasa panas." ucap Jaya.
Der Der der der!!!!
Jaya memberi perlawanan sengit ke pasukan lawan.
Jaya mulai mengenali atribut para penyerang sebagai Gang Tornado.
Gang Tornado yang menyerang seolah tidak ada habisnya karena setiap ada anggota yang tumbang maka anggota lain yang masih prima akan turun dalam pertempuran.
"Amunisi saya kritis." ucap Jaya.
"Saya juga, sebagian amunisi saya masih dimobil." ucap Pak Perwira menyesal karena tak sempat membawa seluruh amunisinya.
__ADS_1
"Kita lakukan pertarungan jarak dekat saja, kita ambil senjata lawan." ucap Jaya.
Pak Perwira mengangguk setuju. Dalam hatinya Pak Perwira salut karena dalam keadaan segenting ini Jaya masih bisa berpikir jernih.
Di markas Satya Yudha, tim SCY "Satya Yudha Cyber Team" mulai kocar kacir setelah mendapat sinyal SOS dari Pak Perwira, sementata anggota yang seharusnya mengawal baru sampai di Jakarta namun belum tiba di lokasi Pak Perwira saat ini.
Taufan selaku komandan SCY segera mengabari Komandan Ucok.
Komamdan Ucok begitu terkejut mendengar informasi tersebut dan segera meminta bantuan ke beberapa relasinya di Jakarta.
Namun bukan rahasia lagi kalau Jakarta adalah kota yang macet dan bantuan akan tiba dalam waktu yang cukup lama.
"Paman, sebentar." ucap Komandan Ucok menghentikan sesi pengobatannya dan mulai sibuk mengotak atik ponselnya dan menelpon beberapa orang.
"Ada apa? apa rasa sakitmu sudah hilang?" ledek Pak Surya.
Sebelum menerima telpon komandan Ucok sedang teriak teriak kesakitan, namun sekaran komandan Ucok terlihat seolah melupakan rasa sakitnya.
"Jaya diserang!!!!" teriak Komandan Ucok panik.
Komandan Ucok membuat Pak Surya begitu terkejut.
"Kamu serius?" tanya Pak Perwira meyakinkan.
"Untuk apa aku bercanda, Paman?" ucap Komandan Ucok yang terlihat kesal.
Pak Surya berlari keluaf meninggalkan Komandan Ucok begitu saja.
Pak Surya mengabari anak buahnya yang sengaja ia tempatkan di Jakarta untuk segera melacak keberadaan Jaya.
"Jaya sekarang sedang bertempur, kalian bantu Jaya sekarang semaksimal mungkin." perintah Pak Perwira lewat telpon.
__ADS_1
Anak buahnya langsung melacak keberadaan Jaya lewat sinyal yang terpasang di jam tangannya serta nomor telpon Jaya.
Ternyata jaraknya hanya 8 KM dari tempatnya sekarang.