My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Hukuman Untuk Santoso


__ADS_3

"Eyang tidak habis pikir siapa yang berani menyerang cucu Eyang dari belakang." ucap Pak Surya.


"Sudahlah Eyang, mungkin ini juga karena aku lengah. " ucap Alia.


"Sekarang kita ke kamar Papa kamu dulu. Santoso sudah menunggu disana." ajak Pak Surya.


Pak Surya membantu Alia berdiri tapi Alia menolaknya.


"Aku sudah besar Eyang." ucap Alia


"Tapi kamu sedang terluka." sahut Pak Surya.


"Luka ini tidak terlalu sakit, percayalah, Al pernah merasakan yang lebih sakit dari ini." ucap Alia penuh percaya diri.


Pak Surya hanya bisa pasrah kalau Cucunya sudah mulai keras kepala.


Walau Alia bukan anak kandung Jaya namun banyak sifat Jaya yang sama dengan Alia.


Apa mungkin sifat orang tua kandung Alia juga seperti ini.


"Ya sudah, ayo.!" ajak Pak Surya.


Alia berjalan mengikuti langkah kaki Eyangnya.


Setibanya mereka didepan ruangan, mereka mendapatai Santoso yang sedang duduk termenung.

__ADS_1


"Ayo, masuk." ucap Pak Surya dingin.


Santoso mengikuti langkah Pak Surya.


Setibanya didalam Pak Surya meminta Alia tetap duduk di sofa dan jangan ikut campur.


Pak Surya berdiri dihadapan Santoso dengan posisi tolak pinggang.


Sorot matanya tajam menusuk Santoso membuat Santoso bergidik ngeri. Sebelumnya Santoso tidak pernah melihat Pak Surya semarah ini, termasuk saat Jaya dicabik cabik oleh Gang Tornado.


Keringat dingin membasahi punggung Santoso. Wajahnya juga basah karena bulir bulir keringat dingin juga mulai menetes.


Santoso sangat terintimudasi walaupun Pak Surya hanya menatapnya.


"Saya kecewa,,"


Pak Surya menampar Santoso hingga Santoso terjerembab namun Santoso langsung berdiri seakan tidak memperdulikan rasa sakit di pipinya karena tamparan Pak Surya.


Pak Surya kembali menampar Santoso.


Plakkkk!!!


Darah mulai menetes dari sela sela bibir Santoso.


Alia merasa iba melihat Santoso ditampar berulang kali oleh Eyangnya namun Eyangnya sudah memerintahkannya untuk tidak ikut campur atau sesuatu yang lebih buruk mungkin akan terjadi.

__ADS_1


Air mata Santoso mulai menetes. Bukan karena sakit, tapi juga karena merasa kecewa terhadap dirinya yang tidak bisa menjaga nonanya.


"Ayah, sudah cukup." ucap Rahmat karena mulai merasa iba melihat Santoso bahkan tidak membela dirinya.


"Baik, Ayah akan berhenti." ucap Pak Surya sembari bertolak pinggang menghadap Santoso.


Pak Surya mengatur nafasnya yang mulai ngos ngosan karena terlalu emosi.


"Saya beri kamu kesempatan lagi, Santoso. Jangan ulangi kesalahan ini lagi atau hukuman yang kamu rasakan adalah hukuman yang tidak kamu bayangkan sama sekali." Ucap Pak Surya.


"Terima kasih, Tuan." jawab Santoso masih tertunduk.


"Eyang, aku ingin tidur dihotel saja." pinta Alia.


"Santoso, antar Alia ke hotel, sudah ada istriku disana kamu jaga mereka berdua baik baik." ucap Pak Surya.


"Baik tuan." jawab Santoso lagi.


Santoso pergi bersama Alia. Semua barang barang Alia Santoso yang membawa dan kini tatapan aneh datang dari orang orang yang melihat mereka berdua.


"Pasangan serasi,,," bisik seorang keluarga pasien yang sedang berada di ruang tunggu ketika melihat Santoso kesulitan membawa seluruh barang barang Alia.


"Fiurhhh,,, akhirnya." Santoso menghela nafas lega karena terlepas dari tatapan aneh orang orang yang melihatnya.


Alia terlihat kesakitan ketika harus menyender di mobil karena memasang sabuk pengaman.

__ADS_1


"Nona, maafkan Saya." ucap Santoso yang kembali merasa bersalah karena melihat Nonanya kesakitan.


"Tidak masalah,, aku pernah merasakan yang lebih sakit dari ini." ucap Alia.


__ADS_2