
"Ma, Adel mau ngomong dulu ya." Ucap Adel.
"Iya, Adel mau ngomong apa?" tanya Bu Mona.
"Kan mama tau kalau udah mau ujian kenaikan kelas, dan aku kan menang kejurda kemarin,,,, jadi,,,, aku maju ke tingkat nasional." ucap Adel.
Jaya menanggapinya dengan begitu senang.
"Bagus dong. Jarang jarang ada kesempatan kayak gini." Ucap Jaya antusias. Tapi Bu Mona lain dalam menanggapinya.
"Apa pertandingannya berdekatan dengan waktu ujian??" Tanya Bu Mona.
"Waktu pertandingannya 2 hari sebelum Ujian kenaikan kelas dimulai." Ucap Adel.
"Kamu nggak boleh ikut!" ucap Bu Mona tegas.
Adel dan Jaya begitu terkejut mendengarnya.
"Apa maksud mama?" tanya Jaya penuh kebingungan.
"Adel kan tugas utamanya belajar, Pa. Kalau waktu pertandingannya seusai ujian kenaikan kelas Mama pasti setuju." ucap Bu Mona.
"Adel bagaimana pendapat kamu?" tanya Jaya.
"Adel pengin ikut, Pa." ucap Adel.
Matanya berkaca kaca, hatinya begitu sakit mendengar larangan dari mamanya.
__ADS_1
"Apa kamu bisa membagi waktu belajar?" tanya Jaya.
"Bisa." jawab Adel penuh keyakinan.
"Kamu boleh ikut, asal semua latihan hanya boleh diatur oleh MPTC (merah putih taekwondo club.). Kalau kepala sekolah menolak maka Papa juga nggak bisa maksa. Mau tidak mau kamu tidak boleh ikut." ucap Jaya.
"Papa, maksud papa?" tanya Bu Mona bingung.
"Kalau semua latihannya boleh diambil alih sama MPTC maka Adel bisa lebih leluasa belajarnya." ucap Jaya.
"Hmmm,,, kalo begitu mama juga akan awasi nilai Adel. Adel setuju?" tanya Bu Mona.
"Setuju, Ma, Pa." ucap Adel.
"Udah, itu aja. Adel mau ngerjain tugas ya Ma, Pa. Good night." Ucap Adel seraya berdiri.
Jaya melanjutkan pembicaraannya dengan istrinya sedangkan Adel pergi ke kamarnya untuk belajar.
********
Crieeeett,,, krekk..
Adel menutup pintu kamarnya lalu melangkah menuju rak bukunya. Adel mengambil buku sesuai mata pelajaran esok hari dan mengerjakan beberapa tugas lainnya.
Adel masih memikirkan kata kata orang tuanya. Dirinya boleh ikut pertandingan asal pihak sekolah tak mencampuri urusan latihan.
Ini sudah jelas bahwa Mamanya tidak setuju tapi tidak bisa menolak secara langsung karena Papanya begitu mendukungnya.
__ADS_1
Adel menghela nafas panjang lalu menyandarkan tubuhnya dikursi.
Tak terasa dirinya tertidur sebelum tugasnya selesai semua.
******
"Pa, emang bener Papa pegang saham Perkasa projection sebesar 30 persen?" Tanya Bu Mona ke suaminya.
"Ya katanya si gitu." ucap Jaya enteng.
"Kok bisa?" tanya Bu Mona.
"Mama masih ingat waktu Mama denger Papa hampir mati?"
"Waktu itu kondisi Papa begitu menyedihkan, hingga Papa bilang masih memiliki tanggungan keluarga dan mengatakan kalau Awang akan memberikan 30 persen saham Perkasa projection dan jika sesuatu yang buruk terjadi, saham tersebut akan menjadi hak ahli waris." ucap Jaya.
Bu Mona begitu terkejut mendengarnya. Walaupun dia sudah mendengar misi yang dilakukan suaminya kemarin, tapi Bu Mona tidak menyangka client suaminya bertindak sejauh itu.
"30% saham Perkasa projection ini setera sama Wijaya Konstruksi yang keluarga kita kelola. Oiya Pa, bagaimana tentang kekayaan peninggalan keluarga Alia?"
Jaya menghela nafasnya, lalu melanjutkan
" Tentang itu, Papa tidak yakin. Selama ini kita yang mengelolanya dan Alia belum tertarik dengan bisnis. Walau bakat bisnisnya memang sudah ada secara alami." Ucap Jaya.
"Tetap saja itu hak Alia, Pa." ucap Bu Mona.
"Bukannya Papa tidak mau melepasnya, asal Alia mau mengelolanya maka akan Papa serahkan. Bisnis itu menyangkut banyak keluarga, apabila tidak benar benar bisa mengolahnya maka akan banyak orang kelaparan." ucap Jaya.
__ADS_1