My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Esok Perang


__ADS_3

"Jaya, persiapkan mental ya." Ucap Pak Perwira.


"Tentu saja pak. Dan,,, kita bisa membawa senjata , kan?" tanya Jaya ke Pak Perwira.


"Waktu pwrsidangan tidak, Senjata kita letakkan dimobil saja." ucap Pak Perwira.


Jaya mengangguk paham.


Didalam kamar hotel Jaya dan Pak Perwira memeriksa kelengkapan senjata dan amunisinya.


Mereka membawa berbagai senjata semi otomatis dan banyak sekali amunisi.


"Semoga semua baik baik saja." ucap Pak Perwira.


Jaya mengingat peringatan dari Ayahnya yang mengatakan dirinya sedang diincar oleh Gang Tornado.


"Pasti Pak. Kita serahkan saja saja semuanya pada tuhan. Karena rencana tuhan pasti lebih baik dari rwncana kita.


"Saya mau istirahat, ya, Jay. Kamu bisa kan mengurus semua ini sendirian?" tanya Pak Perwira sembari meregangkan pinggangnya yang agak pegal.


"Tidak masalah, Pak. Nanti saya istirahat kalau semuanya sudah beres." ucap Jaya.


Pak Perwira mengangguk lalu berjalan meninggalkan Jaya menuju ke kamar tidurnya.


*********

__ADS_1


"Mamu serius, Del?" tanya Bu Mona penasaran sekaligus terkejut.


"Aku serius, Ma. Aku mau fokus belajar dulu, pasti ada kesempatan lain." ucap Adel yang berusaha tegar dan menahan air matanya walau hatinya terasa begitu sakit.


Bu Mona yang mengetahui ini hati anaknya segera memeluknya dan membelai rambutnya perlahan.


"Mama tau kamu pasti sangat berat melakukannya." ucap Bu Mona.


Adel sudah tidak dapat membendung air matanya lebih lama lagi. Tangisnya kini pecah dan air matanya ber uaraian.


"Hikzz,, hikz,, Adel nggak mau bikin mama kecewa." ucap Adel yang mulai sesenggukkan.


"Kamu buat mama bangga, Adel." ucap Bu Mona.


Bu Mona menciumi kening putrinya dengan lembut dan berusaha keras menghibur Adel.


"Makasih Mama." ucap Adel lalu memeluk erat mamanya.


Bu Mona begitu terharu akan sikap Adel yang mengambil keputusan sesulit ini demi Mamanya.


"Mama akan dukung kamu, Pasti dukung kamu." gumam Bu Mona.


Di Kamar Komandan Ucok mssih meringis kesakitan dan berusaha menggeliat melepaskan diri.


"Atgh!!!." pekik Komandan Ucok.

__ADS_1


"Tahanlah,,, kamu pasti bisa, jangan jadi cengeng." ucap Pak Surya.


"Apa Jaya juga seperti ini saat diobati?" tanya Komandan Ucok penasaran.


"Hmnn,,,, tidak. Jaya sangat tahan bahkan getah ganga yang digunakan tidak dicampur minyak. Kalau kamu ini kan masih dicampur minyak." ucap Pak Surya.


"Apa bedanya yang dicampur minyak dengan yang tidak dicampur?" tanya Komandan Ucok.


"Kalau yang tidak dicampur efek penyembuhannya lebih tinggi." ucap Pak Surya.


"Lalu kenapa Paman mencampur dengan minyak?" tanya Komandan Ucok.


"Fiurh,,, Kalau kamu menggunakan getah Ganga yang tidak dicampur dengan minyak, kamu harus terus terjaga. Dan Paman tidak yakin kamu bisa melakukannya." Ucap Pak Surya.


"Lukaku sudah mulai membaik, aku mau pakai yang murni saja." ucap Komandan Ucok.


"Terlambat." Jawab Pak Surya singkat.


"Kalau kamu mau pakai yang murni ada sebuah proses yang amat menyakitkan yang harus kamu lalui. Dan kalau kamu lanjutkan dengan ramuan yang sekarang hasilnya tidak terlalu jauh berbeda." lanjut Pak Surya.


"Proses menyakitkan?" tanya Komandan Ucok penasaran.


"Ya, proses dimana kamu akan menyesali semuanya." ucap Pak Surya.


"Apa Jaya selalu bisa melewati proses tersebut?" tanya Komandan Ucok.

__ADS_1


"Jaya selalu bisa menjalani semua proses pengobatan dengan baik dan mendapat hasil yang memuaskan." ujar Pak Surya bangga.


Komandan ucok terlihat sedang berfikir keras namun entah apa,,,


__ADS_2