My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Malam


__ADS_3

"Bukannya Papa nggak mau ngasih apa yang jadi hak Alia, Ma. Usaha itu begitu besar dan Alia belum tertarik bisnis." Ucap Jaya.


"Baiklah, kita tapi harus memberitahunya dalam waktu dekat." Balas Bu Mona.


"Kalo itu Papa juga setuju." Ucap Jaya.


"Ya sudah, Pa ayo ke kamar." ajak Bu Mona sembari menggandeng lengan suaminya. Jaya pun ikut bangkit.


Mereka berdua melangkah menuju ke kamar.


*******


"Ucok, kamu tahu tentang Perkasa Projection milik Awang yang 30 persen sahamnya diberikan ke Jaya?" tanya Pak Perwira dengan wajah seriusnya.


"Tidak, Pak." ucap komandan Ucok datar.


"Kenapa Anda terlihat begitu khawatir?" tanya Komandan ucok bingung.


"Bagaimana aku tidak khawatir? untuk memasukannya sebagai anggota Satya Yudha aku harus mengurangi kuota, kalau dia keluar dan aku memilih orang lagi, mukaku mau ditaro dimana?" ucap Pak Perwira.


" Kan mukanya udah bener disitu Pak, kenapa mau ditaro mana?" celetuk Komandan Ucok.


"Maksud saya pasti saya akan sangat malu lah." ucap Pak Perwira yang mulai emosi.

__ADS_1


"Santai, Pak. Jaya itu bukan tipe orang seperti itu. Sebelum dia mendapat saham milik Awang dia sudah kaya raya. Apa anda tau Wijaya konstruksi? dia pemegang saham terbesarnya." ucap Komandan Ucok.


Pak Perwira tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya lagi.


"Lalu kenapa dia memilih menjadi bagian dari Surya Yudha jika dia bahkan mampu membeli perusahaan ini?" tanya Pak Perwira lagi. Kini Komandan Ucok juga mulai emosi.


"Cukup, Pak! semuanya ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan uang. Saya pernah mengatakan kepada anda kalau Jaya pernah gagal seleksi masuk TNI dan itulah penyebab dia begitu senang bekerja disini. Anda puas?"


Ucap Komandan Ucok ketus.


Pak Perwira kembali duduk dengan ekspresi tidak percaya. Komandan Ucok pergi dari ruangan Pak Perwira tanpa berkata apa apa.


Pak perwira memijat keningnya sendiri.


"Benar benar unik." Ucap Pak Perwira.


"Pa,,," ucap Bu Mona.


"Iya ma?" Balas Jaya.


" Kenapa Papa memilih tinggal di asrama?" tanya Bu Mona.


" Ya,,, karena kegiatan satya Yudha itu cukup padat dan kalau Papa pulang pergi maka akan sangat melelahkan." Jawab Jaya.

__ADS_1


"Rumah ini terasa begitu kosong, Pa. Sejak Alia menjadi profesional Fighter 4 tahun lalu, rumah ini saja sudah sepi. Ditambah Papa sekarang juga jarang dirumah." ucap Bu Mona.


Tubuhnya kini menyender di dada suaminya yang bidang, sedangkan Jaya membelai lembut rambut istrinya.


"Ma, pastia ada masa dimana Papa harus pulang." Ucap Jaya.


"Itu kalau Papa terluka, dan akan membuat mama sedih. Dipikiran Mama masih sering terngiang teriakan teriakan Papa kesakitan." ucap Bu Mona.


"Jangan seperti itu, Mona" ucap Jaya.


"Dulu kamu janji, Eko. Kalau kamu akan terus menjagaku." ucap Bu Mona.


"Bukan aku hendak mengingkarinya, tapi Aku menjalankannya dari jauh." ucap Jaya.


"Kamu emang selalu bisa ngeles, Pa." ucap Bu Mona.


Jaya malah terkekeh mendengar ucapan istrinya.


"Kenapa?" tanya Bu Mona penasaran.


"Kamu ini, tiba tiba manggil nama, tiba tiba manggil Papa." ucap Jaya masih terus terkekeh. Bu Mona tersipu malu mendengarnya.


"Oiya, Pa. Pertandingan Adel kan di Jakarta, kita ikut, yuk. Taufik sama Rahmat kan kasian kalau cuma berdua. Biar sekalian ketemu Alia lagi." usul Bu Mona.

__ADS_1


"Boleh, tuh. Biar nanti Papa izin." ucap Jaya.


Bu Mona lalu membetulkan posisi tidurnya dan mulai memejamkan matanya.


__ADS_2