
Setelah menghabiskan Nasi gorengnya, Jaya dan Bu Mona berniat meninggalkan resto, tapi ada seseorang yang menghentikannya.
"Mas eko!" teriak orang tersebut sambil melambaikan tangannya. Orang tersebut lalu berlari mendekati Jaya.
"Hendro? apa kabar?" tanya Jaya antusias.
"Ayo, duduk,," ucap Jaya. Jaya lalu kembali memanggil karyawannya dan menawari temannya minum. Hendro hanya meminta secangkir teh manis panas.
"Lama kita nggak ketemu." ucap Hendro.
"Kayaknya aku bisa nebak kamu mau apa." ucap Jaya. Hendro hanya terkekeh mendengarnya.
"Mas Eko, anak kamu betul betul berbakat." Hendro memuji bakat Adel.
" Hmmm,,, kamu pasti mau bilang kalau kamu mau izin melatih Adel, kan?" tebak Jaya sembari terkekeh.
Hendro tak dapat mengelak lagi.
"Tadi kepala sekolah kamu kasih kabar,," belum selesai Hendro berbicara, Jaya sudah memotongnya.
"Kepala sekolah Adel." Potong Jaya singkat.
"Iya maksud aku itu."
" Tadi dia bilang kalau kamu tidak setuju Adel ikut ke Jakarta." ucap Hendro.
"Aku yang nggak setuju, Hendro." Ucap Bu Mona.
"Kenapa, mbak?" tanya Hendro penasaran.
__ADS_1
"Jalan sebagai atlit itu masih panjang. Dia mau masuk SMA taruna nusantara, nilai nilainya juga harus bagus. Jadi harus seimbanglah antara otak sama otot." Jelas Bu Mona.
"Tapi kalau pihak sekolah kasih izin biar urusan latihan dipegang aku, nggak masalah Adel tanding kapan saja." Ucap Jaya.
"Oo,,, jadi Taufik sama Rahmat yang bakal melatih?" tanya Hendro.
Jaya hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku turun tangan sendiri, dan Mamanya bertanggung jawab jadi ahli gizinya." Jelas Jaya.
Hendro tidak bisa berkata kata lagi. Keduanya adalah ahli di bidangnya masing masing.
"Hmmmm,,,, kalau begitu, nanti kalau ada pengawasan dari daerah, saya mohon kerja samanya ya,, mungkin bisa dua sampai tiga kali." ucap Hendro dengan penuh hormat.
" Baiklah,,, tapi ingat, aku tidak mau anakku di eksploitasi, atau dimanfaatkan untuk kepentingan kalian." tegas Jaya.
Hendro hanya bisa menelan ludahnya.
"Sama sama. Jangan sungkan sungkan ya." ucap Jaya.
Hendro lalu pergi meninggalkan restoran.
Bu Mona dan Jaya lalu pergi menuju ke Nasional, tempat peralatan olahraga milik keluarga mereka.
Jarak antara restoran dan nasional tidak begitu jauh, dalam lima belas menit mereka telah sampai.
"Boss,,," Sapa para karyawan yang bekerja di nasional.
"Iya,, " Jawab Bu Mona dan Jaya bersamaan.
__ADS_1
Jaya lalu mendatangi bagian pemesanan.
" Adel mau bertanding tingkat nasional, tolong pesankan pelindung gigi yang baru. Sama Dobok fighter yang ukuran Adel ya." ucap Jaya.
Karyawannya segera mencatat semua pesanan Jaya.
"Pak, mungkin butuh waktu sampai 5 hari tidak masalah?" tanya karyawan tersebut.
"Tidak masalah, pertandingannya 3 minggu lagi, jadi masih banyak waktu." Ucap Jaya.
***********
"Adel, kamu jadi ikut pertandingan yang di Jakarta?" tanya Anita.
"Kalau berjalan lancar mungkin jadi." ucap Adel.
"Kok kamu jawabnya gitu?" ucap Anita.
"Soalnya Mama Papaku tu nggak mau kalau nilaiku sampai turun, jadi mereka berusaha biar urusan latihan keluarga yang aturin." ucap Adel.
"Oooo,,," ucap anita sambil mengangguk beberapa kali tanda paham.
" Aku juga berharap iku, biar bisa ketemu sama kakak, siapa tau kakak bakalan dateng atau ngajak jalan jalan." ucap Adel. Dirinya sedang berada dikelas namun pikirannya melayang entah kemana dan membayangkan dirinya bertanding dengan support penuh seluruh keluarganya..
Tak terasa waktu istirahat telah habis dan guru guru mulai memasuki ruangan.
"Banguun!! beri salam!!"
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
__ADS_1
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh "