
Jaya menyiapkan mobil BMW miliknya untuk pergi ke Semarang. Mercy hitam favoritnya hancur dan sangat sulit untuk diperbaiki karena ada bekas peluru dimana mana. Akhirnya Jaya memilih BMW M3 sebagai gantinya.
Adel awalnya ingin ikut namun Bu Mona melarangnya.
"Adel sama Mama saja, kalau Mama sudah kelar urusannya kita nyusul Papa." ucap Bu Mona.
"Janji ya." Adel mengulurkan kelingking nya agar Mamanya mau berjanji.
Bu Mona segera menyaambut janji kelingking Adel.
"Janji." jawab Bu Mona.
Adel tersenyum menutupi kegelisahannya.
Jaya lalu berangkat sendirian ke Semarang. Walau tangan kanannya masih sakit dan sulit untuk mengemudi, tapi jaya memaksakan diri. Mona yang mengetahui suaminya mampu melakukannya tidak melarangnya lagi.
Jaya menikmati perjalanannya hingga sampai hutan perbatasan, tiba tiba mobilnya dipepet oleh empat mobil lainnya. Jaya terpaksa berhenti karena tidak ingin bertabrakan.
Beberapa orang dari ke empat mobil tersebut keluar, Jaya mengenali mereka sebagai Gang Tengkorak Iblis jika terlihat dari pakaiannya.
__ADS_1
Jaya segera meminta bantuan ke Satya Yudha , namun tidak direspon. Jaya lalu mengirim rekaman suara ke istrinya.
Kaca mobil Jaya digedor oleh anggota Gang Tengkorak Iblis, dan hampir saja mereka memecahkan kacanya.
Jaya mengambil sebuah pisau lipat dan meletakannya di pingganya, Jaya lalu keluar.
"Mau apa kalian?" tanya Jaya dengan nada begitu dingin.
"Hahaha tentu saja kami datang untuk menghabisi kau!!" teriak seorang anggota Gang Tengkorak Iblis.
Jaya mengeluarkan pisau nya dan memegangnya erat dengan tangan kirinya. Selama ini dia bukan petarung kidal, namun tak ada salahnya untuk mencoba.
Mereka mulai melakukan pertarungan, Jaya mencari lokasi yang lebih luas dan melakukan perlawanan sengit.
Sejauh ini Jaya sudah berhasil melumpuhkan sebagian besar lawannya, sementara dirinya masih baik baik saja tak terluka sedikitpun walau nafasnya sedikit memburu.
Jder!!!
Jaya roboh seketika dan memegang bahu kirinya. Seseorang membidiknya dari belakang dan ketika dirinya lengah lawan langsung menggunakan kesempatannya.
__ADS_1
Pelurunya terasa begitu tajam, panas, dan dalam. Keringat dingin mengucur dari keningnya. Bahkan saat orang orang dari Gang Tengkorak Iblis mengikatnya, Jaya tidak mampu memberikan perlawanan.
Mona yang mendapat kabar dari suaminya langsung menghubungi kakaknya yang berada di Satya Yudha, namun karena Jaya sedang berada diluar tugas, pihak Satya Yudha tidak mau mengulurkan bantuan yang membuat Mona begitu marah.
"Jangan salahkan aku kalau kamu yang akan menyesal nantinya, Mas!!!" pekik Mona penuh amarah.
Mona lalu berfikir untuk menghubungi Alia atau kedua adik iparnya yang kemungkinan bisa membantu.
"Hallo, Al." ucap Bu Mona yang mulai berlinangan airmata.
"Iya ma? Ada apa? kok mama nangis?" tanya Alia khawatir. Tidak biasanya Mamanya seperti ini menangis dalam telpon.
"Tadi Papa kamu ke Semarang, di hutan perbatasan katanya Papa diserang." jelas Bu Mona.
Jantung Alia serasa berhenti berdetak.
"Ya tuhan, oke ma, aku sekarang lagi di Semarang, aku langsung cari Papa, Mama tenang ya, jangan nangis." Alia tidak bisa lama lama terkejut karena harus segera bertindak.
Ia membawa sekitar 10 orang Punggawa Wijaya dan sisanya tetap ia tempatkan di kediaman Wijaya walaupun Eyangnya menyuruhnya membawa lebih cepat.
__ADS_1
Seorang anggota Punggawa Wijaya masuk ke ruang kendali yang berada di bawah tanah kediaman Wijaya dan melacak keberadaan Jaya.
"hap!! ketemu!!" teriak orang tersebut dengan girang. Ia menyambungkan sinyal Jaya ke ponsel Alia.