
Semuanya hanya bisa menuruti perkataan Pak Surya karrna memang benar adanya. Hari hari cepat berlalu, tak terasa dua bulan sudah terlewati.
Jaya sudah pulih total dari lukanya tiga bulan yang lalu, dirinya kembali ke kediamannya bersama kedua anak dan isterinya.
Jaya yang sudah memgetahui bahwa Surya Yudha kini miliknya sudah tak sabar lagi untuk segera berkunjung ke sana.
Pagi itu, hari senin jam 8 pagi Jaya menggunakan mobil SUV hitam miliknya ke markas Surya Yudha.
Beberapa kali penyerangan ketika dirinya menggunakan mobil model sedan membuatnya sedikit trauma dengan mobil-mobil tersebut karena tidak bisa untuk menyimpan persenjataan.
Berbeda dengan mobilnya yang sekarang, di bawah jok samping supir bisa digunakan sebagai tempat menyelipkan senjata dengan aman.
Jaya pergi bersama Alia dan Santoso, karena sekarang Santoso juga tinggal bersamanya.
Santoso mengemudi sedangkan Jaya dan Alia duduk di jok tengah.
Satu jam kemudian mereka sampai di markas pusat Surya Yudha. Pak Perwira dan lainnya sudah siap menyambutnya.
Alangkah terkejutnya ketika Pak Perwira melihat Tuan Muda Wijaya yang turun dari mobil adalah Jaya.
Jaya berjalan ke arah Pak Perwira dengan langkah mantap dan senyum merekah di bibirnya.
__ADS_1
Pak Perwira segera menyalami bos baru mereka.
"Selamat pagi, Pak Perwira. " sapa Jaya.
"Selamat pagi, Jaya, maksud saya Tuan Muda Wijaya."
Pak Perwira begitu gugup karena tidak menyangka hal ini sebelumnya.
"Anda tidak perlu sungkan."
Jaya lalu berjalan menuju ruangan yang sudah di sediakan untuknya.
Komqndan ucok yang baru mengetahui hal ini juga tak kalah terkejut apalagi melihat kehadiran Alia dan Santoso juga.
Komandan Ucok merasa sungkan jika bertanya langsung kepada Jaya dan lebih memilih untuk bertanya kepada Alia.
"Aku dengar Surya Yudha butuh uang, dan kami sedang butuh banyak orang jadi tidak ada salahnya aku membeli Surya Yudha." Ucap Alia.
Alia berjalan melenggang melewati omnya dan langsung menyusul papanya yang sudah berjalan lebih dulu.
Komandan Ucok berniat untuk bertanya lebih jauh namun diurungkannya karena melihat tatapan dingin Alia.
__ADS_1
Alia masih marah karena kejadian yang menimpa papanya beberapa bulan lalu yang menyebabkan Jaya hampir mati. Semenjak saat itu Alia menjauh dari omnya.
Santoso berjalan di belakang Alia.
Pak Perwira menunjukkan sebuah ruangan yang cukup luas. Ruangan tersebut adalah tempat kerja Jaya nantinya, terdapat fasilitas ruang kedap suara dari ruangan ini.
"Ini adalah ruangan CEO, sudah sedikit saya modifikasi." Ucap Pak Perwira.
"Terima kasih, Pak Perwira, saya suka ruangam ini. Mari masuk dan bahas beberapa hal." Ucap Jaya.
Jaya dan Pak Perwira duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Saya ada beberapa niatan tentang Surya Yudha ini." Ucap Jaya mengawali pembicaraan.
"Ada apakah, Tuan Muda?" tanya Pak Perwira.
"Jangan panggil saya Tuan Muda, panggil saya Jaya saja seperti dulu. Bagaimanapun anda adalah orang yang saya hormati, dan anda juga pernah menolong saya saat saya kehabisan darah." Ucap Jaya menjelaskan.
"Pertolongan saya belum seberapa dari apa yang anda lakukan, Tuan." Ucap Pak Perwira tak mengurangi rasa hormatnya.
"Anggap saja saya adalah anak anda, Pak. Panggil saya Jaya." Ucap Jaya lagi.
__ADS_1
"Baiklah, kalau itu yang anda inginkan." Ucap Pak Perwira.
hai hai semua maaf kalau lama tidak update, ada beberapa hal yang membuat saya tidak bisa nulis sebulan ini. teeima kasih