My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Pulaaaaang


__ADS_3

Kini tangan Jaya sudah sembuh total. Begitupun kondisi bahunya yang geser sekarang sudah membaik.


Jaya kembali melakukan tugas pengawalan, dan berjalan dengan begitu mulus. Kini tangan kanannJaya sudah mukus walau masih sedikit membelang.


"Jaya kamu pulih begitu cepat." ucap Vino kagum.


Jaya hanya tersenyum tipis mendengarnya.


Karena hari ini dia mendapat jadwal pengawalan, dirinya bebas dari kegiatan latihan rutin. Walau sangat disayangkan kegiatan menembak harus ia lewatkan, tapi untuk memegang senapan dirinya juga masih kaku karena telapak tangannya masih sensitif.


Jaya membersihkan tubuhnya, setelah itu dia berbaring di kasurnya. Tanpa dia sadari dirinya terlelap begitu pulas.


Jam 17.45, telponnya berdering.


Jaya terbangun karena suara ponselnya itu.


"Astaga!!" ucap Jaya seraya menepuk jidatnya. Dirinya berjanji untuk menginap dirumah hari ini. Isterinya pasti menagih janjinya.


"Iya, ma? Ada apa? Papa lagi siap siap nih mau pulang." ucap Jaya.


"oohh,,, Mama kira Papa ketiduran." ucap Bu Mona.


"Ya sudah, Papa mau jalan dulu yah, assalamualaikum." ucap Jaya.


"Waalaikum salam" jawab Bu Mona.


Jaya segera berganti pakaian dan membawa tas kecil untuk tempat handphone dan dompetnya Jaya bergegas pulang menggunakan Petir, sepeda motor kesayangannya.


Sekitar 25 menit kemudian Jaya sudah sampai dirumahnya. Mas No membukakan gerbang rumahnya. Jaya langsung membals senyuman yang diarahkan Mas No ke Jaya.


"Apa kabar, Tuan?" sapa Mas No.

__ADS_1


"Baik dong." Jawab Jaya.


Jaya lalu melempar helmnya ke Mas No. Mas No dengan cekatan pun menangkapnya.


"Saya masuk dulu, Mas No." ucap Jaya.


"Iya, Tuan." jawab Mas No sambil membungkukkan badannya.


Mas No adalah supir pribadinya yang ikut dengannya sudah lebih dari sepuluh tahun. Karena Jaya dan keluarganya memperlakukan Mas No dengan baik maka Mas No pun betah.


Jaya lalu masuk ke dalam rumah. Adel sudah menyambutnya di depan pintu.


"Papa!!" teriak Adel kegirangan, lalu segera memeluk Papanya.


"Papa sudah sembuh?" tanya Adel manja.


"Apa Papa terlihat sedang sakit?" tanya Jaya.


Adel menggelengkan kepalanya.


Jaya mengangkat alisnya.


"Kenapa tidak sekarang?" tanya Jaya penasaran.


"Ini pasti akan lama, jadi habis makan malam aja bahasnya. ok??" ucap Adel.


"Baiklah, Papa tunggu ceritanya." Ucap Jaya.


Jaya berjalan ke arah kamarnya.


cek,, kreeekkk

__ADS_1


Jaya membuka pintu kamar. Dirinya melihat bu Mona yang sedang menyisir rambutnya di hadapan cermin rias.


"Assalamualaikum." ucap Jaya.


Bu Mona segera menoleh ke arah suaminya.


"Papa??" bu Mona terkejut akan keberadaan suaminya.


Harusnya suaminya butuh waktu setidaknya sepuluh menit lagi.


"Hee,,, mama kaget ya?" ledek Jaya..


"Kok papa cepet banget si?" Tanya Bu Mona.


"Ngebut dong. kan udah mau maghrib." ucap Jaya. Senyum merekah di wajahnya.


"Papa sholat sama Adel saja ya." ucap Bu Mona.


" Mama lagi dapet?" tanya Jaya.


Bu Mona hanya mengangguk.


Jaya lalu mengambil air wudhu, dirinya bergegas ke ruang sholat untuk menjalankan sholat maghrib.


Setelah sholat mereka kumpul di meja makan untuk makan malam.


Bu Mona sudah menyiapkan aneka makanan seperti capcay, tumis kangkung, udang gimbal, dan ayam goreng. Itu semua adalah makanan kesukaan Jaya.


Jaya makan begitu lahap.


Walau makanan satya Yudha cukup enak, tapi dirinya rindu dengan masakan rumahnya. Tak ada yang bicara satu katapun diruangan itu.

__ADS_1


Setelah selesai, Bibi segera memberesi meja makan.


Adel, Jaya dan Bu Mona keruang tamu untuk membicarakan beberapa hal penting.


__ADS_2