My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Dufan


__ADS_3

"Kamu sudah tahu kebenarannya, kamu masih mau tetap tulus sayang ke Kakak?" tanya Alia.


"Kakak tetap kakak aku." ucap Adel.


Tak terasa mereka berempat kini beruaraian karena bahagia.


Malam itu mereka masuk ke kamar masing masing dengan kondisi mata sembab karena tak henti hentinya air mata meleleh.


Kini Alia telah lega perasaannya, beban yang dulu dipundaknya telah terangkat. Kini kebenaran yang begitu menyakitkan sudah diketahui oleh adiknya dan adiknya pun menerimanya dengan hati lapang.


Esoknya Adel dan yang lainnya pergi jalan jalan ke Dufan. Ini adalah kali pertamanya Alia ke Dufan walaupun selama ini menetap di Jakarta, tapi ini kali pertamanya dirinya ke Dufan dan Alia adalah orang yang paling antusias.


Alia mengajak Adel naik histeria, tornado, pergi ke istana boneka, dan sebagai penutup mereka naik kora kora.


Saat naik kora kora baik Alia maupun Adel langsung merasa pusing padahal saat naik Tornado sebelumnyatidak terjadi apa apa.


Setelah kapal kora kora berhenti mereka langsung berlari ke toilet untuk mengeluarkan isi perut mereka. Alia tidak habis pikir mengapa naik tornado yang hanya maju mundur malah bisa membuatnya pusing padahal waktu dia naik wahana ekstrim lainnya ia merasa baik baik saja.

__ADS_1


Karena hari juga sudah mulai sore, mereka berempat memutuskan untuk pulang ke rumah. Sebelum itu mereka mampir ke restoran untuk makan siang karena mereka belum makan.


Alia memilih masakan ayam taliwang dan es kelapa, sedangkan Bu Mona memilih ayam kalasan dengan Jaya, sedangkan Adel malah memesan bebek rica rica.


Suasana sore itu mendung dan sangat cocok untuk berkumpul menikmati makanan di restoran outdoor, mereka memesan sebuah gasebo sebagai tempatuntuk menyantap makanan nanti.


"Besok pagi Papa sama Mama pulang?" tanya Alia.


"Iya, Papa banyak urusan yang menumpuk." jawab Jaya.


"Bulan depan kan Natal, Santoso aku liburin aja ya Pa. Kasian dia pasti jarang Natal sama keluarga." ucap Alia.


Alia merasa kasihan kepada Santoso. Waktu dulu ia masih kecil ibunya kerja di tempat Pak Surya dan setiap Natal ia hanya merayakannya berdua bersama Santoso karena Keluarga Wijaya mayoritas muslim.


Sedangkan kini ibu Santoso sudah pensiun giliran Santoso yang tidak bisa pulang untuk libur natal. Maka Alia memutuskan untuk libur saja saat Natal nanti lagipula kerjaan tidak terlalu menumpuk.


"Kamu nggak usah bilang dulu. Santoso bukan tipe orang yang mau cuti kalo nggak bener bener perlu." ucap Jaya.

__ADS_1


"Iya Pa. Nanti aku kabarin kalo udah waktunya aja." jawab Alia.


Tak terasa sudah setengah jam mereka menunggu, makanan sudah sampai. Mereka menikmati makanan dengan penuh canda tawa.


Setelah selesai Jaya ke kasih dan membayar makanan yang mereka pesan.


Karena sudah terlalu lelah Adel meminta untuk pulang saja dan istirahat.


Di perjalanan pulang Alia yang menyetir seperti biasa apabila mereka sedang di Jakarta maka Alia yang menjadi sopir, itu karena Santoso tidak mereka ajak.


Alia kurang suka menggunakan sopir pribadi karena menurutnya tidak efisien dan menggunakan sopir itu cukup ribet. Dirinya dan Santoso sering bertukar tugas mengemudi apabila sedang bepergian jauh dan menurutnya seperti itu malah lebih enak.


Setelah mereka sampai, Adel langsung ke kamarnya dan tidur. Sementara Alia membaca laporan laporan kerja yang di email oleh para kliennya.


"Al, katanya libur?" tanya Jaya.


"Tidak ada libur Pa, aku tetep kerja ealauoun aku dirumah. Bedanya ya gitu, badannya dikantor apa dirumah." ucap Alia.

__ADS_1


Setelah mempelejari beberapa file yang dikirim oleh klien, Alia lalu memberi balasan atas file file yang diterimanya.


Sekitar jam 8 malam, mereka kembali kumpul di ruang makan untuk makan malam. Sebenarnya makan malam seharusnya dilakukan pukul 7 malam, namun karena Alia tidak turun turun dari ruang kerjanya maka jam makan malam mulur sampai satu jam lebih. Alia merasa tidak enak terhadap keluarganya tapi mereka semua memaklumi.


__ADS_2