
**Helllo para reader yang budiman!!!
Jeng jeng jeng!!!!
mungkin kalian akan dibuat sedikit bingung di chapter ini karena apa???
Muhammad Eko Wijaya yang sudah biasa dipanggil Jaya kini dalam chapter ini kembali dipanggil Eko oleh keluarganya.
Pasalnya dari dulu Jaya memang sudah dipanggil Eko oleh keluarganya.
Karena saat menjadi Satya Yudha dia harus punya panggilan untuk kerja, jadi dia dipanggilnya jadi Jaya.
Sooo,,, di chapter ini keluarga Jaya lagi pada kumpul dan mereka juga nggak tau kalau Pak Eko ini ditempat kerja dipanggil Jaya.
Author rasa penjelasan ini adalah penjelasan paling tidak berfaedah dan makin membuat pusing pembaca karena bahasa yang author gunakan untuk menjelaskan adalah bahasa planet lain.
wkwkwkkwkwkw
selamat membaca**
*************
Jam sembilan malam mereka sudah sampai di rumah sakit Premier.
"Eko, gimana keadaan Mas Ahmad?" Tanya Indri.
Matanya sembab dan air matanya masih berlinangan.
"Mba, tenang saja. Mas Ahmad akan baik baik saja. Dia orang yang kuat Aku yakin itu. Percayakan sama yang diatas." ucap Jaya.
" Eko,,, cuma kamu disini yang tau kondisi Mas Ahmad. Sekarang tolong jelaskan." ucap Indri. Tangisnya kini mulai pecah.
"Mba, percaya, aku nggak bohong. Mas Ahmad sudah baikkan. Walau belum sadar namun sudah berhasil melewati masa kritis." ucap Jaya.
__ADS_1
Indri hanya dapat menangis.
"Eko, Ahmad benar sudah membaik?" tanya pak Wira.
"Sudah membaik. Tadi sempat kritis tapi setelah transfusi darah kondisinya sudah semakin stabil." Jelas Jaya.
" Benar mba, dulu saja Mas Eko kan pernah yang sampai 2 hari nggak sadar sadar." ujar Mona mencoba menenangkan.
Indri memeluk Mona sekarang dan mencoba meluapkan kesedihannya.
Jaya lalu pamit ke semua orang karena dirinya ingin pulang untuk istirahat. Besok dirinya harus memberikan laporan ke markas pusat.
Bu Mona tetap dirumah sakit menemani istri komandan Ucok, Indri.
Jaya pun tidak masalah. Kalau dirinya tidak diharuskan ke markas besok pagi paĺgi mungkin dia juga ikut menjaga Komandan Ucok.
Anggota Satya Yudha yang lain pergi saat Jaya akan pergi.
Banyak diantara mereka yang bersedih karena kali ini kehilangan Satya Yudha begitu banyak.
Jaya masih belum bisa tenang.
Kedua sniper yang ia pimpin adalah sniper senior, dia merasa sudah gagal menjalankan tugas.
Jaya menyiapkan mentalnya untuk menghadapi Pak Perwira besok. Dirinya mulai merebahkan diri dikasur dan memejamkan matanya.
********
Alia mengetahui kabar penyerangan saat Papanya tugas dan kini Omnya sedang terbaring di rumah sakit.
Alia cukup dekat dengan komandan Ucok, jadi Alia juga begitu khawatir setelah mendengar Omnya sempat kritis.
*********
__ADS_1
"Mona,,," lirih Indri.
Mona lalu menengok ke arah Indri.
"Iya, Mba." jawab Indri.
"Aku sudah lama tidak merasakan kekhawatiran yang seperti ini. Sudah sangat lama." ucqp Indri masih terus bersedih.
Indri kembali mendekati suaminya, duduk disampingnya, lalu menggenggam tangan suaminya erat erat.
Tiba tiba Komandan Ucok bereaksi.
Komandan Ucok perlahan mulai membuka matanya.
"Arghhhh,,," rintih Komandan Ucok.
Komandan ucok merasa selufuh tubuhnya dipenuhi luka dan terasa sangat sakit.
"Jam,,,,, jam berapa,, sekarang?" Komandan Ucok bertanya sembari mengatur nafasnya.
"Jam 4 pagi, Mas." jawab Mona.
Indri sangat bahagia melihat suaminya sadar.
Namun kebahagiaan tersebut sirna saat komandan Ucok mulai mengerang kesakitan.
"Argh,,," rintih komandan Ucok. Tangannya meremas selimut yang menutup dirinya. Gigi giginya gemertak menahan gejolak dalam tubuhnya.
Mona segera memanggil dokter yang sedang piket.
Dokter tersebut memeriksa Komandan Ucok lalu menyuntikkan obat ke infusnya.
"Hmm,,,,, hossh,,, hosh,,," nafas komandan Ucok mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan yang lainnya?" tanya komandan ucok cemas.
"Kami tidak tahu, suamiku tidak cerita. Yang jelas dia baik baik saja." Mona terpaksa berbohong karena tidak ingin membuat Komandan Ucok kembali drop.