My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Sebuah Bukti II


__ADS_3

Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya Pak Perwira datang dan menemui Jaya.


Jaya segera menunjukkan video rekaman Pak Broto dan salinan hard disk miliknya.


"Ini adalah bukti penting untuk kita. Walau kita sudah gagal dalam tugas tapi setidaknya kita tetap memegang bukti utama kasus ini." Ucap Pak Perwira.


Jaya setuju dengan ide Pak Perwira.


Sidang akan dilaksanakan 3 hari lagi.


Jaya memutuskan untuk berangkat ke Jakarta bersama Pak Perwira dan menghubungi pihak yang berwenang dalam menangani kasus ini.


"Kamu bersiaplah, hanya kita berdua yang berangkat. Karena kasus ini banyak pelanggan kita yang mulai ragu. " ucap Pak Perwira.


"Karena kasus ini juga anggota kita banyak yang terluka." lanjut Pak Perwira.


Jaya hanya mengangguk setuju mendengar ucapan Pak Perwira.


Hari itu Jaya dan Pak Perwira sangat sibuk menyiapkan dokumen dokumen yang harus dibawa.


Tak lupa Pak Perwira juga koordinasi dengan beberapa orang yang akan membantunya dalam kasus ini.


Disisi lain, Adel sedang diliputi kebingungan karena pertandingannya diundur dan bertepatan dengan UKK.


Mamanya tidak akan memberi izin untuk hal ini.


"Walau kesempatan ini tidak datang dua kali, aku nggak mau bikin Mama kecewa. Lebih baik aku fokus belajar." Batin Adel.


Kepala sekolah yang melihat Adel melamun segera menegurnya.

__ADS_1


"Adel??" ucap Kepala sekolah memecah lamunan Adel.


"Iya Pak?" tanya Adel gugup.


"Jadi kamu mau ikut yang kejuaraan nasional atau tidak??" tanya Kepala Sekolah.


"Orang tua saya pasti melarang, Pak." Ucap Adel.


"Nanti biar saya yang ngomong sama Papa kamu." ujar Kepala sekolah.


Adel menggeleng pelan.


"Pendidikan yang utama bagi keluarga saya, Pak. Pasti ada banyak kesempatan didepan. Yang jelas saya nggak mau buat Mama saya kecewa." ucap Adel lagi.


Walau terlihat tegar, nyatanya Adel sedang menahan sakit yang begitu dalam.


"Kamu sudah yakin?" tanya kepala sekolah lagi.


"Ya sudah, kamu boleh kekelas sekarang." ucap Kepala Sekolah.


Kekecewaan mendalam terukir dihati kepala sekolah, terlihat dari raut mukanya kepala sekolah sangat sedih.


Adel mengangguk lalu beranjak dari tempat duduknya menuju ke ruang kelasnya.


Adel benar benar tidak konsen belajar hari itu.


Untungnya bel pulang sekolah segera berbunyi. Adel membereskan buku bukunya, lalu memasukannya ke dalam tas. Adel pulang menggunakan sepeda.


*******

__ADS_1


Komandan Ucok merintih kesakitan ketika lukanya dibersihkan. Luka lukanya yang terbilang masih baru membuat Komandan Ucok tak leluasa bergerak.


Seberapa kuat Komandan Ucok mencoba menggeliat, Suster semakin erat memeganginya.


"Akhirnya selesai juga" batin Komandan Ucok.


Indri dan Mona segera masuk ke kamar Komandan Ucok untuk mengetahui kondisinya.


Komandan ucok masih mengatur nafasnya. Tubuhnya berkeringat hebat.


"Udah selesai, Pa?" tanya Indri basa basi.


Komandan Ucok hanya menangguk.


" Ma, aku mau ke Semarang saja, ke tempat paman Surya." ucap Komandan Ucok.


Mona dan Indri langsung saling bertatapan.


"Papa yakin?" tanya Indri.


"Yakin." ucap Komandan Ucok.


"Bang, sebelumnya kamu belum pernah kesana lho." ucap Mona.


"Maka dari itu abang mau coba." ucap Komandan Ucok.


"Kenapa kamu tiba tiba ingin kesana, Bang?" tanya Mona lagi.


"Abang harus segera sembuh. Jaya juga bisa sembuh dalam hitungan hari saat disana." ucap Komandan Ucok lagi.

__ADS_1


"Tapi kalau disana, sekali kamu masuk sebelum benar benar diizinkan pulang maka kamu harus tetap disana lho." ucap Mona mengingatkan.


__ADS_2