
Setelah memesankan berbagai keperluan beladiri puterinya, Jaya dan Bu Mona kembali ke rumah mereka. Ada beberapa barang yang harus disiapkan karena besok Jaya akan kembali ke asrama.
"Mama udah bilang ke Ayah tentang obat obatan itu?" tanya Jaya.
"Udah. Katanya hari ini dikirim dan sampainya besok sore. " ucap Bu Mona.
Jaya kembali fokus memperhatikan laju mobilnya.
"Pa, jemput Adel sekalian." pinta Bu Mona.
"Adel nggak bawa sepeda?" tanya Jaya.
"Nggak, kan tadi hujan jadi di anterin Mas No berangkatnya." Jelas Bu Mona.
" oohh,,,, oiya Ma, Papa mau ngomong sesuatu." ucap Jaya.
" Ada apa, Pa?" tanya Bu Mona penasaran.
"Usaha kita kan banyak, Papa juga sekarang sibuk. Adel seperti kurang kita perhatikan. Gimana kalau mama berhenti jadi Dokte?" ucap Jaya perlahan.
Bu Mona langsung menatap suaminya lekat lekat.
"Kenapa Papa sampai berfikiran seperti itu?" tanya Bu Mona serius.
"Mama kan tau resiko Papa sebagai seorang Satya Yudha itu sangat besar, jadi Papa kasihan ke Adel. Kalau dulu kan Papa setiap hari pulang bisa ngelatih Adel sampai malem, nemenin dia belajar. Nyuruh dia ngaji." ucap Jaya.
"Papa betul, nanti biar Mama pikirin dulu yah." ucap Bu Mona.
Jaya begitu lega karena isterinya tidak marah atas usulnya, atau lebih tepatnya permintaan.
Menjadi dokter spesialis bukanlah perkara mudah, tiba tiba meminta untuk berhenti adalah ide konyol, namun untuk kebaikan bersama Jaya berusaha melakukannya.
"Mama jangan marah, Ya. Papa cuma usul, kalo Mama tetep mau jadi dokter Papa tidak masalah." ucap Jaya.
Tiba tiba Bu Mona panik.
"Papa kok lawan arus? Ada polisi tuh didepan, hadeeeehhh,,," ucap Bu Mona.
__ADS_1
Jaya langsung menghentikan laju mobilnya dan
"Priiiiitt!!!!"
"Yah, kena semprit deh." ucap Jaya.
Jaya mengaruk Pipinya yang tidak gatal, terlihat dua orang polisi menghampirinya.
Jaya keluar dari mobil dan tersenyum ke polisi tersebut.
"Selamat siang, bisa ditunjukkan surat suratnya?" tanya polisi tersebut.
Jaya lalu mengambil surat suratnya yang berada di tas kecil di dashboard mobilnya. Jaya juga mengeluarkan SIM nya.
"Bapak tau kenapa bapak saya berhentikan?" tanya polisi tersebut ramah.
"Saya lawan arus, Pak." jawab Jaya dengan senyum menyungging.
"Bapak saya beri surat tilang, ya." ucap Polisi tersebut.
"Maaf ya, Pak." ucap Jaya.
Jaya lalu kembali masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan menjemput Adel.
"Papa kena tilang?" tanya Bu Mona.
"Iya Papa juga yang kurang fokus." ucap Jaya.
Tak lama kemudian Jaya dan Bu Mona sampai di sekolah Adel. Masih sekitar lima belas menit lagi sebelum Adel pulang.
Jaya lalu memutar musik di music box yang terpasang dimobilnya.
"Bila memang ini ujungnya
kau kan tetap ada didalam jiiiiwaaaaa!!!"
Jaya mulai menyanyi mengikuti irama lagu.
__ADS_1
"Tak pernah terbayang akan jadi seperti ini pada akhirnya,,,
semua wakt-" Bu Mona mengganti musiknya.
"Kemesraan ini,,,,,, janganlah cepat berlalu,,,
kemesraan ini,,, inginku kenang selalu,," Kini giliran Bu Mona yang menyanyi.
Kini Jaya tidak mengganti lagunya melainkan ikut menyanyi.
"Hatiku damai,,, jiwaku tentram disampingmu,,
hatiku damai!!! jiwaku tentram bersamamu,,,"
Tak terasa mereka menyanyi hingga beberapa lagu sampai Adel mengetuk kaca mobil.
Bu Mona dan Jaya tersipu malu karena tidak menyadari kedatangan Adel.
"Pasti Mama sama Papa abis karaoke an " ucap Adel.
"Hehe tau aja." ucap Jaya sembari menyalakan mesin mobilnya.
Mereka menuju ke rumah.
Ponsel Jaya bergetar, ada whatsapp masuk.
Bu Mona membukanya.
"Dari Satya Yudha, Pa." ucap Bu Mona.
"Nanti saja." ucap Jaya singkat.
10 menit kemudian Jaya dan Bu Mona serta Adel sampai dirumah.
Adel sberganti pakaian dan bersiap untuk latihan taekwondo. Tiba tiba Papanya menghampirinya dan memberi kabar mengejutkan untuknya.
"Adel, papa mau ngomong,,,,,"
__ADS_1