My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Awang Diserang!!!!!!!


__ADS_3

Mereka semua menyiagakan senjata masing masing. Awang terlihat gugup sekaligus ketakutan. Mukanya sangat pucat seperti sudah tidak ada darah yang mengalir lagi.


"Kenapa kita tidak terus jalan?" tanya Awang panik.


"Bantuan tiba dari arah belakang, didepan hutan juga semakin rimbun. Mobil pengawal juga kempes ban, akan lebih berbahaya. Kita tidak tau berapa banyak orang yang akan menghadang kita." ucap Jaya.


Jaya masih terlihat tenang walau sebenarnya dirinya tak kalah khawatir.


Jaya menghampiri Mario.


"Berapa lama kita harus bertahan?" tanya Jaya.


"25 menit." jawab mario singkat.


Jaya mengangguk lalu kembali menemani Awang didalam mobil.


"Tuan, apa anda tahu mengapa baju kita sama?" tanya Jaya dengan nada tenangnya.


Awang menggeleng pelan sebelum melontarkan pertanyaannya.


"Kenapa?" tanya Awang masih panik.


"Kejadian seperti ini sudah diprediksi. Baju kita dibuat sama karena apa? Ini adalah bentuk kamuflase. Belum tentu gangster gangster itu hafal muka anda." ucap Jaya lagi.


Raut muka Awang kembali berubah.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Awang.


"Apa anda bisa bertarung?" Pertanyaan Awang dibalas pertanyaan lagi oleh Jaya.


Ada sesuatu yang melintas dipikiran Awang.


"Sepertinya anda memikirkan apa yang saya pikirkan." Kini senyuman Jaya penuh siasat.


"Kamu menyuruh saya bertempur?" tanya Awang emosi.


"Sekarang anda pikirkan baik baik. Jika kami berhasil dikalahkan dan anda dibawa paksa, belum tentu bantuan tepat waktu. Namun lain halnya kalau anda ikut memberikan perlawanan dan membuat musuh bingung. Setidaknya akan ada orang yang dibawa untuk menemani anda." Jaya menjelaskan dengan intonasi agak tinggi. Perannya sebagai negosiator dulu memang cukup membantu dalam keadaan seperti ini.


"Baiklah, aku setuju." ucap Awang. Jaya keluar dari mobil dan mendekati Mario yang kini bertugas sebagai kapten mereka.


Jaya memberikan penjelasan kepada Mario akan rencananya.


"Kamu gila Jaya?!" Mario tak habis pikir dengan pola pikir Jaya.


" Coba pikirkan ideku baik baik." Jaya berusaha menenangkan Mario yang sedang marah.


"Setidaknya aku nanti bisa ikut kalau dia dibawa pergi." ucap Jaya.


"Baiklah. Aoakah dia sudah mengenakan rompi peluru?" Tanya Mario memastikan.


Jaya mengangguk mantap.

__ADS_1


"Beri Tuan Awang senjata agar dia bisa mempertahankan diri." perintah Mario terhadap Jaya. Semua anggota Satya Yudha selain Jaya dan Mario bahu membahu mengganti dua ban yang kempes.


Namun sebelum pekerjaan mereka selesai, tamu tamu yang tidak diundang telah datang.


"Bersiaplah,," Jaya berbisik kepada rekan rekannya.


"Apa mereka sudah datang?" tanya Awang. Dirinya yang sudah sedikit tenang kini kembali gugup.


Butir butir keringat dingin membasahi keningnya. Tangannya kini mulai gemetaran.


" Kita pasti bisa menghadapinya bersama." bisik Jaya kepada Awang.


Dua mobil milik Satya Yudha di kepung oleh enam mobil gangster. Mereka masih saling menunggu, menunggu siapa yang memulai menyerang.


Jumlah musuh jelas lebih banyak. Mereka hanya bertujuh dengan Awang sebagai seorang newbie.


"Jangan panik,," bisik Mario.


Andi malah terkekeh mendengarnya.


"Siapa yangbtidak panik dalam keadaan seperti ini, kapten. Bahkan dirimu juga merasa panik." ucap Andi masih terus terkekeh.


Mereka semua sadar, panik adalah sebuah kewajaran. Itu sangat manusiawi.


Jaya, Bagas dan Awang ada dalam satu mobil, sezangkan Mario dan lainnya ada didalam mobil satunya.


Satu persatu gangster mulai keluar. Mereka menggunakan pipa besi dan pisau sebagai senjata.


Mario dan semuanya turun membawa pipa besi ditangan mereka dan menyelipkan pisau lipat serta pistol dipinggang. Bagaimanapun mereka, mereka bukan gangster yang bebas membunuh sesuka hati mereka. Tugas mereka adalah melindungi nyawa orang, bukan melenyapkan.


Pertarungan tidak bisa dihindarkan lagi. Jaya selalu berada disisi Awang untuk melindunginya. Satya Yudha yang lain berusaha secepat mungkin melumpuhkan lawan masing masing.


Namun kali ini keberuntungan berpihak pada lawan. Ini hanyalah pasukan kecil sebagai pancingan. Datang lagi pasukan lawan sekitar 20 orang jumlahnya.


Semangat bertempur para Satya Yudha kian meredup. Luka lebam dan goresan serta darah mulai memenuhi tubuh mereka.


Seorang gengster menghantamkan kepala Bagas ke kaca mobil hingga timbul retakan di kaca mobil tersebut.


Bagas menggeliat ditanah karena menahan sakit.


Dirinya mencoba untuk menjauh dari pertempuran.


Seseorang juga melemparkan Jaya ke kap mobil. Jaya langsung bangkit dan memberi perlawanan.


Kedua tangan Jaya dipegangi. Pukulan demi pukulan mendarat di perut Jaya. Darah mulai menetes dari ujung bibir Jaya.


Awang mencoba membantu Jaya. Namun apa daya? seorang Jaya saja berhasil ditaklukan, Apalagi Awang?


Jaya, Awang, dan Mario dibawa ke mobil box. Semua peralatan tempur mereka dilucuti, dan mereka bertiga diborgol.


Mobil melaju entah kemana, ketiganya hanya pasrah akan nasib mereka. Semoga saja nasib baik yang akan berpihak.

__ADS_1


"Aku selalu melarang putraku ikut beladiri karena takut dirinya terluka. Namun kali ini aku baru sadar." ucap Awang penuh penyesalan.


"Setelah kejadian ini saya harap anda tidak melarangnya lagi." ucap Jaya.


Perasaan cemas yang sedari tadi menyelimuti hati Awang kini mulai sirna. Bagaimanapun nasibnya nanti, dia sudah melihat bagaimana perjuangan keras para pelindungnya.


"argh,,,," rintih mario. punggungnya mengalami luka sobek yang cukup parah.


"Kamu masih tahan?" tanya Jaya khawatir.


"Darahnya belum berhenti.,," ucap Mario lirih.


"Bertahanlah,,," ucap Awang. Air matanya mulai menetes.


"Aku baik baik saja, Tuan. Anda jangan cemas. Saya masih bisa bertahan sekitar tiga jam dalam kondisi seperti ini." ucap Mario.


"Sekarang simpan energi kamu, bertahanlah." ucap Jaya.


Mereka mendengar deburan ombak ketika sudah hampir satu jam perjalanan.


"Apakah kawasan pangandaran??" batin Jaya penasaran.


Tak lama mobil lalu berhenti. Mereka bertiga dibawa ke sebuah gudang, dengan kolam kecil dipojok ruangan.


Pakaian mereka bertiga dilepas menyisakan celana boxer saja.


"Kita akan mendengarkan nyanyian mereka." ucap seorang lelaki bertubuh gempal, namun mukanya sangat menyeramkan.


"Teriak,,,," bisik Jaya. Mario mengangguk pelan.


Jaya sudah paham dengan metode seperti ini. Awang yang tidak biasa merasa sakit atau perih pasti akan berteriak.


Dalam keadaan terborgol mereka bertiga di ceburkan ke kolam tersebut.


Benar dugaan Jaya bahwa kolam tersebut adalah kolam air laut. Luka lukanya langsung bereaksi.


"Arghhhh!!!!" teriak mereka bersamaan.


"Kapten, pakaian orang itu yang tidak terdapat lencana." seseorang yang memeriksa pakaian Awang, Mario, dan Jaya, menunjuk ke arah Jaya.


Awang begitu terkejut mendengarnya.


"Oh,, angkat orang itu." ucap orang yang dipanggil kapten tersebut.


Saat dimobil tadi Jaya memang meletakan lencana dan tanda pengenal Satya Yudha miliknya di pakaian Awang.


Awang ingin berteriak namun Mario mencegahnya.


Jaya di entas dari kolam tersebut. Borgolnya dilepas, tanpa menunggu lagi, Jaya langsung memberikan perlawanan brutal.


Hèllo gengs,,,, dukung terus Author dengan like dan komen ya,, tapi komennya yang baik baik aja,,, Apa ada tokoh yang membuat anda penasaran????? komen aja ya biar Author siapin fotonya di next chapter,,, thank you

__ADS_1


__ADS_2