
Selama dua jam lebih Adel mempelajari video tersebut dan mempersiapkan beberapa strategi untuk menghadapi lawannya. Jaya membantu putrinya menyusun jadwal latihan se efisien mungkin.
Jaya juga sudah berpesan juga kepada dua adiknya agar tidak memforsir latihan Adel atau mereka siap terkena amukan isterinya.
Tak terasa kini sudah lewat dari jam makan malam. Bu Mona sudah berangkat kerja karena ada jadwal operasi malam ini.
Tok tok tok,,
Pintu dibuka perlahan, ternyata Bi Inem yang membukanya.
"Maaf tuan, sekarang sudah malam, sudah lewat dari jam makan." ucap Bi lnem.
"Oiya,, sebentar ya,, " ucap Jaya.
Bi Inem lalu keluar meninggalkan Jaya dan Adel.
Jaya segera merapikan laptopnya dan mengajak Adel makan malam.
Jaya turun menuju ruang makan dan melihat beberapa menu kesukaanya ada disana.
" Hmmm,,, ayam goreng." ucap Jaya.
Jaya dan Adel lalu duduk bersebelahan dan mulai menyantap hidangan mereka.
Mereka berusaha makan secepat mungkin karena tidak enak ke Bi Inem yang sudah kemalaman.
"Adel udah ngerjain PR?" tanya Jaya.
__ADS_1
Adel hanya mengangguk pelan.
Setelah sepuluh menit, Jaya dan putrinya sudah selesai makan malam dan meninggalkan meja makan.
"Makasih, ya, Bi." Ucap Adel dan Jaya bersamaan.
"Sama sama, Tuan, Nona." jawab Bi Inem.
Jaya kembali ke kamarnya, Adel juga melakukan hal yang sama.
Adel membereskan buku yang harus ia bawa besok.
"Nggak sabar rasanya turnamen di Jakarta. Ketemu kakak lagi." gumam Adel sembari memasukkan buku bukunya ke dalam tas sekolahnya.
Adel lalu membuka ponselnya.
Banyak sekali pesan teks yang masuk.
*********
"Al, kamu bisa ambil libur 3 bulan lagi. Dan lebaran juga kamu boleh pulang." ucap Master J.
Alia begitu girang mendengarnya sampai memeluk pelatihnya.
Alia salah tingkah seketika.
"Hmmm,,, bahagia kelewatan." ledek Master J.
__ADS_1
Alia lalu mengucapkan terima kasih ke pelatih tampannya tersebut dan kembali ke kamarnya.
Alia mengambil hand phone nya. Ketika dirinya hendak mengabari rumah, Alia mendapat suatu ide.
********
Jam 05.45 Bu Mona sampai di rumah. Dirinya terlihat begitu kelelahan. Sayangnya Jaya harus kembali ke asrama untuk menyiapkan misi pelapis yang akan dijalankan 3 hari lagi.
Berbeda dari pengawal utama yang di siapkan di hari pengawalan, tim pelapis di beri pengarahan lebih mendalam karena mereka adalah regu penyelamat terdekat.
Dalam misi kali ini Jaya bertugas sebagai kapten Pelapis yang memimpin beberapa puluh anggota. Tugasnya adalah memberi komando pada teman temannya.
Awalnya Jaya menolak karena ingin mencoba menjadi sniper tapi komandan Ucok terus membujuknya hingga Jaya bersedia.
"Kalau kamu menjadi sniper, kamu tidak bisa menolongku jika terjadi sesuatu." ucap Komandan Ucok.
Sebenarnya Jaya masih sebal karena harus menjadi kapten. Tapi apa daya dia hanya bisa menerimanya.
"Jangan sampai kau terluka, ya. Bang." ucap Jaya.
"Tenang. Aku punya banyak anak buah yang rela dikorbankan." Pak Perwira terkekeh mendengar ucapan Komandan Ucok sementara anak buahnya merasa kesal karena mereka berfikir akan dijadikan tumbal.
" Kamu harus lebih hati hati, Ucok. Ini misi yang berbahaya karena client kita sudah berumur dan memiliki riwayat sakit jantung. Jangan melepas tembakan secara tiba tiba." Pak Perwira menasehati komandan Ucok.
Banyak orang yang khawatir karena sudah bertahun tahun komandan ucok tidak memimpin secara langsung dilapangan. Kemampuan bertarung antara Jaya dan Komandan Ucok juga sangat berbeda,dimana komandan Ucok sebenarnya lebih berbakat di balik layar.
**Jeng jeng jeng,,, guyssss maaf ya author jarang up.
__ADS_1
Author abis kecelakaan jadi kurang konsen nulis. Mungkin Author butuh getah ganga wkwkwkkwkwkwkw
Do"ain author ya semoga jempol kaki author cepet sembuh biar nggak cenat cenut lagi**