My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Sebuah kemenangan


__ADS_3

Kepala sekolah terus memberi semangat pada Adel yang mulai kelelahan. pertandingan sudah memasuki babak semifinal. Adel kini bertanding di sudut merah.


"Adel, kamu pasti bisa!!!" teriak kepala sekolah semangat.


Adel mengangguk lalu membalasanya dengan senyuman. Adel kembali memasang gum shield nya lalu berjalan ke sudut merah. Lawannya juga sudah bersiap.


"Charyot!!!!" teriak wasit.


"jireugi junbi!!!" teriak wasit lagi, Adel sudah ancang ancang ditengah arena.


"shijakk! haaa!!" teriak wasit diikuti teriakan kedua petarung.


Dalam sepuluh detik pertama Adel berhasil menendang kepala lawan dan membuat lawan sempoyongan. Adel lalu memberi dua tendangan beruntun dan tepat sasaran.


poin yang Adel dapat adalah 5, sedangkan lawannya belum mendapat poin.


Adel sedikit lengah dan bruakkhhh!!!


Lawannya memukul mulut Adel dengan sangat keras hingga Adel mundur beberapa langkah. Wasit menghentikan pertandingan karena lawan Adel bermain curang.


"arghh,,," rintih Adel sambil memegang mulutnya. Darah mulai merembes dari sela sela jarinya dan kini mulai menetes mengotori seragamnya.


"Jangan panik." ucap Sabeum taufik yang menarik tangan kanan Adel dan menempelkan handuk dibagian yang terluka.


Kepala Sekolah terlihat panik.

__ADS_1


Rahmat mengulurkan air es lalu memimta Adel berkumur.


Darah masih terus menetes tapi time out habis dan Adel harus kembali kelapangan. Adel kini mulai emosi dan berniat menyerang lawannya dengan sangat serius.


"shijak!!" teriak wasit.


Adel langsung mengejar lawannya. Sang lawan berusaha mengambil jarak tapi Adel tidak


memberikannya. Lawannya mulai ketakutan dengan apa yang dilakukan Adel. Adel melancarkan tendangan ke perut lawan dan tidak berhasil dihindari.


Sabeum Rahmat terlihat geregetan melihat cara bertarung Adel yang berubah ganas.


Lawan akhirnya keluar lapangan dan menyerah karena tidak ingin babak belur.


Sabeum Rahmat menggelengkan kepala sambil membersihkan darah yang masih terus mengalir.


Ternyata bibir bawah Adel mengalami luka sobek cukup parah dan terus berdarah. Gusinya juga terluka.


Setelah 15 menit, Adel kembali bertarung.


Kini kejar kejaran poin pun terjadi. Adel yang masih menahan sakit jadi kurang fokus. Kuarter pertama Adel tertinggal 6 poin. Dikuarter kedua jaraknya menipis. selisih hanya dua poin. Adel mengejarnya dikuarter ketiga.


Lawannya lagi lagi menyerah setelah mimisan karena tendangan Adel yang menyerempet hidungnya.


Setelah upacara kemenangan dan pemberian piagam serta pengalungan medali, ada sesi foto foto.

__ADS_1


Kepala sekolah sangat antusias saat berfoto ria.


"Selamat ya, latihan kamu tidak sia sia." ucap sabeum rahmat.


Aeel mulai menitikkan air matanya karena bibirnya sudah sangat sakit. Daranya juga keluar lagi


"Ayo kerumah sakit saja." ajak Kepala sekolah.


"Kami akan membawanya ke Rumah sakit Premier, kebetulan Papanya dirawat disana dan Mamanya juga sedang berjaga." Ucap Sabeum Rahmat.


"Baiklah, saya akan ikut mengantar ya." ucap Kepala Sekolah. Sabeum Rahmat mengangguk sementara adiknya sedang mengemas semua yang mereka bawa.


Adel hanya bisa diam di mobil. Ingin rasanya dia menangis sekencang kencangnya namun itu semua hanya membuat lukanya semakin sakit.


Adel melepas seragamnya dan kini hanya mengenakan kaos putih lengan pendek yang mulai kotor karena darah.


"Saya sangat bangga sama kamu, Adel. Beberapa tahun yang lalu ada murid yang sangat berbakat katanya, namun tidak bisa menembus semifinal sekalipun." ucap kepala sekolah kagum atas pencapaian Adel. Adel hanya bisa tersenyum.


Akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit Premier.


******


"Terima kasih atas kunjungannya, Pak." ucap Jaya saat Pak Perwira dan komandan Ucok pamit pulang. Bu Mona mengantar sampai didepan pintu.


Tak berapa lama kemudian pintu kembali dibuka.

__ADS_1


"crieeeett,, klek."


__ADS_2