
Hari itu juga Komandan Ucok dipindahkan ke Semarang, ditempat Pak Surya membuka praktek pengobatan tradisional.
"Terima kasih Mona, udah bantu abang." ucap Komandan Ucok.
"Sama sama Bang, Abang tidak perlu sungkan kalau butuh sesuatu tinggal bilang aja." ucap Mona.
"Suami kamu dimana? Dia nggak pernah nengokin atau sekedar kasih kabar." ucap Komandan Ucok.
"Suamiku lagi ke Jakarta nemenin Pak Perwira. Baru berangkat tadi pagi." ucap Mona.
"Ke Jakarta?" ucap Komandan Ucok.
"Iya ke Jakarta." jawab Mona santai.
Pak Surya datang dan memotong pembicaraan mereka.
"Kalian sudah selesai ceritanya? Aku mau melihat kondisi Ahmad." ucap Pak Surya yang secara tidak langsung meminta menantunya keluar.
Mona pun keluar seperti yang diinginkan mertuanya.
"Apa kabar, Ahmad?" tanya Pak Surya. Ahmad tersenyum menanggapi pertanyaan Pak Surya.
"Beginilah, paman. Tidak cukup kuat bahkan untuk berdiri." ucap Komandan Ucok.
"Paman periksa dulu, ya." ucap Pak Surya.
Pak Surya mendekati komandan ucok lalu membantu komandan ucok melepas kemejanya.
"Habis ini kamu tidak usah pake baju. Kaki kamu juga ada luka tembak, kan?" tanya Pak Surya.
__ADS_1
"Iya." jawab komandan Ucok.
"Jadi saya disuruh telanjang habis ini?" tanya Komandan Ucok.
"Pikirannya gak usah ngeres, kamu cukup tiduran dan tubuh kamu ditutup selimut. Jaya saja kemarin dua hari baju saya umpetin semua." ucap Pak Surya.
Komandan Ucok tertawa terbahak bahak mendengar adik iparnya yang dipaksa telanjang sampai dua hari karena lukanya juga cukup parah.
"Kamu udah enak enak dirawat di Premier susternya cantik cantik dokternya baik baik kok malah kesini?" Tanya Pak Surya heran.
"Pengen cepet sembuh, Paman." ucap Komandan Ucok.
"Kalau pengin cepet sembuh ya jangan ngeyel." ucap Pak Surya.
Pak Surya mulai memeriksa kondisi luka Komandan Ucok.
"Sakit?" tanya Pak Perwira.
"Lumayan, tapi terutama karena kaget." ucap Komandan Ucok.
"Kamu waktu tugas pake rompi, kan?" tanya Pak Surya.
"Iya." Jawab Komandan Ucok singkat.
"Kenapa ini luka bacokan penuh dibadan sama punggung?" tany Pak Surya bingung.
"Soalnya kemarin saya lepas." jawab Komandan Ucok.
"Kamu ini bodoh atau sok kuat? ditengah baku tembak berani beraninya melepas rompi anti peluru." Pak Surya tak habis pikir kenapa ada orang sekonyol Ahmad.
__ADS_1
Ahmad hanya bisa tersenyum.
"Paman mau ambil obat obat yang sudah disiapkan. Kamu rebahan saja jangan jalan jalan." ucap Pak Surya lalu berjalan meninggalkan Komandan Ucok sendirian.
************
"Mba, nanti sore aku pulang saja ya." ucap Mona pamit.
Dirinya juga harus mengurus kebutuhan Adel.
"Iya , tidak masalah." jawab Indri.
Keduanya lalu makan siang bersama dengan Bu Santi dan Pak Surya.
Setelah itu Indri kekamar perawatan Suaminya dan menyuapi nya makan siang.
Setelah 30 menit berlalu, Pak Surya bersama dua orang asistennya datang membawa berbagai perlengkapan.
Mulai dari gunting, pisau, perban, benang, Jarum, berbagai ramuan yang berbentuk getah, serbuk, dan minyak.
Mereka juga membawa tungku kecil yang sudah berisi bara api menyala didalamnya.
"Ini kali pertamanya kamu ditangani Paman, jadi mungkin kamu akan terkejut dengan prosesnya." ucap Pak Surya.
Komandan Ucok memgangguk paham. Rak terasa keringat dinginnya mulai mengucur karena ada rasa takut menyelinap dihatinya.
Disamping tempat tidur Komandan Ucok ada sebuah meja kecil, Pak Surya meletakkan peralatannya disana.
"Aya kita mulai,,,,,"
__ADS_1