
Diruang makan rumah Pak Eko, Adel sedang bersama dengan Rahmat dan Bu Mona. Adel makan dengan sangat lahap hingga tak bersuara sedikitpun.
"Mba, bagaimana kondisi Mas Eko?" Tanya rahmat. Rahmat memulai pembicaraan terlebih dahulu karena sudah tidak bisa menahan lagi apa yang ada dibenaknya.
Bu Mona meletakkan alat makannya disamping piringnya, menandakan dirinya telah selesai makan.
"Mas mu sudah baikkan, dia masih lemas karena sengaja diberi obat obat obatan penenang." Jawab Bu Mona singkat.
"Apa karena kejadian kemarin?" Tanya Rahmat lagi. Bu Mona hanya mengangguk lalu mulai bicara lagi.
"Iya, kami para tim dokter sedikit trauma. Karena bukan hanya sekali dua kali Mas Eko kabur disaat perawatan, Namun yang terakhir adalah yang paling parah dan kami tidak mau melakukan kesalahan yang sama." Jelas Bu Mona. Kini giliran Rahmat yang manggut manggut saja.
Adel yang tidak mau ikut campur masalah ini memilih belajar dan mengerjakan tugas setelah selesai makan.
"Apa ayah sudah tau?" Tanya Rahmat penasaran.
"Ayah sudah tau, kami sudah berunding dari awal Mas Eko ikut seleksi dan Ayah juga setuju." Jelas Bu Mona lagi.
__ADS_1
"Baiklah, Mba, aku malam ini ingin menginap disini, besok aku harus ke Jakarta, besok juga Adel libur latihan. Lusa Taufik yang akan melatih." Ucap Rahmat.
"Iya, anggap saja rumah sendiri." Jawab Bu Mona.
******
"Kenapa banyak sekali tugas yang belum kukerjakan?Rasanya kepala ini mau meledak." Keluh Adel.
Ada dua tugas yang akan menguras waktu yaitu IPS dan matematika. Walau dirinya sudah menguasai semua materi sampai sebulan kedepan namun tetap butuh waktu untuk menulis jawaban yang panjang panjang. Dia pun pasrah menghadapi kenyataan kalau beaok tugasnya belum selesai.
Adel perlahan lahan mulai mengerjakan tugas tugas sekolahnya yang menumpuk.
“Fiurhhhh,,, selesai juga.” Ucap Adel sambil meregangkan badannya yang terasa kaku. Semua buku bukunya segera disiapkan dan dimasukkan kedalam tas. Adel lalu tidur.
“Ma, bagaimana dengan Adel?” Tanya pak Eko yang masih lemah.
“Perkembangan Adel tidak terlalu jauh, namun masih cukuplah kalau untuk kejuaraan daerah.” Ucap Bu Mona. Suaminya langsung menaikkan alisnya disertai kerutan pada dahinya.
__ADS_1
“Perkembangannya menurun ya?” tanya Pak Eko. Bu Mona hanya mengangguk pelan.
Pak Eko menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata katanya. Kini lukanya mulai terasa nyut nyutan lagi.
“Biarkan Rahmat dan Taufik yang melatihnya. Dulu waktu Papa yang latih Adel kemampuannya tidak buruk, namun kalau Mama sekarang bisa berkata seperti itu berarti tidak ada kemajuan. Mungkin pelatihnya terlalu memanjakan Adel.” Ucap Pak Eko.
“Ma, ini sudah tengah malam, Mama istirahat saja dan besok pergi ke sekolah Adel.” Ucap Pak Eko lagi.
“Baiklah, Pa, Mama pulang dulu ya.” Ucap Bu Mona. Bu Mona mengecup kening Pak Eko lalu meyalami Pak Eko.
Ketika sudah ada di depan pintu, Bu Mona membalikkan badannya dan melambaikan tangannya disertai dengan senyum hangat menghiasi bibirnya. Bu Mona lalu menutup pintu.
Setelah Bu Mona tak terlihat lagi, Pak Eko langsung menggeliat kesakitan. Entah apa yang terjadi dengan perutnya dan hal inilah yang menyebabkan dirinya meminta Bu Mona pulang, karena tidak mau membuat istrinya terus terusan lembur.
Setelah sekitar lima belas menit barulah Pak Eko menekan tombol untuk memanggil suster. Dalam dua menit Suster sudah diruangan Pak Eko.
Keringat dingin membanjiri tubuh Pak Eko karena menahan rasa sakit yang luar biasa.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian kini giliran dokter yang datang. Setelah memeriksa keadaan Pak Eko dokter kemudian menyuntikkan obat penghilang rasa sakit.