
"Apa kalian mendapat kabar terbaru?" tanya Pak Perwira panik. Dirinya tidak menduga serangan terjadi begitu cepat.
"Sudah Pak, ada ditepi pantai. Pasukan kita sudah dekat." ucap Komandan Ucok.
Pak Perwira belum tenang. Dirinya memantau terus dari ruang komando, sementara komandan Ucok terjun dilapangan.
"Berapa pasukan yang kalian bawa?" tanya Pak Perwira.
"enam puluh orang ditambah 10 tenaga medis." ucap Komandan Ucok.
"Saya terus menyalakan earphone nya, Kami sudah sampai."ucap Komandan ucok.
*****
Komandan ucok dan pasukannya mulai mengepung gudang penyekapan. Mereka masing masing membawa pistol ditangan dan pisau terselip dipinggang mereka.
Komandan Ucok dengan hati hati menyelinap ke dalam gudang. Melihat pasukan lawan lengah, mereka langsung menyergap.
derrr!!! derrr!!! derr!!!derrr!!
Bahu tembak mulai terjadi. Komandan ucok dan rekan rekannya segera meringkus gangster gangster itu.
"Dimana Jaya??!!" teriak Komandan Ucok.
"Kolam!!!" teriak Mario. Komandan ucok langsung melompat ke kolam dan menarik tuh Jaya keluar dari air.
Komandan Ucok segera memeriksa nafas Jaya.
Tidak ada!!
Komandan Ucok mengguncangkan tubuh Jaya.
"Jangan panik, komandan." ucap seorang Satya Yudha.
"Bagaimana tidak panik?!!" teriak Komandan ucok marah. Bagaimana dirinya akan menjelaskan kepada istri Jaya nantinya.
Seorang polisi mendekati Jaya dan komandan Ucok.
Polisi tersebut melakukan CPR.
"Jaya!!! Bangun!!! Abang minta kau bangun!!!" teriak Komandan Ucok. Semua orang tertegun melihatnya. Tidak ada yang pernah melihat komandan ucok menangis sebelumnya.
"Jaya!!!" teriak Komandan Ucok lagi. Dirinya penuh dengan penyesalan.
Polisi tersebut berhenti melakukan CPR dan menggelengkan kepalanya.
"Jaya,, hari ini 25 april,,, kamu ingatkan? keluargamu menunggumu dirumah." Bisik komandan Ucok ditelinga Jaya. Komandan Ucok lalh memukul dada Jaya berulang kali.
Slurp!! buh,,,
Jaya menyemburkan air dari mulutnya. Perlahan Jaya membuka matanya.
__ADS_1
."Abang,,," lirih Jaya.
Komandan Ucok terlihat begitu bahagia, sampai sampai dirinya memeluk Jaya erat erat.
"Abang,, lepass,,," rintih Jaya. Dirinya kembali kesulitan bernafas.
Tim medis segera memeriksa ketiganya. Kondisi Awang baik baik saja hanya ada beberapa luka lebam. Sedangkan Mario dan Jaya harus ke rumah sakit.
" Bang, aku mau ke semarang aja, tapi nunggu enam hari dulu." Usul Jaya ketika hendak ke rumah sakit.
"Kita hanya MRI saja, bagaimana nanti penanganannya biar kamu sama dokter yang diskusi." ucap Komandan Ucok.
Komandan ucok sedari tadi memang tidak memperhatikan kondisi Jaya. Begitu melihat tangan Jaya yang mengalami luka bakar, dirinya begitu terkejut.
"Oh tuhan, Jaya, tangan kamu kenapa?" Tanya komandan Ucok.
"Mereka menempelkan tangan ini ke api, lalu menginjaknya. alhasil seperti ini." jelas Jaya. rasa sakit dari luka bakar tersebut memang sudah berkurang, membuat Jaya tidak terlalu memikirkannya.
"Kamu mau pulang atau di asrama aja?" tanya Komandan Ucok lagi.
"Di asrama saja, kan baru satu minggu disini." ucap Jaya.
"Ini hari ulang tahunmu." Komandan Ucok mengingatkan.
"Tidak masalah, nanti juga mereka paling datang ke asrama." Ucap Jaya santai.
Komandan Ucok justru mengerutkan keningnya kebingungan.
"Tidak seperti biasanya bagaimana?" Jaya balik bertanya.
"Kamu seolah olah menghindar untuk pulang." ucak Komandan Ucok.
Jaya menghela nafas panjang,,, lalu menjawab pertanyaan komandan ucok.
"Bang, mona sudah pernah berpesan padaku, jangan terluka lagi. Tapi kini tugas pertama saja sudah membuat kondisiku begitu buruk." Ucap Jaya.
Komandan Ucok langsung terkekeh mendengar ucapan Jaya.
"Jadi kamu takut istri kamu marah?" tanya komandan Ucok meledek.
"Ya kurang lebihnya seperti itu. Lagi pula tidak baik membuatnya khawatir terus menerus." Ucap jaya.
Perjalanan ke rumah sakit terdekat saja sudah membutuhkan waktu sekitar 2 Jam. Itupun mereka sudah ngebut sengebut ngebutnya.
Maklum saja untuk keluar dari area hutan saja sudah memakan waktu sekitar 20 menit, dan rumah sakit besar terdekat ada di kawasan banyumas.
Setelah sampai, Jaya dibawa menggunakan brankar dorong. Dokter melakukan pemeriksaan awal, lalu mengobati luka bakar ditangan kanan Jaya. Diruangan lain dokter juga sedang membersihkan luka dipunggung Mario.
Komandan Ucok menunggu dari luar ruangan.
"Argh,,,," pekik Jaya. Dokter menguliti tangannya yang mengalami luka bakar tanpa membiusnya terlebih dahulu.
__ADS_1
Jaya sebelumnya tidak pernah terkena luka bakar separah ini makanya dia mau mau saja dibawa kerumah sakit. Ternyata penanganannya seperti ini.
Setelah semua bagian yang terbakar dibersihkan, Dokter membasuh luka tersebut dengan menggunakan cairan infus, baru mengobatinya.
Keringat membanjiri tubuh Jaya. Ternyata perawatan luka bakar seperti ini ya??
Dokter meletakkan sofra tulle diluka Jaya, baru membalutnya.
Dokter kembali meninggalkan jaya. Tak lama berselang suster datang dan membawa Jaya keruang MRI.
*******
"Argh,,," rintih Mario. Lukanya sedang dibersihkan dengan alkohol. Dirinya lalu diberi bius lokal dan punggungnya pun dijahit.
Komandan Ucok menemuinya saat dokter sudah memperbolehkan.
"Kamu udah baikan?"Tanya komandan Ucok
"Sudah. Bagaimana Jaya?" tanya Mario.
"Sedang MRI." jawab komandan ucok.
"Dia,,, aku baru melihat ada manusia seperti dia." ucap Mario.
"Maksudnya?" tanya komandan ucok bingung.
" Aku sudah mendengar dia seorang negosiator, dan tahan siksaan,,"
" Tapi aku benar benar dibuat terkejut olehnya. Dia juga pandai akting. Kenapa dia tidak jadi aktor saja? Pasti laku." ucapan Mario membuat Komandan Ucok bingung.
"Aku sudah sangat lama tidak bertugas bersama. Mungkin sekitar lima tahun." ucap Komandan Ucok bingung.
"Dia menyamar menjadi Awang dan rela disiksa habis habisan. aktingnya sungguh luar biasa. Dia bahkan sempat menaruh identitasnya dipakaian Awang." ucap Mario.
Mata komandan Ucok terbelalak. Dirinya tidak mengetahui tentang hal seperti ini.
"Anak itu benar benar,,," Ucap Komandan ucok geregetan.
Komandan ucok keluar ruangan karena ada telpon dari Pak Perwira.
"Iya komandan?" tanya Komandan Ucok.
"Bagaimana kondisi Mario dan Jaya?" tanya Pak perwira.
"Jaya sedang melakukan MRI, sedangkan Mario sudah selesai dirawat." Jawab komandan ucok.
"Bawa mereka berdua ke RS. Premier saja." ucap Pak Perwira.
"Mungkin kalau untuk rawat jalan iya, tapi kalau untuk rawat inap mereka menolak." jawab Komandan Ucok.
"Baikalah, nanti terus beri kabar ya." ucap Pak Perwira. Panggilan terputus.
__ADS_1
**Hello gengs,,, Maaf kalo author belum bisa munculin tokoh Pak Perwira, kemarin keselip fotonya wkwkwkkw,,,