
Alia lalu membalikkan tubuhnya tak ingin berlama lama memandang Santoso.
Santoso memang cukup tampan dan juga cerdas, tapi dihatinya sudah ada yang mengisi. Laki laki yang bertahun tahun lamanya hidup bersamanya, saling mencintai, saling menyayangi, namun karena tidak ada keberanian dari kedua pihak membuat mereka harus berpisah.
"Aku akan selalu menunggu kamu." gumam Alia.
Alia menarik selimutnya dan memiringkan tubuhnya, mengingat kekasihnya yang berada jauh disana, hingga tak terasa Alia terlelap.
Dalam mimpinya pun dia masih memikirkan kekasihnya. Senyuman manis khas Jaseth yang selalu membuat Alia rindu, tawa renyah Jaseth yang selalu membuat Alia melupakan kesedihannya.
Namun ini hanyalah mimpi, ketika terbangun, Alia melihat jam di ponselnya, sudah jam 5 pagi.
"Kenapa ini terasa begitu singkat?" batin Alia.
Alia berharap kalau mimpinya bersama sang kekasih bisa bertahan lama, namun nyatanya sekarang sudah pagi dan dia harus kembaki menjalani rutinitasnya.
****************
__ADS_1
Tak terasa tiga minggu sudah berlalu, ini adalah hari dimana Jaya sudah diperbolehkan pulang. Santoso dan Slia akan mrnjemputnya di Bandara Soekarno-Hatta, sedangkan Adel akan di antar oleh Taufik atau Rahmat menggunakan helikopter pribadi keluarga Wijaya.
Alia sengaja meminta Adel agar datang ke Jakarta karena Alia tidak bisa pulang ke Semarang. Alia sedang banyak sekali pertemuan dengan kolega jadi akan sangat melelahkan apabila mereka yang harus ke Semarang.
Jaya mendarat dengan pesawat Garuda Indonesia pukul 09.45 WIB dan Alia sudah menantinya di ruang tunggu.
Begitu kedua orang tuanya terlihat, Alia segera menghampiri keduanya dan memeluknya. Sedangkan Santoso langsung mengambil alih semua barang bawaan keduanya, walau sebagian besar sudah di urus oleh pengawal Jaya.
"Mama, Papa, apa kabar?" tanya Alia begitu antusias.
"Papa sudah sangat sehat, Al." jawab Jaya tak kalah antusiasnya.
"Bagaimana ya? belum ada perubahan yang signifikan." jawab Alia.
"oooohhh,,," sahut Jaya dan Mona hampir bersamaan.
"Ini mau langsung pulang atau mau mampir kemana dulu nih?" tanya Alia berusaha mengalihkanntopik pembicaraan. Bu Mona yang mengetahui niatan Alia untuk mengalihkan pembicaraan hanya mengikuti alurnya saja.
__ADS_1
"Langsung pulang aja." jawab Jaya.
" Ya sudah." balas Alia. Mereka lalu pulang dengan iring iringan mobil SUV.
Ada 10 orang pengawal pribadi keluarga Wijaya yang ikut ke Singapura, tentu saja mereka juga ikut pulang ke Indonesia.
Alia menaiki mobil SUV hitam kesukaannya, bersama Bu Mona,Jaya, dan Santoso yang mengendarainya. Sedangkan pengawal Jaya terbagi menjadi 2 mobil dan sama juga menggunakan mobil SUV.
"Aku sudah menyiapkan hotel buat pengawal kita, Pa." ucap Alia.
"Kenapa mereka tidak tidur di kediaman Wijaya saja? kan kamar kosong juga banyak." jawab Jaya.
"Pa, aku udah buat acara, jadi kalo mereka dirumah juga jadunya terlalu ramai." Alia berusaha berkilah.
"Ya sudah, terserah kamu saja." ucap Jaya.
"Mas Tosa, hubungkan dengan Mobil satu dan tiga." pinta Alia ke Santoso. Santoso mengangguk paham dan menghubungi teman temannya yang ada dimobil satu dan tiga, sedangkan mobil dua adalah mobil yang ia kendarai.
__ADS_1
Setelah semuanya terhubung, Alia mengambil alih pembicaraan.
"Semuanya, kalian jangan pulang ke kediaman Wijaya. Aku sudah menyiapkan kalian masing masing kamar di hotel Pop. Kalian jangan menolak. Lagilula jaraknya hanya dua ratus meter dari rumah, jadi jangan menolak. Ini Perintah!!"