My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Air Mata Komandan


__ADS_3

"Abang yakin mau berobat disana? Sekali masuk kalau belum diizinkan pulang nggak boleh pulang lho." ucap Mona.


"Tidak masalah." jawab Komandan Ucok singkat.


"Ya sudah, kapan Abang mau kesana?" tanya Mona.


"Besok. Kamu bisa urusin kan?" ucap Komandan Ucok lagi.


Mona mengangguk paham, menyetujui permintaan abangnya.


"Mengurus dari sini ke semarang itu mudah, tapi bagaimana caranya keluar dari rumah sakit?" Tanya Indri bingung.


"Kalau itu bagianku, mbak." ucap Mona.


"Ya sudah, bang, kamu istirahat saja, aku mau urus persiapannya." ucap Mona.


Komandan Ucok hanya mengangguk.


Dirinya masih merasa sakit di sekujur tubuhnya.


Mona keluar dari ruang inap Komandan Ucok.


"Pa,," ucap Indri lirih dengan tangan kanan mengelus pipi Komandan Ucok.


"Iya, Ma?" tanya Komandan Ucok.


"Papa yakin mau ke Semarang?" tanya Indri lagi, memastikan suaminya sudah betul betul mantap atau belum.

__ADS_1


"Papa sangat yakin. Kenapa Mama bertanya seperti itu?" tanya Komandan Ucok.


"Mama khawarir sama Papa. Sudah bertahun tahun Papa tidak mengalami cedera, kini malah sampai kayak gini. " ucap Indri.


" Sudah resiko pekerjaan sebenarnya. Mungkin kalau Eko (Jaya) waktu itu nggak nekad Papa nggak tau mayatnya utuh apa nggak." ujar Komandan Ucok.


"Hushh!!Papa nggak boleh ngomong kaya gitu." ucap Indri.


"Iya, Papa paham, cuma bener kalau Jaya nggak nekad waktu itu Papa nggak tau bakal jadi apa." ujar Komandan Ucok lagi.


"Ma, sudah siang ini mama belum makan. Mending Mama makan dulu deh daripada entar sakit." ucap Komandan Ucok ke Istrinya.


"Papa nggak masalah sendirian?" tanya Indri.


"Nggak papa." jawab Komandan Ucok singkat.


Setelah melakukan ini dan itu melewati prosedur ini meminta persetujuandokter itu, serta perdebatan yang melelahkan pun dirasakan, Mona berhasil membujuk tim dokter Rumah Sakit Premier untuk mengizinkannya melakukan perawatan dirumah. Jaminannya adalah nama baik Dr. Monalisa Sahara, yaitu Mona.


Mona menghela nafas lega karena bisa menuruti permintaan dari Abangnya.


Tinggal dia menyiapkan transportasinya besok untuk menuju ke Semarang.


Disisi lain, Komandan Ucok cemas karena baik Jaya maupun Pak Perwira belum ada yang datang untuk sekedar memeberi info tentang misi kemarin.


"Apa ada masalah, Ya?" guman Komandan Ucok.


Komandan Ucok berinisiatif untuk menghubungi Jaya. Namun sebelum itu Komandan Ucok membuka Grup Chat milik Satya Yudha. Begitu terkejutnya Komandan Ucok melihat berbagai berita yang ada dalam GC tersebut.

__ADS_1


Tak terasa, Komandan Ucok menjatyhkan Ponselnya ke lantai.


"Mengapa,,, mengapa??? mengapa mereka tidak memberitahuku tentang ini?" ucap Komandan Ucok dengan suara yang mulai bergetar.


Marah, sedih, kecewa, rasa bersalah, bercampur menjadi satu mengobrak abrik hati Komandan ucok.


Air matanya sudah berlinangan membasahi pipinya.


Komamdan Ucok berusaha mengambil ponselnya yang jatuh. Dengan susah payah dan menahan semua rasa sakit, komandan ucok terus berusaha meraih ponselnya.


"Ayo!! menyedihkan." Ucap Komandan Ucok menyemangati dirinya sendiri.


Komandan Ucok geram pada kondisinya saat ini. Dirinya begitu lemah dan payah, bahkan untu berdiri sekalipun.


"Bruak!!!"" komandan Ucok terjatuh dari ranjangnya.


Akhirnya komandan Ucok pun berhasil meraih ponselnya.


Selang infus yang harusnya tertancap di tangan kirinya pun terlepas. Komandan Ucok mulai merasa kesakitan, namun tetap dapat ditahan.


Komandan Ucok mulai mengotak atik ponselnya. Pak Perwira berusaha ia hubungi, tidak diangkat!


Kemudian nomor Jaya juga tidak aktif.


Komandan Ucok meminta penjelasan kepada tim Cyber Satya Yudha namun mereka berkata bahwa Pak Perwira telah melarang semua akses informasi ke Kòmandan Ucok karena ingin Komandan serius pemuliha.


"Kenapa?!!!!" teriak Komandan ucok hosteris

__ADS_1


__ADS_2