
"Papa,, Aku khawatir banget lho sama Papa." ucap Alia.
Jaya hanya tersenyum karena belum bisa banyak bicara.
"Al,, Papa belum bisa banyak bicara, kasian kalau kamu ngajak Papa ngobrol dan jadi pengin ngomong Papanya." ucap Bu Mona.
"Ya sudah, aku yang bercerita, Papa cukup mendengarkan." ucap Alia yang masih terlihat kegirangan.
"Kemarin waktu eyang telpon aku khawatir banget denger Papa katanya terluka. Aku langsung minta izin sama coach kesini." ucap Alia mulai bercerita.
"Terus aku dateng, ternyata Santoso sama Om Mario disini lagi ngurus administrasi Papa sama yang lain." Lanjut Alia lagi.
" Terus aku donorin darah ke Papa, dan aku kagettt banget waktu liat Papa dijahit perutnya." ucap Alia lagi sambil menunjukkan ekspresi ngeri membayangkan apa yang dia lihat semalam.
Jaya malah tersenyum mengejek seolah dia mengatakan itu semua tidak ada apa apanya.
"Papa kok gitu?" tanya Alia yang mulai cemberut.
"Tuh kan, Al, kamu dicuekin sama Papa." ucap Bu Mona seakan ikut mengejek Alia.
"Sudahlah,, aku lapar." Alia merajuk dan mengambil sarapannya.
"Al, suapin Papa." ucap Jaya lirih..
"Suapin Papa?? Papa mau buah,puding, atau yoghurt??" tanya Alia
__ADS_1
Jaya menunjuk puding caramel yang berada di atas meja.
"Papa mau puding caramel?" tanya Alia memastikan.
Jaya mengangguk pelan.
Alia lalu beranjak dari tempat duduknya dan cuci tangan. Setelah itu dirinya mengambil puding dan sendok kecil.
Alia menyuapi Papanya dengan perlahan takut menyenggol bagian bibir Papanya yang dijahit.
Jaya kembali merasakan perih luar biasa dari mulutnya dan hanya bethasil menelan dua sendok puding.
"Papa pasti sakit lagi" ucap Alia setelah melihat ekspresi wajah Papanya.
"Terus kalau puding aja nggak bisa Papa mau makan apa?" tanya Alia lagi.
Jaya menggelengkan kepalanya karena tak ada niat untuk meneruskan makannya.
"Ya sudah, kalau begitu aku yang makan ya Pa." ucap Alia.
Alia bangun lalu mengambil sarapannya.
Pukul 09.30, Santoso menemui Pak Surya.
"Tuan, Ada tugas hari ini?" tanya Santoso masih menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah tuan besarnya.
__ADS_1
"Hari ini kamu jaga Alia." ucap Pak Surya.
"Apa tidak masalah kalau saya tidak berada disini?" tanya Santoso.
"Masih banyak orang yang memantau." jawab Pak Surya datar.
"Kamu tahu sendiri baik Alia maupun Adel tidak ada satupun yang mau dikawal. Kalau kamu dengan Alia kan seumuran jadi dia bisa nganggap kamu sebagai teman." ucap Pak Surya membuat Santoso salah tingkah.
"Kamu mau kan?" tanya Pak Surya.
Santoso masih senyum senyum sendiri.
"Badan kamu panas, Kamu sakit?" tanya Pak Surya lagi. Santoso tidak menyadari pertanyaan Pak Surya sampai Pak Surya memegang jidatnya.
"Muka kamu merah, Santoso." ledek Pak Surya. Santoso tidak bisa menahan rasa malunya karena ketahuan oleh tuan besarnya.
"Maaf tuan, Saya mau ke toilet dulu." ucap Santoso
"Lima belas menit lagi Alia mau ke hotel. Kamu jaga dia baik baik." perintah Pak Surya.
"Baik Tùan." jawab Santoso cepat lalu dirinya bergegas pergi meninggalkan Pak Surya yang masih tersenyum jahil melihat tingkah laku Santoso.
Bagaimanapun dia pernah muda, dia tahu kalau sebenarnya ada perasaan khusus di hati Santoso untuk Alia.
Pak Surya tidak mempermasalahkannya kalau Alia mau. Walau statusnya sebagai pengawal namun Santoso adalah seseorang yang jenius juga
__ADS_1