
Jaya dan Pak Perwira mengenakan setelan modis serba hitam dengan jass hitam dan pantofel hitam mengkilat.
Mereka berdua berangkat ke persidangan dengan menggunakan mobil mercy hitam milik Jaya.
"Kamu baik baik saja, Jaya?" tanya Pak Perwira.
"Saya sedikit gugup, Pak." ucap Jaya.
"Saya juga agak gugup tapi tetep berusaha untuk tenang." ucap Pak Perwira.
Setelah 40 menit melakukan perjalanan dengan mobil, Akhirnya mereka berdua sampai.
Ditempat lain, Komandan Ucok sedang memonitor tim cyber Satya Yudha walau awalnya aksesnya di blok habis habisan.
"Saya ada informasi penting, kalau sampai terjadi sesuatu saya pasti menghukum kalian dengan berat." ucap Komandan Ucok yang masih kesal.
"Jadi Komandan, apa yang ingin anda sampaikan?" tanya Komandan tim Cyber.
"Taufan, saya mendapat informasi kalau nanti akan ada penyerangan terhadap Pak Perwira dan Jaya. Dimana pasukan terdekat dari Jakarta.?" ucap Komandan Ucok lewat sambungan telpon.
"Harusnya sekarang sedang perjalanan pulang dari Bandung." ucap Taufan.
"Minta mereka ke Jakarta, berikan pengamanan ke Pak Perwira dan rekan kita." ucap Komandan Ucok.
Taufan pun menjalankan permintaan Komandan Ucok dan meminta anggota Satya Yudha yang terdekat dari Jakarta untuk meng Cover Jaya dan Pak Perwira.
__ADS_1
"Komandan, apa informasi ini sudah valid?" tanya Taufan.
"50:50, tapi kalau info ini memang benar, Pak Perwira sedang dalam posisi yang sangat membahayakan." ucap Komandan Ucok.
"Pihak mana, Komandan yang menyusun ini?" tanya Taufan lagi.
"Gang Tornado. Sejauh yang saya dengar Gang Tornado yang akan melakukan penyerangan." ujar Komandan Ucok.
"Kalau manti sudah ada perkembangan atau terjadi sesuatu kalian kabari aku." ucap Komandan ucok.
Komandan Ucok lalu memutus panggilan.
"Apa semuanya sudah terpasang sesuai titik?" tanya Rich ke anak buahnya.
"Totalnya ada dua belas ymdengan daya ledak rendah sebagai pengecoh, dan satu yang besar untuk memblok jalan mereka." jelas anak buahnya yang ahli bom.
Persidangan berjalan cukup Alot karena Hard disk yang Jaya bawa merupakan Hard disk salinan. Namun setelah menjelaskan berbagai kenyataan yang ada, akhirnya hakim dapat menerima penjelasan Jaya.
Dan ditambah lagi polisi diminta untuk menyelidiki kasus kematian Pak Broto dengan lebih serius.
Setelah selesai peesidangan Jaya dan Pak Perwira menuju hotel dengan was was.
Anggota Satya Yudha yang sudah ditugaskan untuk menyusul sedang berusaha mengejar dan memberi pengamanan.
Pak Perwira selalu menyiagakan senjatanya.
__ADS_1
Di Jalan Tol
Shhiiitt!!!! Boom!! Jduar!!!!!!
Sebuah bom meledak tepat dihadapan mobil Jaya dan Pak Perwira. Tabrakan beruntun terjadi dan untung saja Jaya masih bisa mengontrol mobilnya.
"Bersiaplah Pak! pertempuran sudah didepan mata." ucap Jaya memperingatkan Pak Perwira untuk beraiap.
Jaya memutar balik mobilnya sampai melawan arus mencoba mempelajari situasinya.
"Kamu mengenakan rompi anti peluru kan?" tanya Pak Perwira.
"Iya, tapi saya tidak yakin kalau rompi ini bisa bertahan . Senjata Gang Tornado begitu mengerikan sampai membuat Komandan terpaksa melepas rompinya." ucap Jaya.
Ternyata ada tiga mobil SUV yang mengejar.
Tembak menembak mulai terjadi membuat suasana ramai Jakarta menjadi tegang.
Polisi sudah mendapat kabar dari Pak Perwira dan berusaha memberi bantuan tapi ada sekitar 5 bom yang meledak di Tol tersebut dan membuat kelumpuhan di beberapa titik.
Warga sekitar tol mulai panik karena banyak suara ledakan serta tembakan terjadi.
Ternyata jalanan didepan Jaya juga sudah lumpuh karena kecelakaan terjadi juga disini.
"Bagaimana ini Pak?" tanya Jaya yang masih bersikap tenang walau jantungnya tak berhenti berdebar.
__ADS_1
"Kita hindari keramaian saja." ucap Pak Perwira.
Jaya kembali memutar balik mobilnya dan mencari rute yang paling sepi demi keamanan warga sipil.