My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Misi Penyelamatan Jaya 1


__ADS_3

Pak Surya begitu murka ketika menerima laporan bahwa Jaya belum ditemukan.


Pak Surya langsung menghubungi Santoso yang mengomandani pasukannya.


"Kenapa kalian sangat lama?! setiap menit iti berharga untuk putraku!!" teriak Pak Surya penuh kemarahan.


Nafasnya naik turun karena dirinya begitu marah.


"Arghhh!!!" teriak Pak Surya lagi melampiaskan emosinya.


Beberapa saat kemudian Pak Surya sudah kembali tenang.


"Bagaimana perkembangannya?" tanya Pak Surya lagi. Kini dirinya sudah lebih tenang dan mulai berfikir jernih.


"Tuan besar, maafkan kami. Sinyal tuan muda hanya berjarak 3 km dari tempat kami sekarang tapi kondisinya begitu macet." jelas Santoso dengan hati berdebar. Dia takut akan membuat Tuan besarnya semakin marah.


"Apa kalian tidak bisa menggunakan ojek online dan berpencar?" ucap Pak Surya berusaha menahan emosi.


"Baik, Tuan Besar. Kami akan berpencar bahkan berlari jika diperlukan." ucap Santoso.


Pak Surya mematikan telponnya.


Pak Surya duduk termenung diruangannya, merenungkan nasib putra pertamanya sambil menghibur diri di kursi goyang.


Bu Santi masuk ke ruangan suaminya dan menanyakan kabar tentang putranya.


"Pa, bagaimana kabar Jaya?" tanya Bu Santi.

__ADS_1


"Dia pasti baik baik saja, Bu." jawab Pak Surya dengan mata terpejam,


Pak Surya sedang memikirkan cara agar putranya selamat dan tak cacat.


"Bu, berkemas. Kita ke Jakarta." ucap Pak Surya.


Bu Santi melangkah keluar dari ruangan tersebut dan menuju kamar prubadinya untuk mengemasi pakaiannya dan juga suaminya.


Perlahan air mata Pak Surya meleleh. Putra pertamanya sungguh mencerminkan anak pertama keluarga Wijaya.


"Al,, om kamu sungguh tega melukai Papamu setelah gagal melenyapkan keluargamu." lirih Pak Surya.


*****


Anak buah Pak Surya menurut dengan sebagian besar anggotanya berpencar dengan menggunakan ojek online.


Satu persatu anak buah Pak Surya mulai sampai. Mereka berkomuanikasi menggunakan earphone yang terpasang di telinga mereka masing masing.


"Ati-ati,, akeh buanget ning ngarepan. (Hati hati banyak sekali dibagian depan.)" ucap Santoso.


"Kita berpencar ya, ada yang lewat samping," ucap Undan.


Mereka mulai menyiapkan rute untuk masuk.


Arga yang pandai menyusup menjadi orang pertama yang masuk berusaha mencari jalur yang aman dan membersihkan jalan.


Santoso mulai masuk bersama dua orang anak buahnya setelah Arga memberi kode.

__ADS_1


Ada beberapa orang yang melihat mereka namun dengan sigap Santoso dan kawan kawannya langsung melumpuhkannya tanpa menimbulkan keributan.


Tiga orang kembali menyusul.


Mereka menyusuri jalan yang mirip seperti labirin dan beberapa ruangan kosong.


Santoso menghentikan langkahnya dan berusa menajamkan indera pendengarnya. Teman temannya langsung ikut berhenti setelah melihat kode tangan dari Santoso yang meminta mereka untuk berhenti sejanak.


."Aku mendengar suara tuan muda." ucap Santoso setenga berbisik.


"Aku juga sayup sayup mendengarnya." ucap Arga.


Satu ruangan di ujung lorong. Suaranya berasal dari sana.


Santoso melihat ada beberapa orang yang berpatroli.


Mereka panik dan bingung karena tidak ada tempat untuk sembunyi.


akhirnya Santoso memberi kode agar melumpuhkan mereka saja.


Kali ini Arga dan Bima yang akan turun tangan karena merekalah yang paling cekatan melakukan tugas ini.


Grabb!!! Krek!!!


Arga dan Bima mematahkan tulang leher dua anggota Gang Tornado. Mereka lalu menyeret jasad korbannya dan meletakannya disudut ruangan.


Mata mereka terbelalak ketika melihat pemansangan yang sedang terjadi di dalam ruangan.

__ADS_1


Pemandangan yang sangat mengerikan dan tidak pernah mereka bayangkan


__ADS_2