My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Satya Yudha Jatuh


__ADS_3

"Argh,,,," rintih Pak Perwira ketika terbangun dan pereda nyerinya telah habis. Pak Perwira tidak bis menggerakkan salah satu kakinya karena terluka.


"Pak?" Panji mendekati Pak Perwira.


"Panji,, Jaya?" Pak Perwira masih tidak bisa banyak bicara karena luka lukanya cukup menyakitkan.


"Jaya di Duta Medika, Masih belum ada kabar." Jawab Panji.


Pak Perwira terlihat kecewa saat mendengar Jaya belum ada kabarnya.


Pak Perwira memalingkan mukanya ketika butir butir air mata mulai menetes.


"Berikan semua laporan Satya Yudha." ucap Pak Perwira


"Banyak anggota Satya Yudha yang disetang oleh Gang Tornado diseluruh Indonesia Anggota yang tersisa sedang mencoba menyelamatkan mereka." ucap Panji.


"Kamu lihat laptop saya?" tanya Pak Perwira.


Panji mengambil sebuah Laptop dari lemari kecil samping tempat tidur Pak Perwira dan memberikannya ke Pak Perwira.


Banyak sekali email yang masuk.


Pak Perwira mulai membukanya satu persatu.


Amarah, Kecewa, sedih, terukir jelas di wajah Pak Perwira.


"Ada apa, Pak?" tanya Panji penasaran.

__ADS_1


Pak Perwira meraih jam tangannya dan menghubungi seseorang lewat jam tangannya karena ponselnya entah kemana.


"Tarik semua anggota yang masih selamat, kita akan melibatkan pemerintah untuk menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan." ucap Pak Perwira kepada seseorang yang sedang di telponnya.


Pak Perwira kembali meneteskan air matanya.


"Anggota kita, yang tidak terluka hanya 80 orang saja, selebihnya belum ada kabar yang jelas." Ucap Pak Perwira dengan suara gemetar dan jelas menahan amarahnya.


Panji turut bersedih karena beberapa orang Satya Yudha yang belum jelas kabarnya juga termasuk juga sahabatnya.


"Apa kita sementara menutup diri dulu?" tanya Panji.


"Iya, kita terpaksa membatalkan seluruh janji kita." ucap Pak Perwira lagi.


Pak Perwira merasa sesak nafas, Panji panik dan langsung memanggil dokter.


Dokter keluar dari kamar Pak Perwira.


"Bagaimana, Dok?" tanya Panji masih panik.


"Kondisinya belum stabi, seharusnya pasien tidak boleh banyak pikiran dulu." ucap Dokter.


"Lalu saya harus bagaiman, Dok?" tanya Panji.


"Barusan saya memberi pasien obat penenang, sebaiknya pasien istirahat dulu sampai benar benar pulih." ucap Dokter.


Setelah menjelaskan itu semua, dokter pergi meninggalkan Panji sendirian. Panji lalu menelpon Mario.

__ADS_1


Mario yang masih di rumah sakit Duta Medika tidak bisa dihubungi karena ponselnya lowbat.


Dan akhirnya Panji memutuskan untuk mengabari Komandan Ucok dan menanyakan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Komandan Ucok meminta agar Panji tetap didekat Pak Perwira sampai ada kabar dari Mario. Komandan Ucok juga berada di Jakarta dan mungkin besok pagi baru menyusul Pak Perwira untuk menemaninya.


Jam satu malam, Mario menjemput Panji.


"Kita mau kemana?" tanya Panji penasaran.


"Kita istirahat di rumah Jaya yang di kelapa gading. Orang tuanya yang menyuruh." ucap Mario.


"Lalu bagaimana dengan Pak Perwira?" tanya Panji lagi.


"Pak Perwira akan baik baik saja. Kita juga butuh istirahat, sudah berapa hari kita tidak tidur, kan." ucap Mario.


Akhirnya Panji, Mario, Santoso dan orang orang Satya Yudha lainnya menuju ke Kelapa Gading.


Tak lupa Mario dan Santoso yang sudah berpakaian lebih rapi belanja makanan di minimarket terlebih dahulu, sementara Panji dan yang lainnya menunggu di mobil.


Mario kembali bersama Santoso membawa berbagai macam bahan makanan untuk mereka olah.


"Banyak sekali?" tanya Panji.


"Kita beli daging, buah, sayur, minuman kaleng, air mineral, roti, selai dan lain lain." ucap Santoso menjelaskan.


"Tadi Tuan Besar yang memberiku uang untuk kita membeli makan dan pakaian." ucap Santoso.

__ADS_1


"Tuan Besarr???"


__ADS_2