
Mereka tidak berbincang lagi selama dalam perjalanan menuju hotel. Alia lebih berusaha menahan rasa sakit yang timbul dari lukanya karena obat bius yang dokter berikan hanya bertahan selama lima belas menit.
Santoso juga tidak memulai pembicaraan terlebih dahulu karena melihat nonanya enggan diajak berbicara saat ini. Tak berapa lama kemudian Santoso dan Alia sampai di hotel.
Mereka berjalan bersama menuju sebuah kamar kelas President suits yang berada di lantai 3.
Alia mendapati Eyangnya sedang menonton Sinetron di TV yang botel sediakan.
"Udah sampe toh? gimana? Masih sakit?" tanya Bu Santi.
"Iya Eyang, sakit." Jawab Alia.
Alia duduk dengan perlahan disamping Eyangnya.
"Kamu ganti baju dulu." ucap Bu Santi.
Alia mengambil kaos ganti yang ia selipkan didalam tas bawaannya. Setelah berganti menggunakan kaos santai, Alia merebahkan diri ke pangkuan Eyangnya yang sedang duduk di sofa.
"Kamu agak demam?" ucap Bu Santi yang kini sedang memegak jidat Alia yang terasa panas.
"Nggak papa Eyang, mungkin efek shock." jawab Alia.
Perlahan Alia memejamkan matanya dan tak terasa dirinya sudah tertidur pulas. Bu Santi memerintahkan Santoso untuk memindahkan Alia ke kamar utama dan Santoso pun segera melakukannya.
__ADS_1
"Hmm,,, mungkin saking lelahnya sampai di bopong lun tidak sadar." gumam Bu Santi yang cukup terkejut karena Alia tidak terbangun saat dipindahkan oleh Santoso.
"Santoso, kamu tidur di sofa depan, kalau butuh selimut ada dilemari. Dimeja dapur sudah saya siapkan kotao obat buat kamu." ucap bu Santi.
Santoso mengangguk paham dan berjalan menuju dapur untuk membersihkan luka lukanya.
Bu Santi memutuskan untuk menemani Alia tidur di kamar utama karena perasaannya tidak enak.
Bu Santi pun sengaja untuk tidak tidur lebih awal karena khawatir. Santoso yang begitu kelelahan ditambah semalam hanya tidur 3 jam sudah terlelap di sofa ruang tamu.
"Arghhh,,,," rintih Alia.
Bu Santi memegang jidat Alia lagi dan demamnya pun belum turun.
Alia tak kunjung bangun namun masih mengigau.
Bu Santi menelpon Pak Surya agar kembali ke hotel. Pak Surya sungguh terkejut mendengar penjelasan istrinya karena sebelumnya dokter sudah menjelaskan bahwa Alia baik baik saja.
Pak Surya pulang bersama Rahmat, Taufik, dan Mona sedangkan Jaya dibiarkan sendiri karena percaya dengan keamanan rumah sakit yang begitu ketat.
"Bagaiman, Bu?" tanya Pak Surya gusar.
"Bapak periksa saja." usul Bu Santi.
__ADS_1
Mereka berlima masuk ke kamar yang ditempati Alia dan segera menelungkupkan Alia.
Perban yang membalut luka Alia dibuka perlahan dan hasilnya sungguh mengejutkan. Luka Alia kini berwarna ungu kehitaman.
"Pisaunya beracun." ucap Pak Surya membuat kesimpulan.
Pak Surya untung saja membawa peralatan dan obat obatnya karena Komandan Ucok juga masih dalam perawatannya.
"Mona, minta Alia meminum ini. " ucap Pak Surya yang menyodorkan segelas air yang berisi beberapa ramuan herbal.
Sementara Pak Surya menyiapkan berbagai macam obat yang akan diberikan kepada cucunya. Santoso kini yang terlihat paling cemas diantara mereka.
"Al, bangun,,,," bisik Pak Surya ditelinga cucunya. Perlahan Alia membuka matanya.
"Eyang obati ya, kamu tahan ya." bisik Pak Surya lagi.
Pak Surya dan Mona mencuci tangan mereka menggunakan Alkohol.
Sedikit demi sedikit Pak Surya melepas jahitan di punggung Alia.
"Tahan ya nak,,,," ucap Pak Surya
"Arggggg,,,,,"""
__ADS_1