My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Cemas


__ADS_3

Di Semarang, Jaya dan Mona begitu mengkhawatirkan Alia. Pagi-pagi sekali tadi Santoso melaporkan penyerangan yang terjadi semalam dan mengabarkan bahwa Alia terluka namun sudah diobati dan sekarang mereka menginap di kediaman tuan Fred yang di Kuningan.


Pak Surya juga marah karena anak buahnya tidak ada yang mengikuti kemana cucunya pergi. Dan kini dia mengutus Dedi untuk mengawasi Alia dari jarak jauh.


Jaya yang belum bisa duduk sama sekali hanya bisa memandangi layar ponselnya dengan cemas. Tadi Santoso melapor bahwa Alia sedang rapat dan jam 10 baru selesai. Artinya 15 menit lagi rapat baru selesai.


"Ma, betul Alia baik-baik saja?" tanya Jaya.


"Dia sudah diobati. Luka pertandingan bahkan lebih parah dari lukanya saat ini, Pa." ucap Bu Mona mencoba menenangkan suaminya.


Jaya sedang dalam proses pengobatan dan tidak boleh stress terlebih dahulu, entah dari mana ia mendapat informasi ini yang jelas Pak Surya sangat marah kepada orang tersebut.


"Dedi sudah menuju ke Jakarta, Papa tenang." ucap Mona.


Jaya hanya menghela nafas panjang. Jangankan Dedi, Santoso pengawal yang paling setia jyga bertekuk lutut dihadapan Alia entah apa yang putrinya lakukan hingga semua orang mematuhinya.


" Baiklah," jawab Jaya dengan rasa kecewa. Dirinya sangat ingin melihat kondisi putrinya dengan mata kepalanya sendiri.


"Papa jangan ngambek." ucap Bu Mona.

__ADS_1


"Enggak." jawab Jaya datar.


"Itu kan ngambek." ledek Bu Mona.


"Papa kalo ngambek gantengnya luntur tau Pa." ledek Bu Mona lagi.


"Kalo ngambek pipinya merah kayak tomat." kini Jaya tidak bisa menahan tawanya lagi. Jaya lupa kalau dirinya belum boleh berbicara terlalu keras atau tertawa yang sampai ngakak karena berpengaruh ke lukanya.


Dan benar saja, beberapa saat kemudian Jaya kembali meringis kesakitan.


"Tuh kan, udah Papa jangan tertawa terus." ucap Bu Mona.


"Hallo, Pa, Ma." ucap Alia dari seberang panggilan.


"Hallo, kamu bagaimana? " tanya Bu Mona.


"Aku baik-baik saja, tidak ada yang dikhawatirkan." jawab Alia.


"Kata Santoao kalian dihadang preman, kalian terluka?" tanya Bu Mona lagi.

__ADS_1


"Tidak." jawab Alia. Dirinya terpaksa berbohong agar Papanya tidak stress memikirkannya.


"Bohong. Kamu kira Papa belum tahu?" ucap Jaya tidak bisa menahan diri lagi.


"Pa, ya ampun, bahkan luka aku kalo bertanding lebih parah dari ini. tolong ya jangan diambil pusing, ini cuma luka goresan aja." jawab Alia.


Jaya yang mendengarnya hanya manggut-manggut saja tidak membantah lagi.


"Kamu istirahat yang cukup ya, disambung lain kali aja, kayaknya kamu lagi sibuk." ucap Bu Mona.


"Okey Ma, babay." ucap Alia seraya melambaikan tangannya pula. Bu Mona membalas dengan lambaian tangan juga.


Alia menutup video callnua dan kembali bekerja hingga làrut malam. Bahkan untuk makan siang dan makan malam pun ada petugas yang mengantarkan ruangannya. Kali ini Alia mengerjakan semuanya sendirian tanpa bantuaan Santoso karena ini adalah putusan akhir jadi harus Alia yang memutuskannya sendiri.


Hari ini Alia sudah minum 3 gelas kopi americano padahal Santoso sudah melarangnya karena sedang proses minum obat dan akhirnya obatnya yang harus mengalah tak diminum.


Pukul setengah satu malam mereka berdua sudah selesai dan bersiap untuk pulang. Mereka merasa ada yang mengawasi dari kejauhan.


"Mungkin orang-orang kita." ucap Santoso. Alia mengangguk paham dan masuk kedalam mobil. Santoso duduk didepan bersama sopir, sedangkan Alia di jok tengah.

__ADS_1


__ADS_2