
"Barakallah fi umrik, Papa." ucap Adel sembari memeluk Papanya. Jaya mengelus rambut putrinya dengan tangan kiri nya.
"Makasih, yah Nak." Ucap Jaya lalu mengecup kening putrinya.
"Selamat ulang tahun, ya Pa." ucap Bu Mona.
"Selamat ulang tahun, Jaya." Ucap Pak Perwira.
"Kami pamit dulu, ya." lanjut Pak Perwira.
" Maaf Pak, ini adalah ulang tahun suami saya. Kalau anda berkenan, kami mengajak Anda ikut makan malam disini." ucap Bu Mona.
"Bang, Kamu mau pergi??" Tanya Bu Mona ke Komandan Ucok.
"Abang???" tanya Pak Perwira keheranan.
"Iya. Kenapa?? apa ada yang salah?" tanya Bu Mona tak kalah bingung.
Komandan ucok mengaruk pipinya yang tidak gatal, lalu mulai menjelaskan.
"Jadi begini,,,,,," Komandan Ucok menjelaskan bahwa Mona adalah adik sepupunya, jadi dia juga masih saudara Jaya.
"Pantas saja ada orang yang mengatakan kamu menangis saat kejadian tadi." ucap Pak Perwira.
"Menangis???" Jaya bingung.
__ADS_1
"Iya, menangis. Apa kamu tidak tahi, Jaya?" tanya Pak Perwira.
"Hmmm,,,," Jaya senyum senyum sendiri.
" Oohh,,,, jadi ada yang tidak jujur?" ucap pak Perwira dengan senyum mengejek terpasang dibibirnya.
"Bagaimana ceritanya, Pak?" tanya Jaya penasaran. Kini muka Komandan Ucok memerah karena malu.
"Jadi saat kamu tenggelam di kolam, kamu sempat berhenti bernafas. Komandan Ucok langsung nyebur kolam terus bawa kamu naik. Karena nafas kamu berhenti, akhhirnya dia nangis nangis,,," Pak Perwira menjelaskan itu semua sambil tersenyum geli menahan tawanya.
Disisi lain bu Mona terlihat begitu kesal hingga Pak Perwira tidak dapat melanjutkan ceritanya.
"Bu Mona, ada apa?" tanya Pak Perwira bingung.
"Suami saya hampir kehilangan nyawa tapi saya tidak diberi tahu?!" ucap Bu Mona geram.
"Maafkan Papa." ucap Jaya.
"Papa akan menjelaskannya." ucap Jaya sembari mengatur nafasnya.
"Kondisi mental Papa tadi belum siap bercerita, dan sekarang papa sudah siap. Papa melakukan semuanya untuk keselamatan kami semua. Kalau yang menerima siksaan adalah Awang, Papa tidak menjamin dia akan sanggup menjalaninya. Dan jika gangster gangster itu berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan, Papa tidak bisa menjamin mereka membiarkan kami hidup." ucap Jaya. Bu Mona kini mengerti apa yang dilakukan suaminya adalah sebuah pengorbanan.
"Dan tentang Bang Ucok menangis, aku tidak tahu kalau bang ucok sampai menangis. Aku hanya tau dia menolongku dan matanya merah karena air laut." ucap Jaya.
"Air laut kepalamu?!" teriak Komandan Ucok.
__ADS_1
"Siapa yang tidak menangis kalau melihat saudaranya mati tanpa perlawanan? Bagaimana aku harus menjelaskan kepada Mona, Adel, dan Alia? Alia pasti akan membantingku." ucap Komandan Ucok
"ooo,,,, maaf telah membuat kalian semua khawatir ya." ucap Jaya.
"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu, aku juga sudah tidak ingin mengungkitnya lagi." Bu Mona menengahi Suaminya dan abangnya yang mulai bertengkar.
"Hm,,, bagaimana Pak Perwira, anda mau bergabung makan malam disini.?" Tanya Bu Mona ke Pak Perwira.
"Tentu." ucap Pak Perwira.
Mereka lalu menggelar tikar dan makan lesehan.
Jaya yang tidak bisa menggunakan tangannya terpaksa disuapi oleh Bu Mona.
"Ehem ehem,,,, dasar manja." ledek Komandan ucok.
Jaya menjulurkan lidahnya membalas ejekan komandan ucok.
"Bweeee!!" ledek Jaya.
"Sudahlah, jangan ribut saat makan." ucap Bu Mona.
sontak saja komandan Ucok dan Jaya berhenti bercanda.
Setelah selesai, Bu Mona juga membungkuskan makanan untuk Pak Perwira dan Komandan Ucok.
__ADS_1
Komandan ucok, Pak Perwira, Bu Mona dan Adel meninggalkan kamar Jaya jam 10 malam saat waktu bebas telah habis.