
" Kamu jangan memaksakan diri. Tidak ada gunanya kamu seperti ini." ucap Pak Surya.
"Apa maksud Paman?" tanya Komandan Ucok bingung.
"Masa penyembuhan kamu itu setidaknya membutuhkan waktu sebelas hari dari perkiraan Paman. Kalau kamu belum sebelas hari atau belum lolos tes kesehatan maka Paman tidak akan mengizinkan kamu pulang." ucap Pak Surya.
"Tapi Jaya dan Pak Perwira sedang dalam bahaya." ucap Komandan Ucok naif.
"Sekarang kamu pikirkan baik baik, kalau kamu yang bahkan sekarang belum bisa berdiri tegap menyusul mereka, apa kamu tidak hanya menambahkan beban bagi mereka?" tanya Pak Surya dengan tatapan tajam mengarah ke Komandan Ucok dan membuat Komandan Ucok menelan ludah.
"Aku,," ucapan Komandan Ucok segera dipotong oleh Pak Surya.
"Aku percaya kemampuan anakku karena aku mendidiknya dengan keras dari kecil. Aku tidak suka dibantah." ucap Pak Surya dingin.
"Setidaknya Satya Yudha ada dibawah naunganku." ucap Komandan Ucok yakin.
"Hanya Satya Yudha? Bahkan Pak Perwira adalah pimpinan tertinggi Surya Yudha yang bisa menggerakkan semua anggotanya dengan sekali perintah." Ucap Pak Surya lagi dengan nada yang lebih mengingimidasi.
Komandan Ucok hanya mampu menelan ludah karena selama ini tidak mengetahui sisi tegas Pamannya dan baru kali ini melihatnya secara langsung.
"Jangan gegabah, Ahmad. Info yang paman dapat belum tentu benar. Kalaupun benar Paman sudah meminta Jaya untuk waspada dan melakukan persiapan." ucap Pak Surya.
__ADS_1
Komandan Ucok tertunduk lesu dan mengingat perkataan Pak Surya satu jam yang lalu,
Flash Back ya,,,,
"Ahmad, paman menerima kabar dari orang bawahan paman. Putraku dan Pak Perwira sedang dalam pengincaran Gang Tornado." ucap Pak Surya.
"Apa? Gang Tornado?" tanya Komandan Ucok tidak percaya. Dirinya ada sedikit trauma kalau mendengar nama Gang Tornado yang telah mencabik cabik dirinya.
"Lalu bagaimana, Paman?" tanya Komandan Ucok.
"Paman sudah memberi kabar ke Jaya." ucap Pak Surya.
Pak Surya pergi meninggalkan Komandan Ucok sendirian.
Komandan Ucok lalu mengambil ponselnya dan menulis pesan ke Pamannya, Pak Surya.
"Paman, aku harus kembali dan membantu Jaya dan Pak perwira. Aku tidak mau apa yang aku rasakan saat ini dialami oleh Pak Perwira dan Jaya. Paman mohon pengertiannya dan dukungannya."
Setelah setengah jam pesan tersebut terkirim, Pak Surya dengan gusar berjalan ke kamar Komandan Ucok.
Flash Backnya udah selesai ya, Maklum authornya lagi kebanjiran jadi gabut nulisnya nggak jelas.
__ADS_1
"Bagaimana ini?" gumam Komandan Ucok yang masih bersedih.
Pak Surya meninggalkan Komandan Ucok dikamarnya sendirian.
************
"Kamu sudah mendapat info terbaru?" tanya Tuan Fred.
"Ternyata keturunan Wijaya dan Petinggi Surya Yudha itu sedang di Jakarta. " ucap Rich.
"Apa yang sedang mereka rencanakan?" tanya Tuan Fred lagi.
"Sepertinya mereka akan menghadiri persidangan besok siang. Hanya saja kami belum tau untu apa mereka ke persidangan." jelas Rich lagi.
"Sepertinya mereka datang ke persidangan yang harusnya Tua Bangka itu datangi." ucap Tuan Fred menebak nebak apa yang dilakukan Jaya.
"Sepertinya iya, Tuan. " sahut Rich dengan gugup takut ucapannya salah.
"Baiklah, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, kan Rich?" ucap Tuan Fred dengan seringai liciknya yang mengerikan.
"Iya Tuan, kami sudah mengatur semuanya. Jalur mana saja yang kemungkinan mereka lewati sudah kami ketahui dan menyebar sebagian besar anggota disana." jelas Rich lagi. Kini dia berusaha terlihat berguna di mata tuannya.
__ADS_1
Tuan Fred mengangguk puas dan berjalan meninggalkan Rich sendirian dengan senyum licik menyungging dibibirnya.
Selamat Membaca