My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Diincar 2


__ADS_3

Setelah membujuk berkali-kali terap saja Alia tidak diizinkan ke kantor oleh eyangnya. Masih terlalu beresiko saat ini kalau Alia keluar rumah. Dengan kondisi terluka cukup parah Alia tidak akan bisa memberikan perlawanan yang berarti.


Akhirnya Alia memutuskan kembali ke kamarnya. Ia tidak merasa kesal atau marah karena dirinya menganggap ini adalah bentuk kepedulian keluarganya.


“Kamu marah?” Tanya Bu Mona.


“Tidak sama sekali.” Jawab Alia.


Alia berusaha melepaskan jubah tidurnya dan juga arm sling yang ia kenakan. Bu Mona segera membantunya karena melihat putrinya begitu kesulitan.


“Lalu kenapa kamu buru-buru ke kamar?” tanya Bu Mona lagi.


“Tiba-tiba lukanya terasa begitu nyeri, Ma. Aku tidak mau membuat Eyang khawatir jika melihat perubahan ekspresiku.” Jawab Alia. Dirinya begitu mengenal Pak Surya yang sering khawatir terhadap hal kecil sekalipun jika berkaitan dengan cucu-cucunya.


“Mau minum obat pereda nyeri?” tanya Bu Mona.


“Tidak Ma. Ini masih bisa ditahan, aku juga tidak mau kalau sampai bergantung dengan obat.” Dari dulu Alia jarang mengkonsumsi obat penghilang nyeri saat terluka karena menurutnya itu hanya bertahan selama beberapa jam dan efeknya belum tentu baik dalam jangka panjang.


“Ya sudah.” Ucap Bu Mona singkat. Alia merebahkan dirinya namun dirinya lupa sedang terluka dan membaringkan tubuhnya terlalu keras.


“Arghhh,,,” pekik Alia. Dirinya tidak menyangka bahwa rasanya akan sesakit itu.


Pak Surya yang sedang berada di depan pintu kamarnya segera berlari menuju kamar Alia saat mendengar teriakan Alia.


“Ada apa?” tanya Pak Surya yang khawatir.


“Dia tidak kira-kira waktu mau rebahan, mungkin lupa sedang luka.” Celetuk Bu Mona.


Alia masih meringis kesakitan dan kini membenamkan wajahnya di bantal karena tidak mau dilihat oleh eyangnya.


“Pasti nyut-nyutan.” Ucap Pak Surya.


“Pakai obat eyang saja ya biar cepat sembuh.” Lanjutnya.


“Tidaaakkk.” Jawab Alia. Dirinya begitu takut dengan ramuan herbal milik eyangnya yang bahkan bisa membuat Papanya menangis.


“Ya sudah, selamat menikmati nyut nyut nyut.” Ledek Pak Surya. Pak Surya keluar dari kamar Alia menuju ke ruangannya.


Di ruangan lain, Taufik sedang berkeringat hebat menahan rasa sakit yang begitu hebat. Ia memanggil pelayan di kamarnya dan memintanya untuk memanggil Ayahnya.

__ADS_1


Pak Surya datang dengan rasa khawatir karena pelayan yang menemuinya mengatakan Taufik sedang berkeringat hebat.


Pak Surya memeriksa kondisi Taufik. Tubuhnya begitu dingin namun di area lukanya cukup panas. Bisa juga karena tidak cocok dengan obat yang Santoso berikan.


Pak Surya membongkar perban yang melekat ditubuh putranya tersebut, serelah mengambil beberapa obat dari kamarnya dirinya lalu mengunci pintu kamar Taufik.


Taufik hanya pasrah ketika Ayahnya mengobatinya dengan ramuan herbal racikannya. Efeknya terasa begitu cepat walau awalnya terasa seperti tersiram air panas, namun beberapa menit kemudian lukanya tidak sesakit sebelumnya sampai Taufik bisa tidur lagi.


Pak Surya menatap wajah putranya yang masih berkeringat. Luka-luka tersebut tidak Pak Surya perban lagi agar cepat kering. Pak Surya juga menurunkan suhu AC sampai 16 derajat.


Setelah itu Pak Surya menelpon anak keduanya, Rahmat, yang sedang berada di Bandung.


“Hallo, Rahmat. “ ucap Pak Surya.


“Iya, Ayah, ada apa?” tanya Rahmat. Dirinya belum mendengar kabar penyerangan baik Alia maupun Taufik dan saat ini Rahmat sedang berada di sarang Gang Tengkorak Iblis.


“Tadi Taufik dapat penyerangan, Alia semalam juga iya. Keduanya sama-sama terluka cukup parah. Ayah minta kamu hati-hati dan meminta kepada semua pengawal untuk waspada.” Ucap Pak Surua. Rahmat begitu terkejut mendengarnya.


“Keduanya sekarang bagaimana?” tanya Rahmat cemas.


“Sudah diobati, sekarang sedang istirahat. Namun tadi Alia memaksa agar besok boleh ke kantor. Ayah harap kamu bisa memberinya nasehat agar di rumah dulu saja.” Ucap Pak Surya lagi. Pak Surya tahu kalau Alia cukup patuh kepada Rahmat. Kalau kepada dirinya bukannya tidak patuh tapi merengek.


Di antara tiga orang anak Pak Surya, yang paling hati-hati adalah Rahmat. Jaya terlalu pemberani sedangkan Taufik ceroboh dan menyepelekan hal-hal kecil yang justru sering membahayakan.


Panggilan telpon tersebut lalu dimatikan, Pak Surya kembali duduk dan membelai wajah putranya yang begitu damai dalam tidurnya seolah tidak merasa sakit lagi.


Tak terasa air mata Pak Surya mengalir membasahi pipinya. Baru saja mereka berdamai dengan keluarga Wiyatama, sekarang mereka malah menghadapi lawan yang lebih barbar.


Pak Surya menyeka air matanya dan berusaha agar tidak menetes lagi. Seorang pengawal mengetuk pintu dan mengatakan kalau ada tamu yang datang.


“Siapa?” tanya Pak Surya.


“Partner kerja Nona Alia, namun tidak bersama Santoso.” Ucap pengawal tersebut.


“Ya sudah. Minta dia menunggu di ruang tamu. Aku ingin menemui Alia terlebih dahulu.” Ucap Pak Surya.


Pengawal tersebut mengerti dan segera pergi menemui si tamu. Pak Surya segera menemui Alia.


“Al, ada laki-laki bernama Jonathan sedang bertamu.” Ucap Pak Surya.

__ADS_1


“Eyang temui dulu ya, aku akan bersiap.” Ucap Alia.


“Siapa Jonathan, Al?” tanya Pak Surya.


“Dia anak Tuan Andreas.” Jawab Alia.


“Pak Andreas yang meminta kamu menjadi pacar anaknya?” ledek Bu Mona.


“Aku sudah punya Jaseth, ma. Jangan lupakan itu.” Balas Alia sebal.


Pak Surya segera menemui Jonathan. Dan ternyata Jonathan berhasil membujuk Pak Surya agar membawanya menemui Alia. Dia tahu Alia tidak suka bunga atau hal-hal feminim lainnya jadi lebih memilih membawa beberapa kue kesukaan Alia.


“Kamu kenapa bisa sampai terluka, Al?” tanya Jonathan cemas.


Sekarang Jonathan duduk bersama Pak Surya disamping tempat tidur Alia.


“Aku dihadang preman.” Ucap Alia.


“Bukannya kamu pulang bersama Santoso dan supir, kemana mereka?” tanya Jonathan lagi.


“Kami bertiga sedangkan mereka bertujuh. Kalau hanya Santoso yang melawan bersama supir aku tidak yakin mereka selamat.” Ucap Alia.


“Santoso benar-benar lemah tidak bisa menjagamu.” Ucap Jonathan sinis. Pak Surya segera menatapnya dengan tajam karena merasa terhina sebab Santoso adalah pengawal terbaik miliknya.


“Ya, dia memang lemah, tapi kamu belum tentu menang kalau melawannya.” Sindir Alia.


“Tentu aku akan menang.” Jawab Jonathan dengan bangga.


“Sungguh?” tanya Alia. Walau secara postur Santoso biasa saja, namun dia memiliki berbagai macam keahlian yang bisa menutupi kekurangannya di postur badannya. Badannya tidak terlalu besar namun kekar dan atletis.


“Tentu saja.” Jawab Jonathan lagi.


“Kamu mau menantang Santoso dalam bidang apa?” tanya Alia.


“Apa yang dia bisa? Memanah? Berkuda? Atau bertarung tangan kosong?” tantang Jonathan. Alia segera tersenyum tipis sedangkan Pak Surya hanya menggelengkan kepalanya melihat kebodohan Jonathan, mungkin bukan bodoh namun terlalu naif.


Santoso menjadi pengawal pribadi Alia bukan tanpa alasan, namun karena Santoso adalah yang terbaik dan tercocok.


“Santoso bisa semuanya.” Jawab Alia pelan. Tentu saja Jonathan tidak percaya karena dia mengetahui bagaimana kepandaian Santoso dalam berbisnis. Bagaimana orang yang sangat pandai berbisnis juga mahir dalam bidang lainnya?

__ADS_1


__ADS_2