
Alia masih menunggu papanya dari ruang tunggu.
Kini Santoso sudah berpakaian dengan baik.
"Nah kalau begini kan lebih baik." celetuk Alia yang membuat Santoso semakin salah tingkah. Oipinya pun semakin memerah.
Dokter keluar dari ruang perawatan Jaya. Alia, Santoso Dan Mario lekas berdiri.
"Disini ada keluarganya Muhammad Eko?" tanya Dokter.
"Saya." jawab Alia cepat.
"Jadi begini, pasien mengalami pendarahan hebat, kami memiliki stok darah AB, namun tidak banyak. Jadi apabila ada keluarga yang golongan darahnya sama mohon diminta bantuannya." ucap dokter.
"Saya sama dengan Papa saya, sementara om saya sedang menuju kemari." ucap Alia.
Disaat Alia sedang mendonorkan darahnya, Santoso dan Mario mendapat kabar mengejutkan bahwa beberapa tim Satya Yudha yang sedang bertugas juga menerima serangan Gang Tornado.
Tidak ada yang bisa dilakukan Mario saat ini karena dua orang anggotanya juga terluka.
Satya Yudha sampai membawa beberapa orang Wira Yudha untuk membantu evakuasi anggota Satya Yudha yang ditawan.
"Sabar, Mario,," ucap Santoso yang mencoba menghibur Mario yang terlihat pusing.
"Entahlah,, santoso." ucap Mario.
Beberapa jam berselang, Alia keluar dari ruang Transfusi dengan wajah begitu pucat. Santoso mengkhawatirkan nonanya, takut sewaktu waktu kondisinya drop.
"Nona, sebaiknya anda istirahat." ucap Santoso.
__ADS_1
"Tidak. " jawab Alia singkat.
"Jangan membuat saya khawatir, nona." ucap Santoso dengan wajah memelas.
"Kamu pesan kamar yang vvip kan? nanti kalau Papa dipindah ke kamar inap aku akan tidur disana juga." ucap Alia.
"Saya sudah memesan hotel untuk anda Nona." ucap Santoso lagi.
"Hotel itu untuk eyang saja nanti." jawab Alia lagi. Santoso sudah tidak bisa memaksa Alia lagi kalau sudah begini.
Alia kini duduk menyandarkan kepalanya di kursi ruang tunggu. Terasa begitu lelah badannya hingga tak terasa dirinya memejamkan matanya.
Santoso melepas jaketnya untuk menyelimuti tubuh Alia agar tidak kedinginan.
Sekitar jam 10 malam Jaya dipindahkan ke Kamar Inap.
"Nona, tuan muda sudah dipindahkan." ucap Santoso.
Perlahan Alia membuka matanya.
"Kenapa?" tanya Alia linglung karena baru bangun tidur.
"Tuan Muda sudah dipindahkan." ucap Santoso lagi.
Alia beranjak dari kursi tersebut namun kepalanya tiba tiba sakit dan hampir terjatuh. Santoso dengan sigap segera menangkap tubuh Nonanya yang hampir jatuh.
Dipapahnya tubuh Nonanya ini karena sedang lemas.
"Nona baik baik saja?" tanya Santoso cemas.
__ADS_1
"Aku baik baik saja." jawab Alia.
Tak berapa lama keduanya sampai di kamar inap Jaya yang terlihat begitu mewah.
"Ini kamar pasien apa kamar hotel?" tanya Alia takjub.
"Kàmar pasien nona, Ada masalah?" Santoso khawatir nonanya tidak puas dengan kamar pesanannya.
"Ini begitu mewah." ucap Alia masih memandangi setiap sudut ruangan.
"Saya sengaja memesannya agar Nona bisa istirahat sembari menjaga Tuan Muda." ucap Santoso.
"Baiklah, terima kasih telah mengurusnya. Aku mau tidur disofa saja." ucap Alia.
"Kenapa tidak di kasur tambahan, nona?" tanya Santoso khawatir Nonanya kurang puas.
"Jaraknya terlalu jauh dari Papa, aku disofa saja yang lumayan dekat. Nanti juga eyang kan kesini biar buat istirahat Eyang saja." ucap Alia.
"Oiya, kartu debit Papa masih di Mas Tosa kan? pesankan hotel yang dekat dari sini satu kamar president suit, buat Mama sama Eyang, makasih." lanjut Alia.
Alia lalu membaringkan tubuhnya di sofa. Santoso kembali menyelimuti Alia namun dengan selimut cadangan yang berada di lemari.
Santoso meninggalkan Alia yang telah tertidur pulas.
*Untuk para reader semua, Author minta maaf karena sudah sangat jarang Update, karena virus Corona yang mulai menyebar author tambah sibuk karena tuntutan pekerjaan yang semakin Padat. Author juga nggak bisa maksain diri buat nulis karena kalo udah cape suka bingung sendiri.
Mungkin Author bakalan jarang update buat beberapa minggu karena masih terus kerja.
Dan buat yang udah support Author selama ini makasih ya,, **
__ADS_1