
"Ayo kita mulai,,,." ucap Pak Surya.
Pak Surya mencampurkan beberapa ramuan herbal yang berbentuk getah dan serbuk di sebuah tempayan kecil yang berada di tungku.
Aroma dari campuran ramuan herbal tersebut sungguh harum karena terdapat serbuk cendana didalamnya.
"Harum sekali paman." celetuk Komandan Ucok.
"Harum??" tanya Pak Surya.
Komandan Ucok mengangguk.
Pak Surya langsung mengaduk ramuan tersebut.
Setelah sekitar sepuluh menit, Pak Surya duduk di samping Komandan Ucok.
"Kita akan coba diluka yang paling kecil ya." ucap Pak Surya.
Pak Surya memegang lengan kanan Komandan Ucok yang terluka.
"Kamu tahan ya." ucap Pak Surya.
Komandan Ucok mengangguk paha.
dengan menggunakan spatula Pak Surya mengambil ramuannya, perlahan mulai ditempelkan di lengan kanan Komandan Ucok yang terluka.
Komandan Ucok yang awalnya tersenyum kini mulai merubah ekspresinya. Keningnya berkerut dan semakin lama kerutannya semakin banyak. Giginya gemertak menahan gejolak dalam tubuhnya.
"Argh!!!" Komandan Ucok tidak bisa menahan suaranya lagi.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Pak Surya.
Komandan Ucok tidak menjawabnya dan terus memegangi tangannya.
Tak terasa air mata komandan Ucok mulai mengalir.
"Yang benar saja Ahmad. Kamu nangis?" Pak Surya meledek komandan Ucok yang masih menggeliat kesakitan.
Komandan Ucok tidak menggubris perkataan Pak Surya.
"Pegangi dia!" Perintah Pak Surya. Kedua asistennya langsung memegang kedua tangan Komandan Ucok dan memaksanya agar retap dalam kondisi berbaring.
Komandan Ucok mencoba meronta namun usahanya sia sia.
Pak Surya dengan cepat mengolesi luka luka Komandan Ucok dengan ramuan herbalnya.
"Argh!!!!!" Komandan Ucok terus berteriao kesakitan. Indri yang menunggunya diluar iba melihat suaminya seperti itu.
Komandan Ucok tetap tidak menggubris perkataan Pak Surya dan tetap meronta.
"Ikat saja." ucap Pak Surya.
Kedua asisten Pak Surya mengikat masing masing tangan Komandan Ucok dengan kain dan mengaitkannya ke sandaran ranjang.
Pak Surya duduk di samping Komandan Ucok dan membelai rambutnya perlahan.
"Kamu mau cepat sembuh, kan? Kamu melihat Jaya cepat sembuh tapi kamu tidak melihat semua perjuangannya." ucap Pak Surya.
"Tapi kamu jangan khawatir. Setelah 4 kali diolei dengan ramuan ini maka rasanya tidak akan sesakit ini lagi. Paham?" ucap Pak Surya. Komandan Ucok hanya mengangguk.
__ADS_1
Setelah sepuluh menit Pak Surya mengolesi luka luka Komandan Ucok dengan minyak agar rasa sakitnya mereda.
Komandan Ucok kini sudah terlepas dari ikatannya karena dirinya sudah mulai tenang.
"Istirahat ya, nanti 2 jam lagi Paman kemari lagi." ucap Pak Surya.
Komandan Ucok mengangguk lalu memejamkan matanya perlahan.
Pak Surya dan kedua asistennya meninggalkan Komandan Ucok di kamarnya.
Ditempat lain, tepatnya di rest area Pak Perwira dan Jaya sedang istirahat untuk mengisi BBM dan juga perut mereka.
Perjalanan masih cukup panjang sekitar 3 jam lagi jika tidak macet.
"Kamu tidak sekalian mengunjungi putrimu? siapa namanya?" tanya Pak Perwira.
"Alia?" jawab Jaya.
"Iya." Pak Perwira masih asyik menyantap soto dagingnya.
"Tugas ini seperti yang bapak sampaikan, terlalu besar dan berbahaya. Saya tidak mau kalau sampai anak saya terlibat." ucap Jaya.
"Kamu benar. Jaga anak kamu baik baik." ucap Pak Perwira.
"Pasti, Pak. Kami pasti akan saling menjaga bahkan dengan nyawa kami." Ucap Jaya mantap.
"Kamu tahu kenapa saya memasukan seluruh anak saya ke militer?" tanya Pak Perwira.
Jaya lalu menengok ke arah Pak Perwira dan menggeleng
__ADS_1
"Tidak, memang kenapa?"