
“Baiklah, apa kamu yakin akan melawan Santoso? Masih ada waktu untuk berubah pikiran.” Ucap Alia.
“Tidak, aku akan melawannya.” Jawab Jonathan. Melihat ketenangan dan keyakinan Alia membuat Jonathan kini mengeluarkan keringat dingin dari balik pakaiannya.
“Bagaimana kalau bertarung?” tanya Jonathan. Alia berpikir sebentar sebelum memutuskannya.
“Kalau kamu bertarung dengan Santoso, takutnya kamu akan cedera.” Ucap Alia. Dirinya takut Pak Andreas akan mempermasalahkannya.
“Aku yakin dengan keputusanku.” Jawab Jonathan. Setidaknya secara postur dirinya lebih besar dari Santoso maka presentase kemenangan akan lebih tinggi.
“Baiklah, kembalilah besok lusa kemari, pertarungan antara kamu dan Santoso akan dilangsungkan disini. Apabila Tuan Andreas berkenan beliau boleh hadir juga.” Jelas Alia.
“Baiklah, aku pulang dulu dan bersiap. Mintalah Santoso untuk bersiap.” Ucap Jonathan sombong.
Setelah itu Jonathan pamit dan melangkahkan kaki keluar dari kamar Alia diantarkan oleh Pak Surya hingga ke depan pintu. Pak Surya bergegas kembali ke kamar Alia.
“Sombong juga ya anak itu. Padahal wajahnya keliatan ramah.” Ucap Pak Surya. Ternyata pandangannya salah terhadap Jonathan.
“Dia dibesarkan dalam keluarga kaya raya dan selalu mendapat yang terbaik walau dirinya bukan yang terbaik, Eyang. Dia anak manja, anak bungsu dari dua bersaudara.” Ucap Alia.
“Berarti didikan orang tua yang salah, kamu juga terlahir dari keluarga kaya raya, dibesarkan tanpa kekurangan tapi kepribadian kamu lebih baik kalau menurut eyang.” Balas Pak Surya.
Dirinya tidak menyangka masih ada yang berani menantang Santoso duel, hanya orang yang tidak kenal yang namanya Santoso.
Walau dia dikenal sebagai seorang jenius yang bisa menggunakan berbagai macam senjata, namun dia adalah seorang maniak pertarungan tangan kosong. Santoso selalu ragu menggunakan senjata dalam pertarungan karena dirinya selalu yakin bahwa dirinya adalah yang terbaik dalam pertarungan tangan kosong.
Dan sifat ramah yang selalu ia tampakkan selama ini rasa-rasanya hilang seketika.
“Semoga saja tidak ada yang terluka.” Ucap Alia.
“Entahlah, eyang berharap Jonathan akan menyerah saja sebelum terluka parah. Bahkan Eyang tidak yakin Papa kamu bisa menghadapinya jika bertarung satu lawan satu.” Ucap Pak Surya. Alia tertegun mendengarnya karena selama ini dirinya belum pernah melihat ada orang yang mengalahkan papanya jika duel satu lawan satu. Dan Pak Surya tidak mungkin membual untuk Santoso.
Bu Mona yang dari tadi menyimak kini ikut berbicara.
“Kamu lupa Al, yang akan berduel adalah Santoso tapi kenapa kamu tidak konfirmasi dulu ke orangnya. Apakah dia akan mau atau tidak.” Ucap Bu Mona. Alua segera menyadari kesalahannya karena tidak memikirkan ini sebelumnya, namun Pak Surya segera menenangkannya.
“Santoso pasti mau, ayah jamin itu.” Ucap Pak Surya yakin.
“Baiklah, sekarang hanya mengatur tempatnya.” Kata Alia.
“Akan Eyang atur.” Jawab Pak Surya.
Mereka berdua membahas semua rencana tentang pelaksanaan duel hingga waktu makan siang berlalu. Kini sudah jam setengah tiga sore dan mereka baru makan siang.
Setelah makan Alia kembali istirahat ditemani oleh mamanya, sedangkan Pak Surya menyiapkan tempat untuk duel Santoso lusa bersama punggawa Wijaya lainnya. Bahkan untuk mendukung pertarungan tersebut Pak Surya membeli satu set matras bertarung baru seharga 4 juta rupiah.
Di lain tempat, Santoso terpaksa lembur hari ini karena harus menggantikan tugas Alia dan Taufik. Entah mimpi apa dirinya semalam kenapa dia malah mendapat tugas yang begitu numpuk.
__ADS_1
Kalau hanya mengcover tugas Alia mungkin tidak terlalu berat namun dirinya mengerjakan pekerjaan Taufik juga.
Jam 2 malam dirinya membuka ponselnya dan ada pesan masuk dari Alia.
“Santoso, maaf mengganggu harimu yang melelahkan. Sejujurnya aku tidak ingin melakukannya tapi ini terpaksa. Aku mendapat tantang duel dari Jonathan. Kau pasti mengenalnya, kan? Aku tak dapat menjalankannya sendiri jadi aku butuh bantuanmu untuk melawannya. Harga diri kita berdua dipertaruhkan dalam duel kali ini. Kalau kau bersedia atau tidak segera hubungi aku.” tulis Alia dalam pesan tersebut. Santoso tersenyum lebar setelah membaca pesan tersebut.
“Tentu Nona, aku akan melakukan yang terbaik untuk mengalahkannya. Percayakan padaku.” Balas Santoso.
Karena sudah selesai semua pekerjaannya, dirinya lalu pulang menuju kediaman Wijaya yang berada di Jakarta Utara sementara kantornya berada di Jakarta Barat. Supir yang juga temannya kemarin terluka jadi hari ini dia menyetir sendiri.
Santoso melalu rute yang sama, rute yang biasa ia gunakan sehari-hari dan juga rute dimana kemarin mereka diserang.
Dan tanpa diduga sebelumnya, ternyata dirinya juga sedang diincar namun instingnya segera menangkapnya dengan cepat. Ia segera mengabari Gang Tornado terdekat untuk segera merapat. Jumlah mereka hari ini cukup imbang, 10 lawan 13, pihak Santoso berada di pihakyang tidak untung tapi mereka yakin akan bisa mengalahkan mereka.
Pertarungan yang hampir mirip tawuran tersebut segera dimulai. Mereka terlihat imbang namun setelah 10 menit pihak penyerang mulai bergelimpangan.
Srukk!! Benda tajam yang dingin terasa menembus pinggang Santoso, Santoso berbalik dan mendapati seorang lawannya yang harusnya tadi pingsan malah menusuknya dari belakang. Santoso menghajar orang tersebut hingga beberapa giginya patah mendapat bogem mentah dari Santoso. Tapi orang tersebut tidak menyerah dan kini masih berusaha berdiri.
Nafas keduanya mulai tidak teratur apalagi Santoso yang sedang diliputi amarah.
Lawan Santoso mengambil parang yang masih tersimpan rapih dibalik jaketnya. Setelah menyabut parang tersebut dari sarungnya, orang yang tadi dihajar oleh Santoso kini kembali menyeringai terhadap Santoso walau seringainya lucu karena beberapa giginya ompong.
Bukk!! Orang tersebut menghantam dagu Santoso dan membuat Santoso linglung seketika dan saat itu dirinya tidak menyia-nyiakan kesempatannya dan segera menebas perut Santoso.
Slashh!! Parang tersebut sukses mendarat diperut Santoso. Beberapa anggota Gang Tornado yang melihatnya segera bertindak.
“Kembalilah, kami akan membereskan sisanya, hati-hati, beberapa Gang Tornado sudah ada didepan sana.” Ucap Edi orang yang tadi menembak lawan Santoso.
Santoso mengangguk dan segera bangkit menuju mobilnya.
Lukanya terasa begitu perih namun organ dalamnya masih aman tak terluka sedikitpun.
Santoso yang mengendarai kendaraannya sendiri, menghentikan laju mobilnya dan segera mengabari teman-temannya di rumah. Tak lupa dia bertanya Alia sudah tidur atau belum karena dia tahu akan terjadi masalah apabila Alia mengetahui dirinya terluka.
Santoso kembali melaju kendaraannya dan menuju kediaman Wijaya. Dia menggunakan selimut kecil yang ia simpan selalu dimobil agar darah tidak berceceran kemana mana dan menyusahkan teman-temannya yang lain.
Santoso begitu terkejut melihat Pak Surya sudah berada dikamarnya dengan segenap perlengkapannya. Santoso hanya bisa menela ludahnya dengan kasar membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Bagaimana?”
"Tidak terlalu buruk, tuan besar." Jawan Santoso.
"Bagaimana bisa keadaanmu tidak terlalu buruk kalau darahnya saja bisa sebanyak itu?" Tanya Pak Surya. Dia lalu mengisyaratka agar Santoso segera membuka kemeja beserta singlet yang ia gunakan agar Pak Surya bisa memeriksanya.
Santoso segera melakukannya karena tak ingin Pak Surya merasa kepeduliannya tidak dianggap.
"Berbaringlah." Ucap Pak Surya.
__ADS_1
Santoso mengambil under pad di lemari pakaiannya dan menggunakannya sebagai alas agar kasurnya tidak kotor karena darah.
Pak Surya memeriksa kondisi Santoso dengan serius.
"Tuan Besar." Ucap Santoso.
"Hm." Balas Pak Surya.
"Kenapa malam-malam begini anda belum tidur?" Tanya Santoso. Dirinya tidak enak hati kalau ternyata karena dirinya Majikannya rela begadang.
"Diamlah, atau kamu boleh bertanya tapi tidak akan dijawab. " jawab Pak Surya.
"Sedikit banyak saya tahu tentang kondisi saya, tuan. Saya merasa sangat merepotkan anda saat ini." ucap Santoso namun tidak direspon oleh Pak Surya sama sekali.
Lukanya tidak dalam, namun cukup lebar karena menyingkap kulit santoso dengan lebar sekitar 6cm, panjang 13 cm dan kedalaman kurang lebih 0, 5 cm.
Santoso meringis kesakitan saat Pak Surya mengolesi ramuan herbalnya lalu menjahit lukanya tanpa aba-aba apalagi obat bius.
Setelah selesai, Pak Surya juga mengobati pinggang Santoso.
Sudah jam empat pagi namun keduanya masih belum memejamkan mata sedikitpun untuk tidur.
"Jadi bagaimana dengan duel kamu melawan Jonathan?" tanya Pak Surya.
"Saya percaya saya bisa bertahan dan menang walau skor tipis sekalipun." Ucap Santoso. Dirinya sudah memikirkan kembali semuanya secara matang.
"Kamu yakin? Mungkin proses penyembuhan akan membutuhkan waktu lebih lama." Ucap Pak Surya.
"Ini sudah menyangkut harga diri Nona Alia. Saya tidak ingin membuatnya malu."ucap Santoso.
Santoso lalu duduk bersila dihadapan Pak Surya.
"Tuan, sebuah kehormatan bagi saya dapat bertarung demi Nona." Lanjutnya.
"Baiklah, kamu istirahat, oleskan ramuannya dengan teratur, dan jangan terlalu banyak bergerak untuk saat ini agar ramuan yang kubuat bekerja maksimal." Balas Pak Surya.
Sebenarnya dia ingin melarang Santoso bertarung namun kehormatan Alia dipertaruhkan. Ia tidak ingin Jonathan mengira pengawal Alia begitu pengecut sampai tidak berani duel dengannya.
"Teeima kasih, Tuan Besar." Ucap Santoso dengan begitu hormat.
Pak Surya menyerahkan beberapa ramuan yang sudah Santoso ketahui khasiatnya dan aturan pakainya, namun malah kini tubuh Santoso bergetar hebat karena diberi obat-obat tersebut.
Ramuan yang dibuat oleh Pak Surya memang tidak diperjual belikan namun dirinya sudah mengetahui bagaimana kemampuan penyembuhannya.
Bahkan Jaya bisa sembuh dalam seminggu luka luar yang ia derita namun Jaya menolak.
Pak Surya lalu keluar dari kamar Santoso yang berada di lantai satu kediaman Wijaya menuju kamarnya.
__ADS_1