My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Paragon Mall 2


__ADS_3

"Arghhh,,,,,!!!!" Pekik Pak Eko menahan sakit ketika luka lukanya dibersihkan oleh ayahnya.


Kening Pak Surya mulai mengerut setelah 2 menit memeriksa luka putranya.


Pak Surya memanggil semua tim medisnya yang kemarin menangani putra sulungnya tersebut. Dalam lima menit mereka sudah berkumpul di kamar Pak Eko.


"Siapa yang kemarin harusnya membersihkan luka putraku?!" tanya pak Surya dengan penuh amarah.


"Kenapa pak?" tanya orang yang berdiri paling dekat dengan Pak Eko.


"Saya tanya siapa? Kenapa kalian jawab dengan pertanyaan juga!" teriak pak Surya.


"Saya pak" ucap seseorang sambil mengangkat tangannya.


"Hendra! apa yang kamu lakukan?" tanya Pak Surya lagi. kini amarahnya mulai reda.


" Saya bersihkan dengan rivanol, Pak." jawab hendra.


"Tapi kenapa bisa lukanya jadi seperti itu?" teriak Pak Surya sambil menyingkap selimut yang menutupi perut Pak Eko.


Sekarang terlihat jelas luka Pak Eko bernanah dan mengalami peradangan. area kulit disekitar luka Pak Eko memerah dan panas ketika disentuh.


"Maaf pak, tapi kemarin saya sudah lakukan sesuai prosedur." ucap Hendra.


"Baiklah. Sekarang bawa semua perlengkapan kita serta obat yang sudah saya siapkan semalam.!" Perintah Pak Surya.


Semuanya mengangguk paham lalu mulai keluar untuk mengambil peralatan.

__ADS_1


"Apa yang mau Ayah lakukan?" tanya Pak Eko khawatir bercampur takut.


"Ya apalagi?Kita akan melakukan pengobatan." jawab pak Surya.


"Bukan itu maksudku." ucap Pak Eko


"lalu??" tanya Pak Surya.


"Kondisiku terlalu parah." ucap Pak Eko lirih. Ada sedikit rasa putus asa.


Pak Surya menggenggam erat tangan putranya.


"Kita pasti bisa menghadapinya. Tenang saja, ayah akan melakukan yang terbaik." ucap Pak Surya.


"Ayah,,," lirih Pak Eko.


"apa yang akan ayah lakukan pada lukaku?" tanya Pak Eko lemas.


"Mengobatinya saja. Kamu tenang, jangan berpikir yang tidak tidak." ucap Pak Surya sembari memberi semangat pada putranya.


*****


Adel membawa sebuah kantong belanjaan, sisanya dibawa oleh Santoso.


Adel sudah mulai puas dan berpikir untuk pulang.


"Paman, ayo pulang." Ajak adel pada Santoso.

__ADS_1


"Yakin nona sudah selesai semua?" tanya Santoso meyakinkan.


"Semuanya sudah selesai, Ayo pulaang" ajak Adel lagi.


" Tadi nyonya besar mengirim pesan, katanya nyonya besar mau nyusul, kita nunggu dulu ya." Ucap Santoso.


"Ooo,,, jadi Eyang mau nyusul?" ucap Adel


Kini Adel duduk di kedai minuman, sambil menikmati Boba choco milk miliknya. Setelah 15 menit menunggu, Akhirnya Bu Santi terlihat di Mall.


"Nona, Nyonya besar sudah sampai." ucap Santoso memberi tahukan pada Adel bahwa eyangnya sudah sampai.


Adel berdiri lalu menyambut Eyangnya.


"Eyang kenapa tadi nggak bareng Adel aja berangkatnya?" tanya Adel.


"Eyang kan tadi belum selesai, banyak yang harus diurus." Ucap Bu Santi.


"Ooo,,, Eyang mau beli apa?" Tanya Adel


"Eyang mau beliin jaket kulit buat kakakmu, kamu bantu Eyang ya, dia kan seleranya nyeleneh" ucap Bu Santi sambil terkekeh. Adel juga ikut tertawa.


Mereka mulai mencari beberapa barang. Setelah 2 jam muter muter, akhirnya mereka tidak hanya membeli jaket kulit, namun juga jam tangan smart watch, tas selempang dan juga sebuah head band.


"Eyang ikut nggak ke Jakarta kalo main ke tempat kakak?" tanya adel.


"Kemungkinan besar ikut. Kalo tidak ada halangan ya, Del. " ucap Bu Santi.

__ADS_1


"Eyang kok belinya banyak banget?" tanya Adel. Walau bertanya seperti itu namun tidak ada rasa iri di hati Adel untuk kakaknya. Baginya kehidupannya lebih beruntung karena kakaknya diasrama yang jauh dari orang tua, sedangkan dirinya hidup nyaman dengan keluarganya


__ADS_2