My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Di Hadang


__ADS_3

Alia dituntun menuju sebuah ruang VIP, ternyata sudah tersedia beberapa hidangan pembuka disana.


Alia dan Santoso duduk berhadapan bak sepasang kekasih yang sedang makan malam romantis.


"Kamu membuatnya menjadi lucu." ucap Alia. Sekarang pasti ada beberapa orang yang sedang bergosip bahwa Alia sudah memiliki pacar. Tiba tiba Alia memikirkan Jaseth.


Alia tidak ingin berlama lama bersama Santoso, setelah selesai mereka langsung menyelesaikan bill dan pulang.


Kali ini giliran Santoso yang menyetir.


Dorr!!! kaca mobil tempat Alia duduk ditembaki dan kacanya pun hancur. Alia terkena serpihan kaca dibagian perutnya karena tidak memakai jaket.


Alia segera merunduk walau tau serpihan kaca yang menancap diperutnya akan semakin dalam. Santoso yang tidak mengetahui Nonanya terluka masih fokus mengemudikan mobilnya. Ia segera menghubungi Punggawa Wijaya untuk segera datang. Kini Alia sudah kembali duduk dan mengenakan jaketnya. Orang orang tadi masih mengejar menggunakan sepeda motor dan jumlahnya semakin banyak. Alia segera menghubungi Omnya agar memberi bantuan secepatnya.


Untung saja Tuan Fred sedang ada dirumah yang berada di daerah Patra sehingga lokasinya cukup dekat dengan Alia.


"Ke Patra." ucap Alia.


Santoso lalu mengarahkan mobilnya ke daerah Patra.


cittt!!!


"S*alan,," keluh Santoso. Dirinya terpaksa ngerem mendadak karena jalannya sudah dihadang.


Santoso lalu turun dan menghadapi orang orang itu. Alia yang gatal dan sudah lama ingin bertarung akhirnya turun tangan juga. Alia bertarung dengan lincah dan berhasil merobohkan lawannya.


Dan tak lama kemudian beberapa anggota Gang Tornado datang bersama Rich.

__ADS_1


"Nona, kau tidak apa-apa?" tanya Rich.


"Tidak. Minta anggotamu membawa mobilku. Aku dan Santoso ikut mobil kamu." ucap Alia.


"Baik." jawab Rich.


Mereka lalu menuju ke tempat Tuan Fred. Alia ingat bahwa ini juga jalan menuju ke rumah papanya.


Mereka sampai disebuah rumah dengan warna dominan putih. Rich mengajak Alia dan Santoso masuk dan menemui Tuan Fred. Ternyata Tuan Fred sudah menunggu mereka diruang tamu.


Saking cemasnya Tuan Fred mondar mandir tidak jelas dan tidak mau duduk disofa.


"Om!!" teriak Alia. Tuan Fred langsung berjalan tergesa kearahnya dan memeluknya.


"Apa yang terjadi?" tanya Tuan fred.


"Kamu terluka?" tanya Tuan Fred.


"Ada pecahan kaca diperutku, sepertinya patah didalam." ucap Alia.


"Rich, kamu bisa menangani?" tanya Tuan Fred. Rich mengangguk.


"Dia bisa?" tanya Alia.


Tuan Fred mengangguk mengiyakan.


Tuan Fred menuntun Alia kesebuah kamar dengan nuansa Krem yang pekat.

__ADS_1


"Ini kamar kamu." ucap Tuan Fred.


Alia melepas jaketnya dan terlihat serpihan kaca menyembul dari dalam perutnya.


Santoso menggelar underpad untuk alas tidur Alia.


Alia lalu berbaring dan Rich segera memeriksanya.


"Nona, ini cukup dalam apa kau tidak merasa kesakitan?" tanya Rich.


"Apa aku harus menangis untuk menggambarkannya?" jawab Alia ketus. Dirinya merasa semakin kesakitan tapi malah tidak segera ditangani.


"Saya harus melakukan pembedahan, tapi yang saya miliki hanya pereda nyeri dan tidak 100 persen hilang rasa sakitnya, dan efeknya pun hanya 15 menit." ucap Rich.


"Lakukan. Jangan ditunda lagi, tidak masalah walau keadaan sadar sekalipun." ucap Alia.


"Al, tunggu sebentar, mungkin hanya 30 menit Om akan minta pain killer ke teman om." ucap Tuan Fred. Dirinya tidak ingin Alia terus merasa kesakitan.


"Terlalu lama, Om." jawab Alia.


"Tali itu akan sakit Al." tidak masalah.


"Ya sudah." akhirnya Tuan Fred pasrah.


Rich mengambil satu ampul obat dan jarum suntik. Rich lalu menyuntik luka Alia dengan obat pereda nyeri.


Begitu jarum mulai menembus lukanya Alia memejamkan matanya karena merasa jarum ini lebih besar dari biasanya.

__ADS_1


5 menit kemudian rasa sakit yang Alia rasakan mulai berkurang.


__ADS_2