My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Tragedi


__ADS_3

Alia mengendarai mobil SUV hitam milik Taufik dengan kecepatan tinggi. Ia sudah mengetahui lokasi dimana Papanya berada sementara sepuluh orang punggawa wijaya terpisah menjadi tiga mobil dan bersenjata lengkap.


Alia begitu mencemaskan Papanya namun dirinya juga harus berfikir jernih agar kedepannya tidak timbul masalah yang lebih besar.


Setelah sampai di hutan perbatasan, Alia mendapati mobil Papanya berada di tengah jalan, kontaknya pun masih menempel di mobil.


Sepertinya telah terjadi pertarungan besar beberapa waktu lalu kalau diliat dari jejaknya.


Ternyata ponsel yang dilacak berada di mobil.


"Ayo berpencar!! kalau menemukan hal yang mencurigakan segera monitor." perintah Alia.


Mereka menyebar ke segala penjuru.


Sekitar 1 km dari mobil terdapat rumah kosong, Alia mendekatinya dengan hati hati. Banyak darah yang berceceran dilantainya, Alia semakin curiga. Ia memberanikan diri untuk memasuki rumah kosong tersebut.


kriieeekk!!! Suara geret pintu tua yang Alia buka.


Alia terkejut bukan main ketika melihat Papanya terbaring tak berdaya dalam kondisi setengah sadar, tubuhnya sudah berlumuran darah.


Alia menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar tidak berteriak, namun air matanya terus beruaraian.

__ADS_1


Alia langsung berlari mendekati Jaya, terlihat Jaya begitu kesakitan. Nafasnya juga mulai menderu.


"Kita akan keluar, Pa. Papa bertahan!"seru Alia.


Alia lalu membopong Papanya dan berlari menuju mobilnya. Jaya masih setengah sadar dan memegang bahu Alia kuat kuat.


"Monitor! Target sudah di temukan, siapkan mobil!" teriak Alia melalui earphone nya.


Ada beberapa Punggawa Wijaya yang mendekati Alia. Mereka terkejut melihat Nonanya berlari begitu kencang dengan tuan mudanya berada di pundak, dan yang tiďak kalah mengejutkan adalah Tuan Muda mereka telah bersimbah darah.


"Nona, anda butuh bantuan?" tanya seorang Punggawa Wijaya yang berlari mengikuti Alia.


Dirinya sudah biasa membawa sansak yang beratnya mencapai 80 kg dengan berlari, kalau menggendong Papanya seperti ini rasanya jauh lebih ringan karena didorong oleh rasa takut kehilangan.


Setelah sekitar 10 menit berlari mereka sampai di mobil.


Alia membaringkan Papanya dipangkuannya. Seorang Punggawa Yudha mengambil alih kemudi dan segera melaju kendaraannya menuju rumah sakit terdekat.


Jaya sudah tidak sadarkan diri dipangkuan Alia. Alia juga sudah mandi darah karena menggendong Papanya Tadi.


Mereka langsung menuju rumah sakit Islam yang jaraknya hanya 6 km.

__ADS_1


Seluruh keluarga Wijaya segera dihubungi agar ke rumah sakit harapan bunda karena rencananya Jaya akan dirujuk ke sana.


Alia menekan luka papanya dengan menggunakan handuk kecil, walau tidak juga berhasil menghentikan pendarahannya.


Tak berapa lama kemudian mereka sampai di rumah sakit islam, setelah diberi pertolongan pertama Jaya langsung dirujuk ke rumah sakit Harapan Bunda.


Banyak punggawa Wijaya yang menyamar dan berjaga di sekitar rumah sakit harapan bunda.


Rahmat, Taufik, Pak Surya dan Bu Santi sudah sampai, sedangkan Adel dan Mamanya sedang dijemput menggunakan helikopter agar lebih cepat sampai. Kebetulan di rumah sakit ini terdapat helipad jadi Rahmat meminta izin kepada pihak rumah sakit.


Pihak rumah sakit tidak bisa menolak karena kebesaran keluarga Wijaya dan budi mereka terhadap rumah sakit.


Jaya sampai di rumah sakit dan langsung ditangani oleh tim dokter terbaik. Alia melakukan donor darah karena yakin Papanya akan membutuhkan darahnya, begitu juga dengan Rahmat dan Taufik.


*****


Kali ini Al mau kasih visualnya Jaya ya gesss



Gambar by Pinterest

__ADS_1


__ADS_2