My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Diincar 1


__ADS_3

Saat mereka sedang duduk santai, ada sekelompok pengawal yang lari tergesa-gesa menghampiri mereka.


“Ada apa?” Tanya Pak Surya. Tidak biasanya para punggawa wijaya berani mengganggunya saat sedang bersama keluarga.


“Tuan Muda Taufik diserang dan terluka. Dia sedang dirawat oleh Santoso diruang medis.” Jelas pengawal tersebut. Pak Surya langsung berlari menuju ruang medis untuk melihat kondisi Taufik.


Alia dan Bu Mona ikut berjalan menuju ruang medis.


Disana terlihat Santoso sedang membersihkan luka-luka Taufik menggunakan alkohol. Ada 3 luka tembakan dipunggung tapi tidak terlalu masalah karena peluru yang bersarang adalah peluru tumpul.


Santoso memberi isyarat kepada kawannya agar membawa Alia keluar namun Alia segera menolaknya.


“Biarka putriku belajar bagaiman menguluarkan peluru dari tubuh seseorang.” Ucap Bu mona. Alia senang karena mamanya membelanya.


Santoso mengambil pisau kecil dan beruaaha mengorek peluru tersebut dari dalam daging Taufik. Taufik segera mencengkram lengan pengawalnya erat-erat. Alia sedikit ngilu saat melihat proses ini belum lagi luka bacok yang lebih panjang menghiasi punggung Taufik.


Taufik yang sudah tidak akhirnya meronta, namun itu tidak membuat Santoso menyerah.


“Arghhhhh!!” teriak Taufik.


Akhirnya Pak Surya menyemprotkan pereda nyeri ke bagian yang terluka. Taufik tenang seketika dan Santoso melanjutkan pengobatannya.


Santoso menjahit luka luka tersebut, menaburinya dengan serbuk obat dan membalutnya dengan perban.


Setelah semuanya selesai, Santoso mengemasi semua peralatannya dan meletakannya ditempat masing – masing.


Pak Surya duduk disamping putranya.


“Sudah merasakan ka sekarang, bagaimana rasanya tertembak, disiksa oleh ayah sendiri, ayah sengaja agar kamu jera, baru semalam Alia mendapat penyerangan, kamu malah jalan tanpa bodyguard. Kakak kamu sendiri masih terbaring lemah, kamu harus lebih menghargai nyawa kamu sekarang.” Pak Surya langsung memberi nasehat ke Taufik. Ia mendapat laporan bahwa Taufik nekat keluar sendiri tanpa pengawalan padahal sudah mendapat banyak peringatan.


“Terima kasih ayah, sudah mengingatkan aku bagaimana menghargai diri sendiri.” Ucap Taufik. Dirinya menganggap ini semua sebagai pelajaran berharga. Punggungnya terkena tiga kali tembak dan sabetan golok namun dirinya berhasil lari.


Taufik pun bersyukur karena ia tak akan cacat karena ia takut setengah mati melihat golok yang menyabet punggungnya ternyata sangat tajam. Dirinya yang menggunakan rompi jeans saja terluka begitu parah apalagi apabila golok tersebut menyabet tangannya.


Alia duduk disamping eyangnya.


“Bagaimana kondisimu, Al?” tanya Taufik. Dirinya mendengar Alia mendapat penyerangan juga.


“Sudah lumayan, tapi masih sakit.” Jawab Alia.


“Bagaimana kondisi Om? Aku lihat Om begitu kesakitan. “ ucap Alia.


“Tidak, hanya saja Santoso terlalu kasar.” Jawab Taufik. Dirinya tidak mau terlihat lemah.


“Bahkan Santoso tidak menggosok luka om.” Celetuk Alia.

__ADS_1


Santoso mengobati Taufik dengan begitu hati-hati dan tidak brutal. Mungkin karena lukanya ditangani tepat waktu sementara Alia semalam butuh waktu sekitar satu jam sampai ditangani.


“Tentu tidak. Kamu semalam bukannya bawa orang?” kini giliran Taufik yang bertanya.


“Aku memang bawa banyak orang, namun cara kerja mereka sungguh bersih, mereka melukai orang-orang kita secara perlahan dan saat sisa 10 orang aku disergap.” Jelas Alia.


Dirinya masih mengingat jelas bagaimana mereka terluka.


Mereka masih bisa bercanda hingga 10 menit kemudian bius Taufik habis. Taufik mulai meringis kesakitan dan Alia malah mentertawakan dirinya.


“Bagaimana mas Eko bisa selalu tenang bahkan saat ayah mengobatinya.” Batin Taufik yang sering kagum melihat kakaknya begitu tenang saat menjalani pengobatan.


Alia bertanya kepada Taufik apa masih ingin ditemani atau mau ditinggal saja.


“Kamu disini saja.” Ucap Taufik. Alia mengangguk mengerti.


Ppak Surya dan lainnya meninggalkan mereka berdua karena mungkin ingin membicarakan sesuatu yang bersifat pribadi.


“Kamu sadar keluarga Wijaya sedang diincar oleh banyak kalangan?” tanya Taufik.


“Ini baru persepsiku saja, Om. Tapi sepertinya iya.” Jawab Alia. Taufik cukup terkejut mendengar jawaban ini namun segera menenangkan dirinya.


“Apa kamu punya ide?” tanya Taufik.


“Aku dengar Satya Yudha, lebih tepatnya Surya Yudha sedang dalam ambang kehancuran, kita bisa membelinya dan menggabungkan mereka dengan Punggawa Wijaya.” Ucap Taufik.


“Lalu bagaimana dengan Pak Perwira dan petinggi lainnya?” tanya Alia lagi. Dirinya sedikit memahami Satya Yudha dan Surya Yudha karena Jaya dulu bekerja disana sangat lama.


“Mereka sudah cukup tua untuk pensiun. Papa kamu bisa menanganinya.” Ucap Taufik.


“Kira-kira berapa yang harus kita keluarkan?” tanya Alia lagi.


“Sekitar 2 m. Memang banyak tapi hasilnya akan sepadan.” Ucap Taufik.


“Baiklah, aku akan membicarakannya dengan eyang dan akan mengurusnya.” Ucap Alia.


Jumlah punggawa Wijaya sekarang berkurang cukup jauh karena mereka sering terluka dan masa pemulihan mereka cukup lama. Sedangkan untuk Gang Tornado hanya melindungi Alia saja.


Kesempatan ini juga Alia ambil agar dirinya bisa lebih tahu bagaimana cara kerja para pengusaha. Dirinya bisa bisnis tapi belum mengerti seluk beluk dunia bisnis dan rasanya Papanya pun sama karena lebih lama menjadi bodyguard dan usaha ini akan dipegang langsung oleh Papanya nanti.


“Al, kamu kembali kekamar saja. Hanya itu yang mau om sampaikan.” Ucap Taufik. Dirinya kembali tidak bisa menahan rasa sakitnya.


Alia mengangguk paham lalu berjalan menuju ruang keluarga dimana eyang dan Mamanya sedang duduk bersama.


Alia juga memutuskan untuk membicarakan hal yang baru saja ia bahas bersama Taufik.

__ADS_1


“Eyang, aku mau ngomong.” Ucap Alia lalu duduk disamping eyangnya.


“Ada apa?” tanya Pak Surya sembari menyeruput teh.


“Aku rasa jumlah punggawa Wijaya saat ini tidak cukup.” Ucap Alia.


“Lalu?” tanya Pak Surya akan maksud dari ucapan Alia.


“Yaa,,, jumlah Punggawa Wijaya berkurang dari waktu ke waktu, namun penambahannya tidak sejalan dengan pengurangannya.” Ucap Alia.


“Bukannya kamu memiliki gang Tornado?” tanya Pak Surya.


“Gang Tornado hanya mau melindungiku, tidak dengan anggota keluarga Wijaya yang lain. Sementara anggota Gang Tengkorak Iblis jumlahnya ribuan.” Ucap Alia.


“Kamu punya solusi?” tanya Pak Surya lagi.


“Aku dengar Surya Yudha sedang mengalami keterpurukan, banyak anggota senior yang gugur dalam penyerangan akhir-akhir ini dan para petinggi banyak yang memilih pensiun. Aku rasa Papa bisa mengelola usaha ini dengan bijak. Mereka memiliki pendapatan sendiri jadi tidak terlalu membebani keuangan keluarga kita, dan untuk akses senjata lebih mudah menggunakan Surya Yudha untuk transaksi. Kita gabungkan punggawa Wijaya dengan Surya Yudha.” Ucap Alia.


Pak Surya mengangguk setuju dengan ide Alia. Selama ini Pak Surya kesulitan menentukan bisnis yang cocok untuk putra sulungnya jadi ide ini cukup bagus menurutnya.


“Baiklah, eyang setuju. Akan eyang urus semuanya, kamu fokus dengan resort keluarga saja.” Ucap Pak Surya. Dia tahu kalau Alia belakangan ini sangat sibuk karena mengurus pembangunan resort keluarga 2W karena ini adalah sebuah proyek besar.


“Terima kasih eyang.” Ucap Alia. Ia senang karena Eyangnya langsung setuju dengan ide tersebut.


“Sama-sama” jawab Pak Surya.


“Eyang, aku besok mau masuk kerja saja.” Ucap Alia.


“Tidak boleh.” Tegas Mona.


Alia saat ini masih belum boleh banyak bergerak karena lukanya cukup dalam.


“Ayolah, Ma. Di rumah pun aku tidak ada kegiatan. Mama boleh pantau dari cctv atau bahkan membayar orang khusus untuk mengawasi aku.” Ucap Alia.


“Kenapa kamu jadi begitu semangat bekerja?” tanya Bu Mona heran.


“Karena sudah mulai menikmati.” Ucap Alia.


“Tetap saja tidak boleh.” Tegas Bu Mona lagi. Dirinya yaki jika Alia sudah keluar rumah maka akan lepas kontrol.


“Eyang,,” rengek Alia. Hanya eyangnya yang kini bisa menolongnya.


“Turuti saja perkataan Mama kamu. Kamu ini benar-benar memiliki watak Eko padahal hanya anak angkat.” Celoteh Pak Surya.


“Ayolah eyang,,,,” rengek Alia lagi.

__ADS_1


__ADS_2