
Mereka menikmati film tersebut.
Setelah film selesai mall masih buka dan akhirnya mereka memutuskan kembali belanja dan makan malam.
Alia mengetahui adiknya sedang tidak bisa makan pedas akhirnya memilih memberikanncake untuk Adel sementara keluarganya akan makan direstoren.
“Adel, maafin kakak ya, tapi kalian kan juga langsung pulang, kakak juga mau ngerasain makan malam bareng keluarga.” Ucap Alia sedikit merasa bersalah. Adel menganggapinya dwngan sangat santai.
“Ya elah kaka,, gitu aja diambil pusinh.” Celetuk Adel.
Setelah memesan makanan, Alia beranjak dari tempat duduknya.
“Mau kemana, Al?” Tanya Pak Surya.
“Eyang, aku mau beli cake buat Adel sebentar.” Jawab Alia sembari merapikan bajunya.
“Biar sama Adel.” Usul Bu Santi.
“Nggak papa, Eyang. Kalo sendiri lebih cepet. Kalo Adel ikut nanti milihnya kebanyakan lagi.” Ledek Alia ke adiknya.
“Kakak!” Adel kini memasang ekspresi cemberut.
Alia hanya tertawa pelan.
Alia pergi ke sebuah toko roti, dia memilih lemon cake, cheese cake, dan strawberry cake. Dirinya juga memilih chocolate cake untuk dirinya.
“Adel pasti suka,,” gumam Alia.
__ADS_1
Setelah membayar semua kuenya, Alia kembali ke restoran.
Kalau dikediaman Wijaya mereka tidak boleh bicara saat makan, disini suasana makan malam yang penuh canda tawa dan senda gurau.
“Al, kita semua nginep di hotel, besok pagi juga kita mau langsung pulang. Kamu jaga diri ya.” Ucap Bu Mona setelah selesai makan.
“Kamu udah tambah dewasa, jangan kupa cari pacar.” Ucap Bu Santi.
“Kalau udah punya calon kenalin ke Eyang ya.” Ledek Pak Surya.
Muka Alia merah karena tersipu malu orang orang menggodanya.
“Kamu secepatnya cuti kan? Papa sudah siapkan kejutan buat kamu dirumah. Pasti kamu suka.” Ucap Jaya.
Adel memeluk kakaknya.
“Adel lebih hati hati ya, jangan bikin Mama Papa khawatir. Kamu ini anak pintar jadi kamu juga harus giat belajar.
Kamu ini anak berbakat, giatlah berlatih. Karena apa? Karena orang berbakat bisa dikalahkan oleh orang yang giat berlatih.
Kakak pernah membaca satu novel berjudul Legenda Pendekar Naga karya shujinkouron.
Xiao chen bukanlah anak berbakat dalam bela diri. Namun karena dia giat berlatih, pantang menyerah, dan sabar. Bahkan pencapaiannya melebihi gurunya yang seorang jenius beladiri. Ingat itu ya dek.” Alia menasehati Adel sementara Adel mendengarkannya dengan serius.
“Makasih kak.” Ucap Adel seraya memeluk kakaknya lagi.
Jaya duduk disamping Alia.
__ADS_1
“Sejak kapan kamu pandai berkata kata?” tanya Jaya penasaran.
“Aku hanya menyalin perkataan orang lain.” Ucap Alia sambil tersenyum canggung.
Jaya tertawa pelan,
“Pada dasarnya kamu lebih berbakat jadi pembicara. Kamu maju dalam martial Art itu karena kamu gigih. Benar apa yang kamu katakan kalau orang yang berbakat bisa dikalahkan oleh orang yang giat.” Ucap Jaya.
“Ternyata cucu Eyang juga sudah bisa menasehati orang.” Pak Surya meledek Alia lagi.
Alia hanya ikut tertawa. Jaya membayar semua tagihan mereka.
“Mau pulang sekarang?” tanya Jaya.
“Iya, Pa. Udah jam 11 malem.” Jawab Alia.
Keluarganya satu persatu memeluk Alia.
Mereka berjalan menuju parkiran mobil.
Barang barang mereka telah ditata didalam bagasi saat mereka selesai belanja, jadi sekarang tidak terlalu repot. Alia yang menyetir mobilnya kali ini.
“Eyang baru tahu Alia bisa nyetir.” Ucap Pak Surya kagum.
Alia tersipu malu.
“Eyang, aku sudah empat tahun di Jakarta. Aku sudah bisa nyetir dari awal aku disini. “ ucap Alia masih tersipu malu.
__ADS_1
“Mau eyang belikan mobil?” tanya eyang.
“Hmmmmmmmmm,,,,,,,