My Soulmate

My Soulmate
Itupun Ga Peka!


__ADS_3

Helsa berjalan kembali ke tengah-tengah keluarganya, terlihat kekecewaan diraut wajahnya ketika pria itu pergi meninggalkan rumahnya.


"Mana Roy?" pertanyaan itu datang dari Kakaknya, Haidar.


"Udah pergi–." sahutnya lalu duduk disamping Kalycha.


"Sebenarnya gimana sih hubungan lo sama Roy? Kemaren dia minta restu ke gue, tapi semuanya itu tergantung Lo–!! Karena yang ngejalaninnya nanti Lo bukan gue atau Ibu sama Ayah." Helsa tahu kalau Kakaknya itu sedang marah padanya. Biasanya Haidar tidak pernah berkata Lo-Gue kalau dirumah kalau pun ada, kadang dia berkata begitu itu dalam posisi mode on bercanda. Tapi kali ini Haidar sangat serius dengan ucapannya.


"Udah dong Kak, ngegas mulu dari tadi. Iya nanti Helsa minta maaf ke Kak Roy, puas–!!" Helsa pergi meninggalkan halaman belakang rumahnya. Helsa pun kesal karena disalahkan terus. Ia lebih memilih untuk menghindar dari amukan kakaknya itu.


"Tuh anak kok makin ngelunjak sih Bu, selama ini apa perlakuannya begitu sama Roy?" Haidar bertanya pada Halimah yang hanya diam saja saat anak sulungnya itu menegur putri bungsunya.


"Kamu ga usah kasar begitu sama adikmu. Ibu tahu nak Roy itu orang baik dan dia sahabat kamu. Tapi kalau yang namanya perasaan itu ga bisa dipaksakan Kak. Nak Roy juga sudah berterus terang sama Ayah dan Ibu kalau dia menyukai Helsa adikmu."


"Ayah dan Ibu juga merestui hubungan mereka. Ibu juga tak tahu apa yang membuat Helsa belum juga menerima nak Roy, padahal nak Roy sudah pernah bilang sama Ibu kalau dia mau melamar Helsa tapi adikmu itu yang belum siap untuk memulai sebuah hubungan yang serius." tutur Halimah.


"Jadi selama ini Helsa mengantung perasaan Roy?" Haidar merasa tidak terima kalau sahabatnya itu digantung perasaannya meskipun itu oleh adiknya sendiri. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu untuk menolong sahabatnya itu.


"Bukan di gantung Kak, mereka pacaran kok. Cuma adikmu belum siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Ibu ga tahu apa yang membuat Helsa ragu, Iya kalau dipikir-pikir usia Helsa juga sudah cukup dewasa untuk menikah." tutur Halimah.


"Biarkan mereka mengurus masalah mereka sendiri. Ayah harap kamu ga ikut campur Dar, mereka juga sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalahnya." ujar Deon seperti tahu apa yang sedang dipikirkan dan direncanakan putranya itu.


Sementara Helsa datang dengan pakaian yang sudah rapi.


"Ayah, Ibu, adek pamit dulu mau ketemu temen, udah janji dari kemarin. Nanti malam Adek ada jadwal operasi, jadi ga usah ditungguin. Kalau selesainya kemalaman nanti Adek tidur dirumah sakit aja." ucapnya sambil menyalami Halimah dan Deon bergantian.


"Helsa pamit ya Kakak ipar." ucapnya pada Kalycha tapi tidak ada sapaan pamit pada Haidar kakaknya.


"Semakin dewasa kelakuan kamu semakin ga sopan ya dek?" ucap Haidar membuat langkah Helsa terhenti.


"Helsa pamit Kak–." sahutnya tanpa melihat kearah Haidar.


Haidar ingin mengejar Helsa tapi tangannya ditahan oleh Kalycha. "Mas–, biarin Kak Helsa sendiri dulu. Mungkin dia punya alasan sendiri kenapa dia bertindak seperti itu." bujuk Kalycha.


"Kenapa jadi istri kamu yang lebih dewasa berpikir dibandingin kamu Kak?" sindir Halimah.


"Bukan begitu Bu, kalau dibiarin nanti dia–." belum selesai dia omongannya, Deon sudah memotongnya lebih dulu.


"Dia ga akan apa-apa Dar, dia putri Ayah dan Ayah yakin dia bisa menyelesaikan masalahnya. Itu masalah perasaan. Kayak kamu ga pernah patah hati aja. Kalau Ayah lihat malah lebih parah kamu dulu. Inget ga Bu waktu dia ditinggal nikah pacarnya siapa namanya?" Deon mencoba mengingat-ingat nama mantan pacar putranya itu.


"Inez–." sahut Halimah.


"Iya Inez, waktu itu kamu mogok makanlah, minum-minuman setan lah, merokok lah. Terus pulang-pulang langsung ngurung diri dikamar. Begitu terus, sampai hampir 6 bulan. Kuliah hampir berantakan kalau ga di ingatkan akan ada penghapusan beasiswa untuk siswa yang mengalami penurunan nilai mungkin kamu ga akan dasar-dasar waktu itu."


"Si adek, lebih dewasa dari kamu. Jadi biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri dan mengambil keputusan sendiri untuk masa depannya." tegas Deon.


Sementara Kalycha yang baru mendengar kisah percintaan suaminya itu sedang menahan gemuruh dihatinya.


"Bener mas sampai segitunya?" bisik Kalycha seperti nada mengejek padahal ada rasa kesal juga mendengar kata mantan. Karena sejauh ini dia tidak memiliki yang namanya mantan.


"Parahan kamu lah Yang, sampe ngehalu." balas Haidar berbisik ditelinga istrinya itu.


"Iiiiihhh–, awas yah aku ga kasih jatah 5 tahun." balas Kalycha berbisik sambil mencubit perut Haidar.


"Kalian itu kalau mau mesra-mesraan dikamar sana–." ucap Halimah membuat keduanya terkejut tak sadar kalau Halimah selalu memperhatikan tingkah mereka.


"Mau isi bensin dulu Bu, sebelum lanjut tempur." jawab anak yang tak berfilter itu. Sepertinya setelah menikah lagi Haidar tidak malu-malu lagi mengumbar kemesraan dengan Kalycha didepan kedua orangtuanya. Berbeda saat dulu pertama kali mereka menikah, Haidar masih malu-malu karena saat itu mereka belum tahu perasaan mereka masing-masing.


Halimah dan Deon hanya tersenyum melihat pasangan baru itu.

__ADS_1


💖


💖


💖


💖


💖


Sementara ditempat lain disalah satu kawasan Apartemen mewah di tengah kota. Seorang wanita sedang berdiri didepan pintu salah satu unit apartemen itu sedang menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.


"Helsa? Ngapain kesini?" tanya Roy ketika membuka pintu dan melihat Helsa tengah berdiri didepannya.


"Ga disuruh masuk dulu nih?" tanya Helsa ketus.


Roy menurunkan tangannya yang menghadang pintu dan mempersilahkan gadis pujaannya itu masuk, meskipun masih ada rasa kesal dihatinya. Helsa langsung menjatuhkan tubuhnya duduk disofa yang ada diruangan apartemen Roy itu.


"Oh ya, mau minum apa?"


"Gampanglah nanti Elsa bisa ngambil sendiri kalau Elsa haus." jawabnya masih mode on kesal mengingat Kakaknya Haidar menyalahkannya tadi.


Roy duduk disampingnya disofa yang berbeda, tidak ingin bertanya karena ia melihat wajah Helsa yang kesal.


"Kak Roy, udah masak nih mie-nya, katanya laper." seseorang dari datang dari arah dapur.


Helsa terperanjak kaget dan langsung berdiri melihat kearah gadis itu. Gadis yang terlihat cantik dan seksi sedang berdiri menatapnya sambil memegang semangkuk mie instan ditangannya.


"Kak Roy, siapa dia?" tanya Helsa tak percaya kalau ada wanita lain di apartemen kekasihnya itu. Pikirannya langsung melanglang buana. Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya. Hatinya terbakar kecewa, perasaan sakit yang dulu pernah dirasakannya kini seakan terulang kembali.


"Ternyata Kak Roy udah punya cewek lain? Jadi selama ini aku dianggap apa sama kak Roy? Cadangan? Atau selingkuhan?" Helsa meraih tasnya dari atas meja dan berjalan keluar meninggalkan Apartemen kekasihnya itu.


"Sa, Elsa–." panggil Roy tapi Helsa terus saja berjalan kearah pintu. "Sa dengar dulu, kamu–." belum selesai mengucapkan kata-katanya Helsa sudah menghilang dibalik pintu.


"Tuh kan dia ga ngejar aku. Dia cuma pura-pura suka sama aku. Selama ini dia cuma kasihan sama aku, ga benar-benar cinta sama aku. Semua cowok itu sama. Semuanya Brengsek–!!!" Helsa menangis sambil duduk di salah satu halte bis dekat Apartemen kekasihnya itu. Untungnya tidak ada orang disana kalau ada mana mungkin dia menangis sambil teriak-teriak seperti itu.


"Dulu aku diselingkuhin begitu, sekarang juga sama. Kak Roy jahat–, Brengsek–!!!" Helsa masih saja menangis meraung-raung.


Dan kembali dilihatnya Roy turun dari mobil gadis itu dan melambaikan tangannya. Roy berjalan kearahnya dengan cepat dia mencari aplikasi taksi online diponselnya lalu memesannya.


"Kamu masih disini Sa?" tanya Roy tapi Helsa diam saja malah duduk membelakangi pria itu. Lalu menghapus airmatanya. Gengsi rasanya jika pria itu tahu kalau dia menangis karenanya.


"Kamu marah liat cewek tadi ada diapartemen kakak?"


"Aku ga peduli." teriaknya dalam hati.


"Sa, kamu salah paham."


"Hah–, Salah paham? Jelas-jelas aku lihat sendiri ada cewek di apartemennya, masih dibilang aku salah paham?"


"Dia itu Oviyana sepupu aku Sa. Tadi dia datang mengambil barang yang pernah dititipnya minta aku belikan." jelas Roy, tapi Helsa hanya diam saja.


Pesanan taksi onlinenya pun tiba. Ketika Helsa beranjak dari duduknya Roy langsung menahannya. Dan meminta maaf pada supir taksi itu setelah memberinya 2 lembar uang pecahan seratus ribu sebagai ganti rugi.


Setelah taksi itu pergi Roy menarik tangan Helsa membawanya pergi meninggalkan Halte itu.


"Kak Roy apa-apaan sih. Aku mau pulang–." Helsa berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Roy tapi tidak berhasil.


"Kak Roy, aku mau pulang–." Roy seperti orang tuli dia terus saja menarik tangan Helsa membawa gadis itu kembali ke apartemennya.

__ADS_1


Helsa pun terpaksa mengikuti pria itu karena genggaman tangan Roy sangat kuat sehingga membuat pergelangan tangannya sakit kalau dirinya terus melawan.


"Kamu duduk dulu." Roy mendudukkan Helsa disofa.


"Mau minum apa?" gadis itu tidak menjawab dia memilih untuk diam saja, Helsa mengelus pergelangan tangannya yang terlihat merah dan perih.


Roy kembali dengan dua buah minuman dengan kemasan kaleng dan sebuah ice bag untuk mengompres pergelangan tangan Helsa yang sakit.


Roy menarik tangan Helsa dengan paksa karena wanita itu bersikeras tidak ingin di kompres.


"Bisa ga sih kamu nurut sekali aja." ucapnya sambil meletakkan ice bag diatas pergelangan tangannya.


Helsa tidak lagi melawan, ia membiarkan Roy mengompres tangannya. Melihat wanita itu masih saja diam akhirnya Roy mencoba bicara pada gadis itu dari hati ke hati.


"Kenapa kamu marah liat Yana ada disini tadi?"


"Iiih, kenapa harus bahas itu lagi sih. Buat aku malu aja."


"Enggak, aku ga marah–." sahutnya ketus. Ia terpaksa berbohong mempertahankan gengsinya untuk mengakui rasa bersalah dan cemburunya.


"Kalau ga marah kenapa kamu harus pergi?"


"Terus kenapa tadi Kak Roy juga pergi dari rumah?" bukan menjawab pertanyaan dari kekasihnya itu Helsa malah balik bertanya.


"Ngapain juga aku bertahan ada disana, kalau wanita yang aku anggap pacar saja tidak mengakui aku sebagai pacarnya."


Deg.


"Jadi beneran tadi Kak Roy marah karena itu. Bukan karena ditelpon Om Pram?"


"Aku–." Helsa tak dapat meneruskan ucapannya. Rasa gengsi untuk mengakui kesalahannya saat tinggi, begitulah sifatnya yang manja dan selalu minta perhatian lebih pada orang-orang yang sudah dianggapnya dekat dengannya, sangat berbeda jika dirinya sedang dalam lingkungan kerja yang terlihat sangat profesional.


"Sekarang kakak tanya sama kamu, Kakak ini siapanya kamu sih? Dan seberapa berartinya Kakak untuk kamu?" tanya Roy tapi Helsa masih diam, bibirnya seakan terkunci tidak mampu menjawab pertanyaan pria yang kini duduk didepannya itu.


"Lihat Kakak, Sa–." Roy menaikkan dagu gadis itu lalu Helsa pun menatapnya sebentar kemudian menundukkan kepalanya lagi.


"Kak Roy pacarnya Helsa." jawabnya pelan, Roy dapat mendengarnya tapi dia sengaja pura-pura tidak mendengarnya.


"Apa Sa? Kamu bilang apa? Kak Roy ga dengar kamu bilang apa barusan–."


Helsa mengangkat wajahnya lalu menatap mata pria yang baru saja membuatnya menangis. "Kak Roy PACARnya Helsa."


"Cuma pacar?" goda Roy lagi.


"Segitu dulu lah–." sahutnya ketus.


Roy menarik tangan Helsa lalu memeluknya. Tak tahan rasanya melihat gadis itu menangis di halte tadi.


"Maaf ya, tadi Kak Roy udah buat kamu nangis, dan buat tangan kamu sakit. Makasih karena kamu udah datang jauh-jauh kesini untuk menemui Kakak."


"Helsa juga minta maaf karena tadi ga ngakuin Kakak pacar Elsa didepan Kak Haidar. Elsa masih malu sama Kak Haidar karena Elsa pacaran sama sahabatnya sendiri." jelas Helsa lalu melepaskan pelukannya. Padahal tak ada maksud lain saat dia mengatakan kalau dia Jomblo hanya bercanda saja dengan Kakaknya ga tahu kalau pacarnya itu ternyata sangat sensitif.


"Iya, tapi boleh ya kakak bawa orangtua kakak melamar kamu?" tanya Roy dengan hati-hati sekali takut kalau wanita itu akan kembali marah padanya.


"Tapi Elsa maunya kakak melamar Elsa dulu, kayak orang-orang melamar kekasihnya dengan lamaran yang romantis." gumam Helsa pelan tapi Roy masih dapat mendengarnya dengan jelas.


"Apa Sa?" tanya Roy pura-pura ga dengar.


"Elsa laper pengen makan." ucapnya dengan suara lantang. Roy pun tertawa melihat tingkah kekasihnya itu.

__ADS_1


"Itupun ga peka! Masih pura-pura ga dengar juga. Ngeselin–"


Like, Comet nd Vote 🤗


__ADS_2