My Soulmate

My Soulmate
Ga mau Gagal Lagi


__ADS_3

Haidar tampak uring-uringan pasalnya saat dirinya sedang Mode On ingin melampiaskan rasa rindunya kepada istrinya akhirnya tertunda saat mendengar suara ketukan dipintu kamarnya.


Tok...Tok...Tok...


"Siapa sih ganggu aja–." Haidar menghentikan aktivitasnya yang hampir melucuti semua pakaian Kalycha.


"Di buka dulu mas–." Kalycha merapikan pakaian yang hampir terbuka itu. Haidar mengusap wajahnya dengan kasar, perhelatannya dengan istrinya itu akhirnya harus ditunda dulu.


Ia berjalan membuka pintu kamarnya dan terlihat Halimah sedang berdiri dengan netra yang menatap tajam kepada putranya.


"Ibu ada apa lagi? Haidar capek mau tidur." gerutu Haidar saat tahu kalau Ibunyalah yang mengganggu pertempuran ranjangnya dengan sang istri yang sudah lama terpisah dengannya.


"Capek mau tidur? Cih, bilang aja kamu mau nidurin Icha–." ejek Halimah.


"Apaan sih Bu." Haidar memijit bagian tengkuknya yang terasa tegang.


"Ibu tuh tau isi otak kamu itu apa. Lagian terlihat jelas kok kalau kamu pengen makan abis bini kamu itu."


"Mana ada Bu–, Haidar memang capek pengen tidur."


"Terus ini apa?" Halimah mencomot bibir Haidar yang belepotan lipstik Kalycha. Karena Kalycha belum sempat menghapus make up yang dipakainya Haidar sudah mengungkungnya.


Kalycha hanya tertunduk malu, melihat perdebatan Ibu mertuanya itu dengan suaminya. Apalagi Ibu mertuanya tahu kalau mereka baru selesai berciuman.


"Hehe, Ibu kayak ga ngerti aja sih. Pura-pura nggak liat aja napa?"


"Ga bisa–!" seru Halimah langsung menerobos masuk ke kamar putranya itu. "Ibu mau minta Icha tidur dikamar Helsa saja. Ibu masih belum nyaman kalau kalian langsung sekamar begini." Halimah merasa ada yang mengganjal dihatinya, seperti perasaan kurang puas dengan keputusan yang diambil keluarga besannya.


"Ibu tuh kenapa lagi sih Bu? Tadi kan udah sepakat kalau hubungan Haidar dan Icha masih resmi suami-istri yang sah." Haidar sangat tahu kegelisahan Halimah Ibunya hanya dengan melihat dari mimik wajah ibunya itu.


"Iya tapi tetap Ibu ga tenang. Besok kita ketemu ustadz dulu atau orang yang pemahaman agamanya lebih tinggi dari kita." sahut Halimah sambil mengulurkan tangannya membantu Kalycha untuk turun dari tempat tidur anaknya itu.


Haidar tak dapat membantah lagi ucapan Ibu negara. Dengan berat hati Haidar akhirnya membiarkan Kalycha dibawa Halimah keluar dari kamarnya.


Halimah menggenggam tangan Kalycha keluar dari kamar Haidar. Kalycha tahu kalau suaminya sedang kesal pada Ibunya. Tapi karena perintah turun dari Ibu negara maka suaminya tidak dapat membantahnya.


"Karena ini sudah malam, Daddy dan Bunda kamu juga sudah pulang, sebaiknya kamu tidur dikamar Helsa dulu ya sayang." Halimah menepuk punggung tangan Kalycha pelan.


"Iya Bu–." Icha hanya tertunduk malu tak berani menatap langsung netra mertuanya.


"Ibu tahu ada kekecewaan dihati kalian tapi Ibu nggak mau kalian memulai hubungan kalian kembali dengan dosa sayang." lirih Halimah.


"Icha paham maksud Ibu. Nanti Icha kasih pengertian sama mas Hai ya Bu." Halimah tersenyum bangga melihat Kalycha, sekarang menantunya itu sudah lebih dewasa dalam berpikir dan menentukan sikap. "Sekarang Ibu juga sebaiknya istirahat, katanya besok mau ketemu ustadz."


Halimah pun tak membantah lagi, keinginan menantunya itu sudah seperti perintah untuknya. Halimah meminta Kalycha untuk masuk lebih dulu ke kamar Helsa putrinya yang kini sudah menjadi dokter spesialis anastesi. Malam itu Helsa sedang ada jadwal operasi dirumah sakit dan kemungkinan putrinya, malam itu tidak akan pulang kerumah.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Setelah perundingan keluarganya tadi malam sudah mendapat kesempatan dan akhirnya mengatakan kalau Kalycha dan Haidar masih dinyatakan sebagai pasangan suami-istri, karena mereka memang belum ada kata bercerai. Namun Halimah yang merasa kurang nyaman akhirnya mengajak anak dan menantunya itu untuk bertemu langsung dengan orang yang lebih memahami tentang ajaran agama.


Pasutri itu pun dengan nurut mengikuti keinginan Ibunya itu, tentu saja setelah mendapat persetujuan dari suaminya. Begitu juga dengan Kalycha yang sudah menelpon Daddy dan Bundanya.


Setelah sampai dirumah ustadz yang dikenal Halimah sebagai ustadz yang sering berdakwah itu mereka pun disambut dengan baik.


Halimah langsung menyampaikan maksud tujuan mereka datang menemui ustadz itu dan menceritakan kejadian yang menimpa rumah tangga putranya.


Kemudian Pak Ustadz memberikan pengarahan dan penjelasan supaya sebaiknya mereka memang harus menikah lagi karena sudah terlalu lama mereka terpisah dan secara logikanya meskipun mereka belum bercerai tetapi kenyataan yang selama ini mereka yakini adalah Kalycha dengan statusnya yang janda yang sudah bercerai mati oleh suaminya.


"Cerai mati dapat diartikan sebagai putusnya perkawinan karena salah satu pihak suami atau istri meninggal dunia sehingga meninggalkan pasangannya. Dan selama 5 tahun ini putri ibu sudah menyakini kalau anak Ibu sudah meninggal dunia. Maka sebaiknya jika mereka ingin kembali lagi menjadi pasangan suami-istri, mereka harus dinikahkan kembali."


"Karena sesungguhnya seorang istri yang suaminya meninggal dunia, bila telah melewati masa iddah yang lamanya 4 bulan 10 hari, maka dia boleh menikah lagi dengan laki-laki lain dan itu menunjukkan bahwa si istri memang sudah bukan lagi berstatus istri almarhum. Apalagi anak Ibu baru kembali setelah 5 tahun lamanya mereka berpisah." jelas sang ustadz.


Setelah menjelaskan penjelasan pak Ustadz barulah Halimah merasa tenang. Dan kedua insan yang baru dipertemukan itu pun dapat menerima penjelasan dari Pak ustadz.


...💗💗💗...


Haidar sudah meminta Roy untuk membuat laporan kepada pihak polisi yang menyatakan bahwa Haidar masih hidup, lalu meminta kepada pihak polisi untuk mencari tahu siapa jenazah yang dikebumikan atas nama Haidar itu. Sementara Dimas di perintahkannya untuk kembali ke Palembang mencabut kembali surat kematiannya ke pihak rumah sakit yang telah membuat surat kematian atas namanya.


Pihak kepolisian metro jaya bergabung bekerjasama dengan kepolisian Palembang untuk mengusut identitas jenazah yang dianggap Haidar itu.


🔸


🔸


🔸


🔸


Siang itu Kalycha sudah selesai jaga shif pagi dan waktunya dia untuk pulang. Tapi Kalycha memutuskan untuk ke kantor Haidar membuat kejutan untuk calon suami yang pernah menjadi suaminya itu.


"Dokter Icha, kok buru-buru amat?" tanya Tiara yang datang menghampiri Kalycha diruangannya sambil memberikan ponsel milik Kalycha. "Sampe melupakan ini–."


Baru kali itu Tiara melihat Kalycha begitu senang saat jam jaga shif selesai. Bahkan biasanya Kalycha ga pernah sampai teledor ketinggalan barang seperti barusan.


"Terimakasih–." Kalycha tersenyum lalu meninggalkan Tiara yang masih bingung melihat perubahan drastis dari sikap dokter yang terkenal pintar dan disiplin itu. Biasanya Kalycha selalu pelit dengan senyumannya tapi sudah beberapa hari ini Tiara memperhatikannya ada yang berbeda dengan dokter cantik itu.


"Icha–." suara yang begitu dikenalnya terdengar datang dari arah belakangnya.


"Alvin, ngapain lo disini?" Kalycha merasa heran Alvin seperti tidak ada kapok-kapoknya untuk mengejar cintanya terus.


"Makan siang bareng yuk–." ajak Alvin dengan senyum semangat 45.


"Gue udah makan Vin–." tolak Kalycha.


"Kalau gitu temenin gue makan." Alvin tak mau mengalah dan terus mendesak Kalycha untuk mau pergi bersamanya.


"Kali ini gue ga mau gagal lagi Cha–." Batin Alvin.


"Gimana lagi cara gue nolak nih anak. Tapi kalau ga dituruti pasti dia merengek terus dan nggak mau pergi." Batin Kalycha.

__ADS_1


"Ya udah aku temenin kamu makan. Tapi dengan syarat aku bawa mobil sendiri kalau ga mau ya udah kamu makan sendiri aja." Avin berpikir sejenak.


"Oke. Oke."


"Lebih baik turuti kemauannya aja. Dari pada nanti dia ga mau makan bareng gue." Alvin mengalah dan mengikuti keinginan Kalycha.


Kalycha mengikuti mobil Alvin dari belakang. Alvin memilih restoran Italia kesukaan Kalycha. Setelah memarkirkan mobil mereka masing-masing, Alvin pun mengajak Kalycha untuk masuk dan memesan makanan.


"Aku udah makan Vin, beneran tadi di kantin Rumah Sakit." Kalycha menolak saat Alvin menawarkan menu makanan untuk Kalycha.


"Ya sudah setidaknya kamu pesan minuman aja yah."


"Oke, teh botol aja."


"Ini bukan warung pinggir jalan Cha, mana ada teh botol." Kalycha memang sengaja membuat Alvin dongkol padanya.


"Seharusnya mereka sediain dong Vin, kan apapun makanannya minumnya teh botol."


"Yaelah, kok malah iklan sih–." Alvin semakin kesal saja melihat tingkah Kalycha yang sepertinya sengaja membuatnya kesal.


"Ya udah gue pesenin jus buah naga aja yah."


"Terserah lo lah–." Kalycha pasrah. Pikirannya selalu tertuju pada Haidar.


Setelah menunggu hampir 20 menit akhirnya pesanan Alvin datang. Tak ada pembicaraan saat mereka menunggu pelayan restoran itu membawakan hidangan makanannya. Mereka sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.


"Cha–." Alvin menatap Kalycha yang masih berkutat dengan ponselnya.


"Hmm–." Kalycha hanya berdehem.


"Cha, liat gue dong kalau gue manggil."


"Apaan sih Vin?" dengan malas Kalycha menatap Alvin juga.


Ternyata makanan Alvin sudah ludes dengan waktu yang tak sampai 5 menit.


"Cha, lebaran naga udah lewat Cha." Alvin meraih tangan Kalycha yang diletakkan diatas meja tapi dengan lembut Kalycha menolak dan melepaskan tangan Alvin. Kalycha yang sudah tahu arah pembicaraan Alvin akan mengarah kemana membuatnya bingung harus menjawab apa jika Alvin menanyakan perasaannya. "Kapan Cha–, aku boleh masuk ke dalam kehidupan pribadimu?" Alvin masih bertanya dengan nada yang tidak menyudutkan Kalycha.


"Apa sebaiknya sekarang aku jujur aja ya sama Alvin, kalau sebentar lagi aku akan menikah dengan Mas Hai?"


"Vin, maaf aku–." ucapan Kalycha terhenti saat pandangannya mengarah pintu masuk restoran itu.


"Ada apa Cha?" Alvin membalikkan badannya melihat objek yang mengalihkan perhatian Kalycha itu.


"Mas Hai, Kok sama Jenny?" Airmata Kalycha menetes saat melihat Haidar bergandengan mesra dengan Jenny wanita yang sangat membencinya itu. Dengan cepat Kalycha menghapusnya sebelum Alvin menyadarinya.


Jangan Lupa LiVonya yach Gaes (Like dan Vote) 😍


Tiada kata yang bisa menggantikan kehadiran secara fisik, namun semoga ungkapan ini bisa jadi pelengkap kehangatan keluarga yang bisa berkumpul.


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 H / 2021, Mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏


Salam dari Keluarga Besar My Soulmate 💗

__ADS_1


__ADS_2