My Soulmate

My Soulmate
Aahk, Akhirnya–


__ADS_3

Ketika Roy yang sedang asyik menggoda sahabatnya itu tidak menyadari kalau wanita yang ia ceritakan kepada sahabatnya itu sudah berdiri tepat dibelakangnya.


"Dia lagi ditoilet. Kami mah kalau mau buat mesum nanggung kalau cuma dibioskop mending langsung ke hotel aja. Haha." Panas-panas deh lo Dar. Begitulah cara Roy membuat sahabatnya itu kesal. Karena sudah lama rasanya mereka tidak saling bercanda.


Roy mematikan sambungan teleponnya. Dan ketika Roy membalikkan badannya, Roy sangat terkejut ketika wanita yang dicintainya itu berdiri dibelakangnya dengan mata yang sudah membulat besar dengan tangan yang berkacak dipinggangnya.


"Siapa yang mau buat mesum dihotel? Siapa?" tanya Helsa geram. Ingin rasanya dia menjewer telinga pria yang ada didepannya itu.


"Bercanda dek, Kakak cuma mau godain Haidar doang."


"Tapi bercanda Kakak kelewatan tahu ga? Gimana kalau Kak Haidar berpikir yang macem-macem tentang aku? Aku udah kayak wanita murahan aja kakak buat didepan Kakak aku." Helsa kesal lalu berjalan mendahului pria itu.


"Sa, ga gitu juga Sa. Kakak cuma bercanda doang. Haidar juga ga mungkinlah berpikir begitu. Lagian mana berani Kakak ngelakuin itu sama kamu Sa." Roy terus mengikuti Helsa berjalan disampingnya.


"Kok aku bisa ga liat yah dia keluar dari toilet. Hemmm. Bisa gagal nih rencanaku mau baikan sama dia."


"Dek, toko tasnya kelewatan–." Roy menunjuk salah satu Toko Tas branded yang sudah mereka lewati.


"Harus tetep berjuang untuk membujuknya. Semangat Roy" Roy menyemangati dirinya sendiri.


Helsa menghentikan langkahnya.


"Berhasil– Yes! Yes!" dalam hati Roy bersorak kegirangan.


"Aku udah ga butuh–." Lalu Helsa melanjutkan langkahnya.


Tweeweweengg weeewwweeeng...


Runtuh seketika semangat Roy yang berjuang meluluhkan hati gadis pujaan hatinya itu.


"Sayang–." panggil Roy manja, tanpa sepengetahuan Roy, Helsa yang berjalan didepannya itu tersenyum senang, hatinya sudah kegirangan kerena dipanggil sayang oleh pria HTS-annya itu (Hubungan Tanpa Status maksudnya 😊). Tapi rasa gengsinya masih tinggi untuk memaafkan pria itu.


"Beeiiibb–." Runtuh sudah pertahanan Helsa mendengar di panggil mesra oleh Pria kaku itu. Tanpa menjawab Helsa langsung membalikkan badannya berjalan kearah pria itu dan melingkarkan tangannya pada lengan Roy.


"Yuk–." ajak gadis itu.


"Kemana?" Roy menggoda gadis itu sementara hatinya bersorak kegirangan karena berhasil meluluhkan amarah gadisnya itu.


"Beli tas branded." ucap Helsa tanpa malu-malu lagi.


Roy membawa Helsa ke toko salah satu Brand ternama yang ada di mall itu.


"Cepetan Kak, keburu tokonya tutup." Helsa begitu semangat karena ingin mendapatkan tas baru. Tas yang sudah lama di idamkannya.


"Tadi aja, sok jual mahal. Hemm dasar cewek, sukanya ga jauh-jauh dari barang-barang branded gini. Jadi cowok harus tebel-tebelin isi dompet kalau kayak gini."


"Semoga, setelah nikah nanti belanjanya bisa dikurangin ya Beib." gumam Roy tapi Helsa masih dapat mendengarnya.


"Elsa ga cewek matre ya Kak–, tadi kan kakak yang nawarin mau beliin aku tas. Kalau kata Ibu, rezeki mah ga boleh ditolak." ucapnya sambil memilih-milih tas yang dia suka.


"Pinter juga dia ngeles." Batin Roy tapi ia senang melihat senyuman gadis itu.


"Kak semuanya bagus-bagus Elsa bingung mau pilih yang mana?"

__ADS_1


"Pilih aja yang kamu suka."


"Boleh yang ini ga kak?" tanyanya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Roy, membuat pria itu sedikit memundurkan kepalanya kebelakang. Tapi wanita itu seperti tak ada malu-malunya ia malah memegang kepala Roy lalu "Tapi harganya hampir 30 juta kak. Boleh ga?" bisiknya ditelinga Roy.


Wajah Roy merah seketika, karena awalnya Ros berpikir kalau gadis itu ingin menciumnya.


"Bo-boleh, kamu ambil saja yang itu." Roy gugup lalu memberikan black cardnya pada salah satu pelayan toko itu.


"Bungkus yang itu ya mbak."


"Widiiih, black card eeuuyyy, Kak Roy banyak duit ya?" godanya gadis itu sambil memainkan kedua alisnya.


"Banyak sih enggak, tapi cukuplah untuk meminang kamu nanti."


Blusshh


Wajah Helsa merona, ungkapan sederhana tapi mampu menggetarkan hatinya. Roy sangat bahagia bisa membuat gadis itu tersenyum senang.


"Udah? Ada yang mau dibeli lagi ga?" tanya Roy ketika pelayan toko itu menyerahkan paper bag yang berisi tas branded itu lalu mengembalikan black card milik Roy.


"Udah Kak. Tapi–."


"Tapi apa?" Roy melihat kearah gadis yang berjalan disampingnya itu.


krruuukk kruuuukkk.


Bunyi perut Helsa sudah menjawab pertanyaan Roy.


"Ya udah kita makan dulu ya, abis itu baru kakak antar kamu pulang."


Gadis itu mengangguk tertunduk malu-malu, berjalan disisi Roy sambil melingkarkan tangannya dilengan Roy sedangkan tangan yang satunya memegang paper bag.


Sementara ditempat lain di rumah yang mewah yang hanya ditinggali pasangan pengantin baru itu, tampak seorang pria sedang berusaha membujuk istrinya yang kesal karena kesalahannya.


"Astagfirullah Yang–, sama Ines aja ga pernah apalagi sama Jenny yang ga pernah ku anggap pacar Yang." Haidar mengelus-elus sambil memijit kaki istrinya itu.


"Udah ah, pokoknya aku bete sama Mas Hai. Bawaannya kesel aja liat muka Mas Hai, pengen marah-marah mulu. Mas Hai mendingan tidur di sofa sono. Malam ini Icha mau bobok sendiri aja."


"Yang jangan gitu dong Yang–, kasihan si Juni Yang, udah laper pengen makan Yang." rengek Haidar.


"BOMAT Ay–!!!!"


"Gue marah tapi kok malah manggil Mas Hai, Ay sih?" Kalycha merutuki kebodohannya sendiri.


Haidar tersenyum mendengar panggilan istrinya itu.


"Apa Yang? Kamu panggil apa barusan?"


"Udah mas Icha mau tidur ih." Kalycha menarik selimut yang diduduki Haidar.


"Yang– udah dong ngambeknya. Ga kasihan apa sama si Juni udah meronta-ronta kelaparan Yang–." Haidar berusaha membujuk istrinya karena kalau tidak berhasil yang kasihan adalah si Juni adik kesayangannya.


"Udah Ay–, **** aja sana!!" mata Haidar terbelalak mendengar ucapan istrinya itu.

__ADS_1


"Kamu denger istilah itu dari mana lagi sih Yang? Kemaren Tarkul sekarang **** geli mas dengernya." gerutu Haidar, lalu berdiri dari sisi tempat tidurnya. "Lain kali mas ga mau dengar kamu ngomong begitu lagi." Haidar mengambil bantal dan guling yang terletak disi kanan istrinya, memilih untuk keluar dari kamar dan tidur diruang tengah sambil menonton TV.


Ada perasaan bersalah yang hinggap dihati Kalycha saat melihat suaminya keluar dari kamarnya. Sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang membuatnya begitu kesal pada suaminya itu.


Tiba-tiba saja air matanya menetes dan seketika ia menangis sejadi-jadinya dengan sangat keras seperti anak kecil. Haidar tersentak kaget mendengar suara istrinya itu menangis. Dengan setengah berlari Haidar membuka pintu kamarnya dan melihat istrinya sudah posisi duduk sambil menyentak-nyentakkan kakinya ke kasur.


"Kamu kenapa menangis Sayang?" Hatinya pedih melihat istrinya itu menangis, Haidar langsung memeluk dan menenangkan istrinya itu.


"Ay jahat– Ay tega tinggalin aku. Aaaa...aaaa."


"Kan tadi Sayang yang minta Mas untuk tidur di Sofa?"


"Ay jahat–." tangannya tak berhenti memukul-mukul dada bidang Haidar. "Icha kan ga beneran minta mas Hai bobok di Sofa? Aaaa...aaaa..." Kalycha terus saja menangis merengek seperti anak kecil.


"Terus Sayang maunya apa?" Haidar mengusap lembut rambut Kalycha dan mengusap airmata yang mengalir di pipi wanitanya itu.


"Icha mau di peluk Ay boboknya–, mau cium ketek Ay juga." Haidar hampir tertawa mendengar rengekan manja istrinya itu. Tanpa menunggu lagi Haidar langsung melepaskan pelukannya dan berdiri dari tempat tidurnya.


"Tuh kan Ay mau pergi ninggalin Icha lagi. Aaaaa...aaaa.... Bunda Mas Hai jahat Bunda." Kalycha kembali menangis seperti anak kecil. Haidar memegang pelipisnya dan menatapnya heran.


"Sayang, Mas cuma mau ambil bantal sama guling yang tadi mas bawa ke Sofa."


"Ikuuut–." ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya kedepan.


"Ya ampun manjanya istriku ini." gumam Haidar lalu menarik tangan Kalycha.


"Icha maunya digendong Ay–." rengeknya lagi. Haidar tak habis pikir ternyata istrinya itu sangat manja. Dan baru kali ini dia melihat betapa comelnya istrinya itu kalau mode on manjanya itu sedang aktif.


"Ya udah sini naik ke punggung." Haidar membelakangi Kalycha dengan sedikit menundukkan badannya.


"Mau gendong didepan Ay–." Haidar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu menarik tangan istrinya itu dan mengalungkannya ke lehernya.


"Bisa encok nih pinggang sebelum bertempur. Tapi ga apalah demi kesejahteraan si Juni."


Kalycha merasa senang digendong suaminya itu. Haidar membawanya ke ruangan tengah lalu membawanya kembali ke kamarnya setelah mengambil bantal dan gilingnya.


"Sayang geli–." Haidar merinding ketika Kalycha menciumi leher dan tengkuknya. Lalu mendudukkan Kalycha ditempat tidur.


"Ay mau kemana?" tanyanya lagi ketika Haidar membalikkan badannya.


"Mas mau pipis Sayang. Apa mau ikut juga?" Haidar mulai kesal, ia berusaha menahan diri supaya tidak membuat istrinya itu kembali marah dan merajuk.


Tapi matanya berhasil membulat sempurna setelah melihat anggukan kepala dari istrinya itu. Mau tidak mau Haidar pun kembali menggendong Kalycha dengan posisi yang sama.


"Sayang turun dulu ya–." bujuk Haidar tapi Kalycha menggelengkan kepalanya. "Gimana mas mau pipis kalau sayang ga mau turun?"


Kalycha menaikkan tubuhnya sejajar dengan pinggang suaminya. Haidar sangat geram tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa.


Syukurnya dia sudah mengganti pakaiannya dengan piyama sehingga tidak begitu sulit untuknya membuka celananya itu.


Setelah selesai membuang seluruh cairan kemihnya ia pun kembali membawa Kalycha ketempat tidurnya.


"Sayang si Juni udah bangun lagi, boleh yah–." pinta Haidar lalu dibalas anggukan pelan oleh istrinya itu. Tanpa ba-bi-bu Haidar langsung melucuti semua pakaiannya dan juga pakaian istrinya itu.

__ADS_1


"Aaah, akhirnya si Juni makan juga."


...🔶 🔶 🔶 🔶 🔶...


__ADS_2