
Tak terasa seminggu setelah Haidar memberitahukan niatnya untuk kembali kekeluarga aslinya akhirnya hari ini terealisasi juga. Haidar bersama dengan Abas Prakasa dan Yetti Kusuma ditemani dengan kedua keponakan mereka Dimas dan Nince mendatangi kediaman keluarga Yudistira yaitu orangtua kandung Haidar.
Ting Tong Ting Tong.
Haidar menekan bell rumahnya dan tak berapa lama Bi Inah seorang ART yang bekerja di rumahnya tampak kaget ketika membuka pintu rumah dan melihat siapa yang tengah bertamu kerumah majikannya itu.
"Bu–, Bu Halimaaah." Bi Inah berteriak memanggil majikannya itu tapi pandangannya tidak lepas menatap pria yang berdiri tegak didepannya.
"Apa kabar Bi?" sapa Haidar pada Bi Inah.
"Ba-baik Den, ini beneran den Haidar?" Bi Inah ingin menyentuh wajah Haidar dengan tangannya yang gemetar tapi dihentikannya saat mendengar suara Halimah yang datang dari arah dapur.
"Ada apa Bi teriak-te–." Halimah tak melanjutkan ucapannya. Matanya terjutu memandang pria yang berdiri tepat didepan Bi Inah.
"Ayaahh, Elsaa–." kali ini Halimah yang berteriak memanggil suami dan putrinya itu.
"Ada apa sih Bu?" tanya keduanya bersamaan karena mereka juga penasaran apa yang membuat Bi Inah teriak memanggil Halimah dan sekarang Halimah pula yang berteriak memanggil mereka.
Pandangan mereka kembali tertuju pada pria yang masih berdiri di posisi yang sama saat pertama kali dia datang. Mata Halimah berkaca-kaca tak menyangka kalau yang bertamu kerumahnya adalah pria yang mirip dengan putranya.
"Ibu–."
"Tuan Haikal– silahkan masuk." Halimah mempersilahkan Haidar masuk ia begitu senang melihat sosok pria yang mirip putranya itu datang berkunjung kerumahnya. Hatinya mengatakan kalau dia adalah putranya, tapi ia tidak ingin salah mengucapkan nama sehingga menimbulkan keributan. Yang dia tahu pria itu bernama Haikal karena wanita yang pernah membawanya paksa pergi dari rumahnya beberapa waktu lalu juga ikut datang bersamanya.
Kening Haidar mengkerut, tidak menyangka kalau dia akan disambut sebagai orang lain dirumahnya sendiri. Ingin rasanya ia memeluk wanita yang dipanggilnya Ibu itu, tapi ia harus menahannya.
"Bu ini Haidar Bu, maafkan Haidar baru bisa pulang sekarang."
Haidar bersama Abas, Yetti dan juga Dimas dan Nince masuk kedalam lalu duduk diruang keluarga. Bi Inah langsung masuk kedalam menyiapkan minuman untuk tamu mereka.
"Nince, kamu ngapain disini?" Elsa menatap heran pada dokter Nince yang tak lain adalah teman kuliahnya dulu.
"Elsa, jadi kamu–." Nince tak melanjutkan ucapannya, karena ia tak ingin mendahului Om dan Tantenya. "Jadi dia Kakak kamu yang kamu bilang meninggal karena kecelakaan itu Sa? Maafkan aku Elsa, aku ga tahu kalau dia adalah Kakak kamu."
"Hmm maksud aku ini rumah kamu sa?" tanya Nince mengalihkan perhatian Helsa.
"Kalian saling kenal?" Haidar menatap kedua wanita itu bergantian.
"Dia teman kuliahku dulu Kak–." sahut Nince.
"Ada apa Tuan Haikal dan Nyonya datang kerumah kami?" Halimah mengalihkan perhatian mereka karena dirinya penasaran dengan kedatangan tamu tak biasa itu.
"Iya, benar Nyonya dan Tuan ada apa ya ini, kemarin Nyonya sudah membawa Tuan muda ini pergi dari rumah kami kenapa Nyonya membawanya kembali kesini?" tanya Deon yang juga merasa heran. Sebenarnya bukan hanya Halimah dan Deon tapi seisi rumah mereka juga merasakan yang sama.
"Begini Bu, Pak. Maaf saya panggil Ibu dan Bapak saja ya, karena tak nyaman rasanya dipanggil Tuan dan Nyonya karena ini bukan acara formal." Abas memulai pembicaraan mereka. "Sebelumnya perkenalkan saya Abas Prakasa dan ini istri saya Yetti Kusuma yang mungkin Bapak dan Ibu sebelumnya sudah bertemu dengan istri saya." ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kami datang kemari ingin minta maaf atas kejadian yang membuat keluarga Bapak Ibu menjadi tidak nyaman atas sikap dan tindakan istri saya beberapa hari lalu." lanjut Abas.
"Kalau kedatangan Bapak dan Ibu jauh-jauh ke rumah kami ini hanya untuk membahas masalah itu, rasanya tidak perlu Pak, karena kami sudah memaafkan dan melupakannya. Mungkin menantu saya saat itu sedang bingung makanya dia membawa anak Bapak kerumah kami, mengira kalau anak Bapak ini adalah suaminya." Airmata Halimah kembali menetes membayangkan betapa kecewanya Kalycha waktu itu.
"Maafkan kami Bu, justru kedatangan kami kali ini untuk meluruskan masalah itu. Sebenarnya dia ini benar-benar anak kandung Ibu yang bernama Haidar." Yetti yang dari tadi diam saja akhirnya mengeluarkan suaranya. Tangannya digenggam erat oleh Abas seperti memberi kekuatan kepada istrinya itu.
Jedeeeerrrr.
Deon, Halimah, dan Helsa sangat terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar. Tangan Bi Inah yang sedang membawa nampan yang berisi minuman dan beberapa cemilan hampir terlepas jatuh dari tangannya.
"Ma-maksud Ibu apa?" Suara Halimah bergetar, masih tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
"Bu, Ayah, dek. Ini aku Haidar. Maafkan Haidar Bu, baru bisa pulang sekarang. Karena setelah mengalami kecelakaan itu Haidar hilang ingatan. Maafkan Haidar Bu." Haidar berdiri lalu memeluk wanita yang begitu dirindukannya itu.
"LEPASKAN PELUKAN KAMU DARI ISTRI SAYA!!!" bentak Deon saat melihat Haidar memeluk istrinya. Abas, Yetti, Dimas dan Nince sangat terkejut mendengar teriakan Deon.
"Ayah masih sama, masih aja cemburu kalau Ibu aku peluk." Deon yang mendengarnya langsung menarik Haidar dan memeluknya.
"Haidar, kamu benar-benar Haidar?" Dengan rasa tak percaya Deon memeluk tubuh putranya itu. Ia menangis dan menghujani ciuman di wajah Haidar bertubi-tubi. Dia sengaja membentak Haidar untuk memastikan kalau pria itu benar-benar putranya. "Kamu benar-benar anak Ayah. Karena cuma kamu pria yang berani memeluk wanita Ayah."
Seisi ruangan itu tertawa melihat kekonyolan Deon, bercampur dengan rasa haru dan bahagia.
Haidar menceritakan semua kejadian yang dialaminya setelah kecelakaan itu, bagaimana dia ditolong oleh Abas dan akhirnya menjadi putra dari keluarga konglomerat itu.
"Katakanlah Bu, apa yang Ibu inginkan?"
"Kalau Ibu berkenan, ijinkan saya untuk tetap menjadi Ibunya Haidar, boleh ya Bu?" Yetti menangis rasanya berat untuk melepaskan Haidar.
"Bu, Saya sangat berterimakasih karena Ibu dan Bapak sudah menolong putra saya, menyanyanginya layaknya putra kandung Bapak dan Ibu sendiri. Melihat anak saya masih hidup dan sehat saja sudah membuat saya bahagia Bu. Saya tidak keberatan Bu, saya malah bersyukur kalau putra saya memiliki Ibu lain. Mari kita sama-sama menjaga anak kita Bu. Dan–." ucapan Halimah kembali terjeda.
"Dan apa Bu?" semua orang menunggu ucapan Halimah selanjutnya.
"Dan kita sudah mempunyai menantu yang cantik Bu, Ibu sudah melihatnya kemarin. Maafkan menantu kita karena sudah kurang ajar sama Ibu ya Bu. Itu karena dia sangat terpukul dengan kepergian Haidar Bu." Airmata Halimah lagi-lagi mengalir deras membasahi pipinya.
"Iya Bu, saya tahu itu. Dan saya yang salah waktu itu Bu. Maafkan saya."
"Haidar–." Halimah menatap putranya itu. "Sebaiknya kamu temui Kalycha sekarang nak, sebelum terlambat."
"Maksud Ibu?" Haidar bingung mendengar ucapan Halimah yang gantung.
"Tiga hari yang lalu Kak Icha datang kesini Kak, dia pamit mau kembali ke Singapura. Setelah bertemu dengan Kakak membuatnya terus berharap kalau Kakak itu adalah suaminya. Dia masih ga tahu kalau kakak itu benar-benar Kak Haidar kan?" Helsa mengingat saat Kalycha datang kerumah mereka.
Flashback On
Malam hari saat keluarga Yudistira baru saja selesai menikmati makan malam mereka, tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan kedatangan Kalycha yang datang bersama Pramudja dan juga Nayla dan kedua anak kembar mereka.
__ADS_1
"Pak Pram, ada apa ini tumben datang malam-malam kesini?" sapa Deon sambil mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Begini Pak, kami sudah mendengar ceritanya dari Icha, sebenarnya kami penasaran apa benar pria itu sangat mirip dengan Haidar?" tanya Pram.
"Iya Pak, itu benar. Kami juga tidak percaya, tapi wajahnya benar-benar mirip Haidar. Tapi keluarganya mengatakan dia adalah Haikal pak, jadi kami juga tidak bisa berbuat apa-apa."
"Mengapa tidak melakukan tes DNA pak?" Pram benar-benar sangat penasaran.
"Istri saya tidak setuju Pak."
"Kenapa mbak ga setuju mbak?" Nayla pun ikut penasaran alasan Halimah yang tidak ingin melakukan tes DNA.
"Saya tidak ingin mengusik kehidupan orang lain Nay, Saya yakin dan sangat yakin kalau dia adalah anak saya Haidar. Tapi kita tidak punya buktinya lagi pula sepertinya wanita yang bersamanya itu orang yang sangat berpengaruh dan saya tidak ingin Haidar terluka karena itu. Wanita itu sepertinya tidak ingin kehilangan Haidar. Aku sudah mengikhlaskannya Nay. Melihatnya hidup dan sehat sudah cukup bagiku."
"Tapi bagaimana dengan Icha Bu?"
Deg.
Suara Kalycha bergetar ia menangis tak percaya kalau Ibu mertuanya akan melepaskan pria yang mirip suaminya itu begitu saja. Halimah lupa bahwa masih ada Kalycha yang membutuhkan Haidar. Halimah berpindah duduk ke samping Kalycha dan memeluk menantunya itu.
"Maafkan Ibu sayang, Ibu ga bermaksud untuk menyakiti perasaanmu. Tapi Ibu benar-benar tidak ingin mengusik ketenangannya sayang. Karena Helsa juga sempat menemui pria itu ke kantornya dan dia menolak untuk melakukan tes DNA sayang. Maafkan Ibu ya Cha. Kalau dia memang benar-benar Haidar dan Haidar benar-benar jodohmu, Tuhan pasti akan kembali mempertemukan kalian dengan caranya sendiri sayang." Halimah melepaskan pelukannya lalu mengusap airmata yang menetes dipipi Kalycha.
"Yang dikatakan Ibu benar Kak, aku sudah ke kantornya tapi dia menolak untuk melakukan tes DNA dan kita tidak bisa memaksanya Kak." Helsa ikut menimpali ucapan Ibunya.
"Begini mbak–." Nayla kembali membuka bicara. "Kami datang kemari memang untuk memastikan apa pria itu benar-benar Haidar atau bukan, tapi jika sekiranya dari keluarga mbak juga ragu maka dengan terpaksa Icha akan kembali ke Singapura mbak, karena kami takut Icha kembali depresi karena berharap pada pria yang bukan suaminya itu."
"Kenapa begitu tiba-tiba Cha?" tanya Halimah yang seperti tak rela bila Kalycha kembali lagi ke Singapura.
"Bu, Belakang ini kepala Icha sering sakit Bu. Dua hari yang lalu Icha melihat pria itu berada dirumah sakit tempat Icha kerja Bu, tapi saat Icha mendatangi dimana tempat pria itu berdiri pria itu ga ada Bu. Icha takut Bu, Icha takut kembali berhalusinasi mas Hai datang untuk Icha Bu."
Setelah mendengar penuturan dari Kalycha menantunya, Halimah pun tak dapat berbuat apa-apa untuk menghentikan keinginan Kalycha untuk kembali ke Singapura.
Flashback off
"Sesakit itu kamu Cha? Sesakit itukah kamu ku tinggalkan. Maafkan aku Sayang aku akan menjemputmu. Mulai sekarang kita akan bersama-sama lagi. Tunggu aku Cha."
Like... Like... Like...
Bentar lagi Lebaran, udah berapa macam kue yang kalian punya? 😊 Udah mulai Anyam ketupat belum?
Kalau Author 🤔
Belum ada 🤭
Wkwkwwk 😂😂😂
__ADS_1