
Disiang yang cerah itu seorang pria tampan sedang duduk di bangku di halaman rumah yang indah dan luas itu. Menikmati suguhan segelas jus melon yang menyegarkan tenggorokannya dari teriknya panas matahari.
"Sudah lama Kak?" Kalycha yang baru saja turun dari kamarnya yang berada dilantai dua datang mendekati mantan asisten suaminya, yang sedang duduk ditaman belakang rumahnya.
"Lumayanlah." Roy meletakkan gelas jus yang ada ditangannya. Lalu melihat Kalycha yang duduk disebelahnya.
"Apa kakak sudah menemukan apa yang Icha minta Kak?" tanya Kalycha langsung ke inti pembicaraan mereka.
Flashback On
Tepat setelah ia pulang dari makam suaminya minggu lalu, Kalycha langsung meminta Roy untuk menemuinya disebuah cafe dan memintanya menyelidiki siapa sebenarnya pria yang tak sengaja ditemuinya direstoran waktu itu.
"Apa Cha? Wajahnya mirip siapa?" Roy tampak tak percaya dengan apa yang baru saja Kalycha ceritakan padanya.
"Kak aku tahu kakak pasti ga akan percaya kalau Kakak belum bertemu atau melihatnya langsung. Tapi wajahnya benar-benar mirip sama Mas Haidar kak."
"Cha, kamu serius Cha?" Roy masih mengulang pertanyaannya dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan istri sahabatnya itu, dirinya takut Kalycha kembali berhalusinasi.
"Kak Roy, kalau Kakak ga percaya sama Icha kakak boleh meminta rekaman CCTV yang ada di Restoran xx Kak." Kalycha menceritakan kembali bagaimana pertemuan dengan pria yang wajahnya mirip sekali dengan wajah suaminya.
"Kamu ga sedang berhalusinasi kan Cha?"
"Kak Roy, Icha udah sembuh Kak. Kakak percaya ya sama Icha."
Roy memang bukan tipe orang yang mudah percaya dengan orang lain. Tapi untuk memastikan kalau Kalycha tidak berhalusinasi dirinya pun meminta orang kepercayaannya untuk mengecek kebenaran yang baru saja didengarnya.
Tak selang lama dirinya menerima salinan video dari Restoran itu. Roy hampir menjatuhkan ponselnya ia tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Wajahnya pucat pasih, tangan dan seluruh tubuhnya bergetar. Wajah pria itu benar-benar mirip dengan wajah Haidar sahabatnya, pria yang pernah menjadi atasannya itu.
"Sekarang Kakak sudah percaya kan sama Icha? Kalau Icha ga berhalusinasi?" Kalycha melipat kedua tangannya didadanya, menyilangkan kakinya yang satu kekakinya yang lain.
"Maafkan Kakak, Cha." Kalycha hanya menganggukkan kepalanya.
Flashback Off
Kalycha dan Roy menjadi dekat setelah Roy mengantarkan Kalycha dan Oma Milah ke Singapura. Disana Roy banyak membantunya untuk kesembuhannya.
Roy menyerahkan amplop besar berwarna putih itu kepada Kalycha. Dengan cepat Kalycha membuka amplop itu dan mengeluarkan lembaran kertas dari dalamnya. Kalycha membaca data pribadi dari pria yang dicarinya itu.
Nama : Haikal Halim Prakasa
__ADS_1
Kelahiran : Palembang, --/--/----
Status Pernikahan : Single
Pekerjaan : CEO PT Prakasa Saint cabang dari PT Prakasa Group.
Anak tunggal dari Pasangan Abas Prakasa dan Yetti Kusuma.
Setelah membaca data singkat dari pria itu airmatanya pun kembali menetes. Tangannya bergetar lembaran kertas yang berisi informasi tentang pria yang dicarinya itupun lolos dari tangannya dan terjatuh kelantai.
"Dia bukan Mas Hai? Kelahirannya berbeda. Aku dan Mas Hai terpaut beda usia 9 tahun sementara ini hanya beda 5 tahun. Apa yang sebenarnya ku harapkan darinya."
"Cha–." Roy memegang bahu Kalycha lalu memungut lembaran yang terjatuh kelantai. la tahu kalau Kalycha begitu kecewa dengan informasi yang baru saja dibacanya. "Kakak tahu bagaimana perasaanmu sekarang Cha. Tadinya kakak juga berharap kalau pria itu benar-benar Haidar. Tapi dia bukan Haidar Cha. Hanya wajahnya saja yang mirip tapi dia bukan Haidar. Kuatkan hatimu Cha, Kakak ga mau kamu jatuh sakit lagi." tutur Roy yang sangat khawatir dengan kesehatan Kalycha.
"Tapi bagaimana mungkin dia juga memiliki suara yang sama seperti Mas Hai, Kak?" Pandangan Kalycha lurus kedepan menatap langit yang cerah awan-awan berkumpul seperti mengejeknya. Airmatanya kembali membasahi pipinya.
"Kakak juga tidak tahu Cha, Kakak belum pernah bertemu langsung dengannya."
"Apa dia tidak pernah menghubungi Ibu atau Helsa?" Kalycha masih berharap kalau Haikal itu adalah Haidar suaminya. Ia menatap kepada Roy seakan meminta jawaban yang tidak akan mengecewakannya. Tapi Roy bukanlah Tuhan, dirinya hanya manusia biasa. Entahlah dia pun tak tahu apa sebenarnya yang Tuhan rencanakan saat itu kepada mereka.
"Tidak pernah sama sekali Cha, Kakak sudah memastikannya langsung."
Sehari sebelum Roy datang menemui Kalycha dirinya juga sudah memastikan kepada keluarga Haidar kalau mereka belum pernah bertemu sama sekali dengan orang yang mirip dengan Haidar itu.
"Tidak sama sekali Cha, Kakak senang bisa membantumu dan Kakak juga tadinya berharap dia adalah Haidar." Roy menundukkan kepalanya.
Sejak mengetahui kalau hanya dirinyalah yang selamat Roy selalu merasa bersalah dan selalu dihantui mimpi buruk tentang kejadian kecelakaan itu. Hampir setiap malam dia mengalami mimpi buruk. Jika malam tiba maka dirinya akan kesulitan tidur. Sudah lima tahun terakhir ini dirinya tidak pernah tidur dengan nyenyak.
...💎💎💎...
Disebuah Rumah Sakit ternama Haikal sedang menjalani Hipnoterapi ditemani Dimas asistennya.
Haikal dan Dimas mengatur jadwal dengan dokter spesialis bedah saraf Endra Gunawan. Mereka sengaja mengatur pertemuannya dimalam hari agar tidak banyak yang mengetahui tentang penyakitnya. Mereka ingin menghindari dari orang-orang yang sibuk mencari berita dengan menekan kelemahannya dari pesaing bisnisnya.
"Silahkan masuk Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Dokter Endra mempersilahkan Haikal dan Dimas duduk didepannya dengan pembatas meja kerja yang didepannya.
"Seperti yang sudah saya ceritakan tadi dok, beliau adalah atasan saya yang menderita penyakit amnesia dok." Dimas mengarahkan tangannya pada Haikal.
"Bagaimana anda tahu kalau anda menderita amnesia?" dokter itu menatap langsung kepada Haidar sambil memutar-mutar pena yang ada ditangannya.
__ADS_1
Melihat sikap dokter Endra yang cuek membuat Haikal ingin mengurungkan niatnya. Tapi saat dirinya menatap kearah Dimas sorot mata Dimas mengatakan kalau dia harus mencobanya dan menahan egonya.
"Sebelum saya menjawab pertanyaan dokter, saya boleh meminta pada dokter untuk merahasiakan apa saja yang akan dokter dengar dan dokter lihat dari saya? Dan jika berita tentang saya bocor ke publik maka nyawa dokter yang akan menjadi taruhannya." Haikal ingin memastikan kalau semua tindakan yang dilakukannnya, kerahasiaannya akan terjaga dengan aman. Dokter Endra pun menghentikan aktivitasnya dan menatap tajam pada Haikal.
"Tentu." jawabnya mantap dengan tatapan sinis sambil menyandarkan tubuhnya dibangku kebesarannya itu. "Maka dari itu saya setuju bertemu dengan anda malam hari ini. Meskipun konsekuensi yang akan saya terima itu tidak masuk akal." Lalu dokter itu menegakkan tubuhnya, menautkan jari-jarinya dan meletakkannya diatas meja menjadikan siku tangannya sebagai tumpuannya dan meletakkan dagunya diatasnya. "Bagaimana mungkin anda berani mengancam seorang dokter?" dokter Endar menunjuk Haikal dengan pena yang dimainkannya tadi.
Pria paruh baya itu tidak pernah merasa takut dengan siapapun karena yang ditakutinya hanyalah Tuhannya sang pemberi nafas kehidupan.
"Baiklah kalau dokter setuju, dan saya juga tidak bermaksud untuk mengancam dokter, saya hanya ingin memastikan agar reputasi saya tidak tercemar dimata publik dan rahasia ini harus tetap terjaga bahkan dari orangtua saya." Haikal melihat dokter Endra menganggukkan kepalanya. "Terimakasih atas kesediaan dokter untuk mendengarkan apa yang akan saya sampaikan." Dokter Endra kembali menganggukkan kepalanya lalu tangannya mempersilahkan Haikal untuk bicara.
"Saya tidak ingat siapa saya sebenarnya dok, bahkan nama saya sendiri saya tidak tahu." Haikal mulai membuka pembicaraan serius dan akan menjadi rahasia diantara mereka bertiga.
"Bagaimana mungkin anda tidak tahu nama anda Tuan, sementara disini tertulis jelas nama anda Tuan Haikal Halim Prakasa." Dokter Endra memperlihatkan sebuah kartu nama yang ada diatas mejanya.
"Begini dok, nama Haikal itu saya dapatkan dari sini." Haikal melonggarkan dasinya membuka kancing kemejanya yang paling atas lalu mengeluarkan sebuah kalung dari balik kemejanya yang dipakai dilehernya.
Haikal membuka kalung itu dan memperlihatkan sebuah cincin yang terukir nama Haikal disana.
"Bukannya ini cincin kawin?" tanya dokter Endra saat menerima cincin yang diberikan Haikal kepadanya.
"Sepertinya begitu dok, tapi saya tidak tahu itu nama siapa, karena sepertinya nama saya bukan Haikal tapi saat saya sadar dari kecelakaan yang menimpa saya cincin itu tersemat dijari saya dok."
"Itu berarti Tuan sudah menikah."
"Tidak mungkin dok, usia saya masih muda dan target saya menikah saat saya sudah mapan dok."
"Bukannya Tuan itu anak konglomerat ternama? Terus kalau Tuan tidak yakin dengan nama anda sendiri lalu mengapa anda memakai nama itu?"
"Karena saya tidak mau memakai nama orang yang sudah tiada dok."
"Maksudnya?" dokter Endar merasa bingung dengan apa yang baru didengarnya.
"Begini dok–." Dimas yang sedari tadi diam akhirnya ikut bicara karena Haikal menatapnya dan memintanya untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada dokter Endar. "Sebenarnya saya keponakan dari Abas Prakasa, saya memiliki sepupu bernama Halim Prakasa yaitu putra kandung dari Om Abas, tapi sepupu saya itu sudah meninggal 7 tahun yang lalu dok. Saat itu saya dan Om Abas sedang memancing disungai dan tidak sengaja kami menemukan Haikal hanyut di sungai dan segera membawanya kerumah sakit. Tapi setelah sadar dirinya tidak mengingat apa-apa. Karena Tante Yetti istri Om Abas mengalami depresi karena kehilangan putranya. Jadi Om Abas meminta Haikal untuk berpura-pura menjadi putranya sampai istrinya sembuh dan akhirnya itu berhasil membuat Tante Yetti sadar dari depresi dan traumanya." jelas Dimas tanpa mengurangi atau menambahi cerita sebenarnya.
"Lalu bagaimana keadaan Ibumu sekarang Tuan? Apa beliau sudah tahu kalau Tuan ini bukanlah putra kandungnya?"
"Sudah dok, tapi dia meminta saya untuk tidak mencari tahu tentang masa lalu saya dok. Karena sebelumnya saya sudah pernah melakukan pengobatan hipnoterapi untuk memulihkan ingatan saya dan itu membuat Mama murka dok. Dirinya mengancam akan bunuh diri jika saya mencoba mencari masa lalu saya lagi. Itulah sebabnya saya ingin dokter merahasiakan ini dari orangtua saya. Karena saya tidak ingin melukai Mama saya dok, dirinya sudah pernah mengiris nadinya didepan mata saya sendiri."
Dokter Endra merasa kasihan kepada Haikal yang tak lain adalah Haidar. Dirinya selamat dari kecelakaan maut itu dan mendapatkan kehidupan yang baru tapi harus kehilangan kehidupannya yang sebenarnya.
__ADS_1
Aahhh Lega, akhirnya terungkap juga 🤭
Like Like Like yach Muuuaaahh 😍